Paradigma Ilmu Pengetahuan (Bagian Pertama)

Tags

Paradigma adalah sistem nilai yang menyusun sebuah pandangan terhadap sesuatu. Paradigma ilmu pengetahuan berarti sistem nilai dalam memandang ilmu pengetahuan itu sendiri. Apa yang kita pahami sebagai ilmu pengetahuan hari ini, adalah sebuah hasil dari proses rumit yang melibatkan sekian banyak gagasan yang berpadu membentuk sistem yang kompleks. Sebagai sebuah sistem, tentu paradigma tidak lahir secara instan. Akan tetapi, paradigma ilmu pengetahuan modern lahir dari beberapa hal yang melandasinya.

Tulisan ini dimaksudkan untuk meringkas proses terbentuknya paradigma ilmu pengetahuan modern dan beberapa gagasan penting yang melandasinya. Ptolomeus, seorang filsuf Yunani merumuskan konsep Geosentris. Sebuah konsep yang menyatakan bahwa Bumi adalah pusat alam semesta. Dilandasi dengan argumen bahwa matahari dan planet muncul disebelah timur dan tenggelam disebelah barat. Kesan bahwa matahari dan planet berputar mengelilingi bumi inilah dasar bahwa bumi adalah pusat alam semesta.


Gagasan ini bertahan hingga ribuan tahun dan didukung oleh gereja, pemegang otoritas kebenaran di abad pertengahan.
Hingga kemudian ditahun 1543 Nicolas Copernicus, seorang astronom merumuskan "hipotesa" tentang Heliosentris, bahwa mataharilah pusat alam semesta. Bahwa bumi beserta planet mengelilingi matahari. Penemuan Copernicus tentu sangat beresiko terhadap keselamatannya, hingga Copernicus hanya berani merilis sebuah hipotesa. Mungkin kebetulan, Copernicus meninggal ditahun yang sama dengan tahun ia merilis hipotesa yang menggegerkan dunia ilmu pengetahuan di zamannya. Sadar atau tidak, Copernicus telah membuka babak baru perkembangan ilmu pengetahuan, setelah era Thomas Aquinas yang mencoba memadukan pandangan aristotelian dengan konsepsi teologi gereja.

Johannes Keppler, seorang astronom dengan matematikanya berhasil menemukan lintasan planet yang berbentuk elips, bukan lingkaran. Sehingga Keppler mempertegas "hipotesa" Copernicus. Sementara, dengan temuan teleskop terbarunya, Galileo menemukan tentang pergerakan bintang-bintang. Galileo berpendapat bahwa, semesta ini adalah bahasa universal yang dapat dipahami dengan matematika. Galileo membatasi keilmiahan pada sesuatu yang dapat dihitung dan terukur. Sehingga hal-hal yang bersifat kualitatif seperti warna, rasa, dan bau "dijauhkan" dari ranah ilmu pengetahuan. Pilar kuantifikasi ilmu pengetahuan telah terpancang kuat oleh Galileo.


Sementara di Inggris, seorang matematikawan yakni Francis Bacon merumuskan metode ilmu empiris. Ia merumuskan prosedur induktif dengan sangat jelas. Bacon menyerang dengan tegas filsafat tradisional yang mengedepankan kearifan sebagai tujuan ilmu. Bacon dengan percobaan ilmiahnya melahirkan semangat baru dalam ilmu pengetahuan.

Semangat baru itu adalah semangat untuk menaklukkan alam. Ilmu pengetahuan kemudian diarahkan agar dapat menguasai dan mengendalikan alam. Hingga pada titik ini, perlahan ilmu pengetahuan menjadi alat bagi manusia untuk menunjukkan keserakahannya dan nantinya akan berdampak terhadap keseimbangan alam seperti saat ini.


Mungkin anda pernah mendengar kalimat "Cogito Ergo Sum" yang berarti "aku berpikir maka aku ada". Saat Descartes mendapat pencerahan dalam sebuah perenungannya ia menemukan eksistensi kediriannya.

Rene Descartes, dianggap sebagai pendiri filsafat modern. Selain itu, Descartes juga adalah seorang ahli matematika.

6 komentar

mantap artikelnya gan http://vieed.blogspot.com/2013/06/manfaat-tidur-tanpa-busana.html

Penjelasan diatas kecenderungannya ke empiris yang banyak berbicara tentang realitas alam. Dimana ilmu pengetahuan hanya dibatasi pada wilayah materi. Dibagian kedua mungkin kanda akan menjelaska paradigma ilmu pengetahuan pada wilayah non materi.
Sistem nilai, maksudnya bagaimana?

@davied makasih gan...btw,artikelnya juga menarik....sipp (y)
@ewit sebenarnya tulisan ini belum tuntas...keburu tertidur kemarin subuh....belum membahas tentang newton...nanti kompilasi pemikiran kopernikus,galileo,keppler,bacon,descartes dan newton inilah yang membentuk paradigma positivistik...dan selanjutnya rencana saya mau tulis tentang gagasan2 pokok paradigma positivistik....setelah itu baru bahas paradigma holistik...begitu dinda....cuma saya nda janji,siapa tau besok nda dapat ide menulis ya terpaksa saya endapkan dulu...

Ditunggu tulisan selanjutnya kanda,
Saya juga ingin sekali mengetahui pandangan kita tentang positifvistik untuk menambah konsep tentang positifvistik.

siapa tau ada konsep baru dinda ewit...posisufistik hehe


EmoticonEmoticon