Hari Jadi Kabupaten/Kota Se-Sulawesi Selatan

Hari Jadi sebuah daerah adalah wujud kecintaan pada daerah tersebut. Yang merupakan bagian dari kecintaan pada bangsa dan negara. Hari Jadi tersebut menjadi sebuah momen untuk kilas balik dan mengevaluasi capaian pembangunan. Serta berbagi kebahagiaan dalam perayaan tersebut. Yang pada gilirannya akan menyentuh kesadaran individu tentang apa kontribusinya bagi pembangunan daerah.

Setelah pasifikasi tahun 1905/1906, Sulawesi Selatan secara keseluruhan ditundukkan Belanda. Melalui perjanjian pendek (Korte Veklaring) penguasa-penguasa lokal dipaksa untuk mengakui kedaulatan Belanda. Sejak itu, Pemerintah Kolonial Belanda mengatur administrasi pemerintahan secara berjenjang. Dari Provinsi Groote Oost terbagi menjadi Afdeling (wilayah). Kemudian Afdeling terbagi Onder Afdeling (sebagian besar jadi kabupaten). Kemudian Onder Afdeling dibagi Distrik (kelak disebut kecamatan). Dan Distrik terbagi dari Gallarang dan Wanua yang disebut Kampong. Kelak menjadi Desa.

Setelah Pemerintah Kolonial Belanda resmi meninggalkan Indonesia pasca Konferensi Meja Bunda, tata kelola pemerintahan pun berubah. Meski tidak begitu berbeda. Namun di awal kemerdekaan, hal itu tidak praktis dapat dilakukan disebabkan kondisi yang tidak stabil akibat pemberontakan DI/TII dan Permesta.

Sehingga setelah mulai mereda, terbit SK yang mengatur tentang pembentukan Kabupaten di Sulawesi Selatan. Beberapa bekas Onder-Afdeling (Wilayah Afdeling Bone) misalnya Bone, Wajo dan Soppeng menjadi masing masing Swapraja dan menjadi Kabupaten di tahun 1957. Sedang beberapa gabungan Onder Afdeling membentuk satu Kabupaten, seperti Barru, Pinrang dan Sidrap. 

Memasuki era Reformasi, terjadi pemekaran beberapa Kabupaten. Seperti Luwu yang dimekarkan menjadi Kotif Palopo, Kabupaten Luwu, Kabupaten Luwu Utara dan Kabupaten Luwu Timur. Sedang Kabupaten Toraja dimekarkan menjadi Kabupaten Tana Toraja dan Kabupaten Toraja Utara.

Beberapa kabupaten menjadikan terbitnya SK tersebut sebagai dasar Hari Jadi Kabupaten/Kotanya. Namun beberapa Kabupaten lain melaksanakan kegiatan Seminar Hari Jadi yang mengacu pada sejarah di masa awal kerajaan. Sementara Provinsi Sulawesi Selatan sendiri mengacu pada Perjanjian Bongayya sebagai dasar Hari Jadi daerah.

Berikut ini Hari Jadi Kabupaten/Kota se-Sulawesi Selatan, diurut berdasar bulan dalam kalender.



Di zaman teknologi informasi ini, zaman dimana sekat-sekat ruang terasa nisbi. Zaman perdagangan bebas terus bergerak mencapai puncaknya. Kita dihadapkan dengan segala potensi daerah kita. Kekayaan alam dan sumber daya manusia yang melimpah. Sehingga peran semua pihak untuk menggali potensi tersebut agar membawa kemajuan bagi daerah, perlu terus didorong. Yang nanti pada gilirannya, akan berkontribusi positif terhadap kemajuan bangsa dan negara

Cara Mengetik Menggunakan Font Lontara di Word

Sebelum memulai mengetik menggunakan Font Lontara, terlebih dulu pastikan untuk mendownload font nya disini setelah itu, ekstrak dan simpan (install font) file nya di hard disk komputer anda di folder C: Windows/Font. File font biasanya bereksistensi ttf ( * . ttf )

Re-start aplikasi pengetikan anda (Word). Kemudian cek ketersediaan opsi font di aplikasi pengetikan anda





Demikian cara menggunakan font lontara di aplikasi pengetikan (Word). Semoga bermanfaat
.

Belajar Bahasa Bugis (1) - Kata Ganti Orang dan Milik

Oh Puangku MarajaE
Addampengi ataTTA
Amaseangngi ataTTA
PassalamaqKA ri lino lettu aheraq

Oh Tuhanku yang Maha Besar
Ampuni (dosa) hambaMU
Kasihilah hambaMU
Selamatkanlah aku di dunia hingga akhirat

Sepintas, tidak ada yang keliru dari teks doa tersebut. Namun bila diperhatikan secara seksama, penggunaan kata ganti kepemilikan (pronomina posesiva) TA = milik bersama/ kata ganti milik orang pertama jamak justru membuat makna teks doa diatas menjadi bias.

Sebelum lanjut, silahkan diperhatikan kata ganti orang (pronomina persona) dalam bahasa Bugis sebagai berikut.

Sedang untuk kata ganti kepemilikan (pronomina posesiva) dalam bahasa Bugis sebagai berikut


Untuk memudahkan memahami penggunaan kata ganti dalam tata bahasa Bugis, kita kutip contoh dialog dalam lontara Soppeng. Ketika tiga orang pimpinan kaum, Matoa Ujung, Matoa Bila dan Matoa Botto meminta agar La Temmamala Manurungnge ri Sekkanyili bersedia menjadi Datu Soppeng.



Matoa : naIKOna KIpopuang. MUdongiri temmatippaKENG. MUsalimuri temmadingingKENG. naIKOna mpawakKENG ri mawe mabela. namauna anamMENG na pattanroamMENG MUteai, KIteai toi.
Tomanurung : temMUbaleccoregGAq, temMU dua nawa-nawaGGA ?

Terjemah
Matoa : (dan) ENGKAUlah yang KAMI pertuan. ENGKAU menjaga kami (bagai petani menjaga padi dari burung pipit) agar KAMI tidak hampa. ENGKAU selimuti KAMI agar KAMI tidak kedinginan. (dan) ENGKAUlah membawa KAMI di dekat dan jauh. Walaupun anak KAMI, perjanjian KAMI (sebelumnya) bila ENGKAU tolak, KAMI tolak pula
Tomanurung : Apakah KALIAN tidak mencurangi SAYA, tidak menduakan pikiran pada SAYA ?

Saat ketiga Matoa berbicara (selaku orang pertama jamak) mewakili rakyat Soppeng (orang ketiga jamak). Digunakan kata ganti KI dan KENG (Ikkeng) serta Mmeng untuk mewakili orang pertama jamak dan orang ketiga jamak. Sedang untuk orang kedua tunggal (ditujukan pada Tomanurung), digunakan kata ganti orang kedua tunggal, yaitu IKO dan MU.

Sebaliknya, saat dijawab oleh La Temmamala Manurungnge ri Sekkanyili (sebagai orang pertama tunggal), digunakan kata ganti MU untuk orang kedua jamak sekaligus orang ketiga jamak. Yang dimaksud adalah para Matoa yang tiga bersama segenap rakyat Soppeng. 

Sepintas terkesan kurang sopan. Sebab menggunakan kata IKO (kamu). Sedang dalam bahasa Bugis, yang dianggap sopan untuk kata ganti orang kedua tunggal adalah IDIQ (kita).

Bila "disopankan", maka digunakan kata TAsalimuri yang berarti orang pertama dan kedua bersama menyelimuti. Dan IDI na KIPOPUANG. yang diterjemahkan akan berarti KITAlah yang KITA pertuan. Justru maknanya akan bias.

Baik. Kembali pada contoh teks doa diatas, bagaimana seharusnya penggunaan kata ganti agar lebih tepat. 
Oh Puangku MarajaE
Addampengi ataTTA
Amaseangngi ataTTA
passalamaqKA ri lino lettu aheraq
diganti menjadi
Oh Puangku MarajaE
Addampengi atamMU
Amaseangngi atamMU
passalamaqKA ri lino lettu aheraq

Oh Tuhanku yang Maha Besar
Maafkan hambaMU 
Kasihilah hambaMU
Selamatkan Aku didunia hingga Akhirat

Bila digunakan kata ganti TA (kita) untuk Tuhan yang Tunggal, menjadi kurang pas. Seharusnya dalam berdoa dalam bahasa Bugis, digunakan kata ganti orang kedua tunggal sebagai kata ganti pada Tuhan.

Pada konteks doa (hubungan hamba dengan Tuhan) dan perjanjian antara Raja dengan rakyat, maka digunakan kata ganti orang kedua tunggal yaitu IKO, MU bukan IDI dan TA.

Demikian, semoga bermanfaat.

12 Hal Yang Di pantangkan Seorang Raja

Di masa lalu, ketika masih zaman kerajaan. Banyak peristiwa terjadi. Sehingga menjadi pelajaran bagi generasi berikutnya. Raja sebagai pemimpin tertinggi di masa itu, bukanlah seseorang yang bisa berbuat apa saja. Tetap ada aturan yang mengikat agar tercipta stabilitas dan harmoni di masyarakatnya.

Berikut ini petikan nasehat dari para tetuah kepada Raja di masa lalu. Yang boleh jadi, maknanya bisa disesuaikan konteksnya di masa sekarang ini. Kemudian dijadikan referensi dalam bersikap dan bertindak pada lingkup kepemimpinan berbagai sektor.

Transkrip
Seppulo dua seua-seua masennak makkasolang ri arung mangkauk e
Nakko engka arung mengkaiwi iaro seppuloe dua matu, 
sitinajani ripalesso arungnge, apa ianaritu arung kaminang macilaka makkuaero winru na
Seuani, arung mangkau pogauE sapatana
Maduanna, temmagelliangengngi tau pogau'e sapa tana
Matellunna, mappasisalangengngi pangaderengnge
Maeppana, makbunoangengngi gellinna
Malimanna, teppasitinajaengngi paccallang apasalanna siajinna
Maennenna, mammaseiengngi taue dek e apatujunna ri arungnge
Mapitunna, temmamaseiengi taue nakko engka apatujunna ri pangaderenge enrenge ri arunge
Maruana, makdampengengngi topasalae
Maserana, nakko teai ri pakaingek arungnge ri atassalangna
Maseppulona, turuengngi anakna maggau bawang
Maseppulona seddi, turuengngi anakarunna enrengnge ata ri bolana ri gau bawangi tau tebbekna
Maseppulona dua, turuengngi bainena takkaboro

Terjemahan
Dua belas hal yang sangat berbahaya bagi Raja
Jika raja memiliki salah satu dari 12 hal
Maka pantaslah diturunkan dari tahtanya, sebab tindakan raja demikian sangat celaka
Pertama, raja yang berbuat mesum
Kedua, tidak menghukum pelaku mesum
Ketiga, tingkah lakunya menyalahi aturan adat istiadat
Keempat, menjatuhkan hukuman mati saat murka
Kelima, tidak memberikan hukuman yang setimpal terhadap pelanggaran yang dilakukan kerabatnya
Keenam, mengasihi orang yang tidak berbakti pada raja
Ketujuh, tidak mengasihi orang yang berbakti pada aturan adat istiadat dan raja
Kedelapan, memaafkan orang salah
Kesembilan, bila raja tak mau diperingati kesalahannya
Kesepuluh, menuruti anaknya berlaku sewenang wenang
Kesebelas, membiarkan keluarga dan isi rumahnya berlaku sewenang wenang pada orang banyak
Keduabelas, membiarkan istrinya takabur.

Dimasa lalu, Malaweng  atau berzinah sangat dipantangkan. Bukan hanya karena berdampak pada nasab keturunan. Akan tetapi juga berdampak pada hasil panen. Orang orang dahulu percaya (ketika sistem pertanian tradisional masih diterapkan), bahwa perzinahan akan menyebabkan gagal panen. Sehingga pelakunya dihukum berat. Kegagalan panen jelas akan mempengaruhi ketahanan pangan sebuah daerah. Maka disimpulkan lah bahwa jika raja (termasuk rakyatnya berbuat mesum atau berzinah) dan pelakunya tidak dihukum maka akan merusak ketahanan pangan daerah tersebut.

Untuk poin 3, melanggar aturan adat istiadat. Berarti mengacaukan harmoni sosial. Hal ini (untuk konteks masa lalu) akan menyebabkan perpecahan bahkan pemberontakan pada daerah tersebut.

Meski terkesan sangat keras dalam berbagai jenis hukuman dimasa lalu. Akan tetapi untuk menjatuhkan hukuman, Pabbicara atau hakim tidak boleh bertindak semena-mena. Ia harus mengumpulkan berbagai informasi secara berimbang. Saat memutus perkara, ia harus bebas dari berbagai kondisi psikologis yang dapat merusak. Apalagi bila hukuman yang dijatuhkan itu hukuman mati. Bila Raja saat murka dengan mudahnya menjatuhkan hukuman mati. Maka sulit baginya untuk memutuskan dengan adil. Sebaliknya, bila kerabatnya yang melakukan kesalahan namun tidak dijatuhi hukuman sesuai adat yang berlaku, maka akan menimbulkan ketidakpercayaan pada Raja. Sehingga keluarga dan kerabat dari yang dijatuhi hukuman mati akan menolak legitimasi raja tersebut. Bahkan anggota adat kerajaan pun dapat saja terpecah menyikapi hal tersebut. Demikian untuk poin 4 dan 5.

Selanjutnya, mengasihi orang yang tidak berbakti pada Raja dan Adat istiadat dan sebaliknya menyianyiakan orang yang berbakti pada Raja dan Adat Istiadat. Setidaknya menimbulkan 2 hal. Pertama, orang akan berpikir tak perlu lagi berbakti untuk mendapatkan kasih sayang Raja. Kedua, kalau berbakti pun tidak dihargai. Dampaknya adalah bawahan akan bersikap sembrono. Tidak mengerjakan tugasnya dengan baik. Dan yang parah adalah, bawahan yang lebih mengutamakan puja puji pada Raja ketimbang kinerjanya. Dalam jangka waktu tertentu akan melemahkan negara.

Memaafkan orang salah (poin 8) dapat terpahami pada 2 hal. Pertama, yang bersalah memohon maaf. Kedua, yang bersalah tidak merasa bersalah dan tidak memohon maaf. Pada perspektif lain dapat juga terpahami tingkat kesalahan. Beberapa Pappaseng menekankan pentingnya seorang pemimpin memiliki jiwa pemaaf. Sehingga untuk menemukan titik temu Pappaseng ini. Di pahami bahwa, memaafkan orang yang salah dalam arti kesalahannya sangat berat dan/atau tidak meminta maaf. Sehingga menjadi acuan bagi orang lain untuk melakukan kesalahan serupa. Kesalahan yang kemudian makin membesar dan dimaklumi sehingga tidak lagi dianggap sebagai kesalahan.



Pada negara kerajaan, Raja sangat dipengaruhi oleh keluarga dekatnya. Anak-anak maupun kerabat dekatnya. Raja dan anggota keluarganya adalah manusia biasa yang tak luput kesalahan. Bila Raja dan anggota rumah tangga Raja melakukan kesalahan fatal dan dibiarkan. Akan menciptakan perasaan tidak adil bagi rakyatnya. Sehingga rakyatnya hilang kepercayaan. Ketidak percayaan bawahan pada pemimpin, pada gilirannya akan menjadi awal munculnya perlawanan. Intinya, seorang pemimpin dalam hal ini Raja, harus berlaku adil sehingga menciptakan kepercayaan, kebersamaan dan ketentraman di berbagai level masyarakatnya.

Istri yang takabur, akan merugikan siapapun suaminya. Termasuk permaisuri/selir yang takabur. Takabur dalam arti sudah berfoya foya dan menganggap rendah orang lain. Dengan kekuasaan suaminya, ia bisa berlaku sewenang wenang hingga mencampuri wilayah pemerintahan yang bukan wilayahnya. Untung bila sang istri memberikan masukan yang baik untuk suaminya dalam mengelola pemerintahan. Namun bila sang istri justru berfoya foya sehingga menghabiskan kas kerajaan dan berlaku sewenang-wenang, maka tentu kerajaan tersebut akan mengalami ketidakstabilan politik.

Sumber : Pangajak Tomatoa (kumpulan Pappaseng Bugis)
dihimpun oleh Zainuddin Hakim

DIAM, menurut orang Bugis

slk mEetea. 
aulwE mmEkoea. 
Salaka metteq e, ulaweng mammekko e
Perak yang bicara, emas yang diam
(Pepatah Bugis)

Pernah suatu ketika dalam sebuah diskusi di acara mahasiswa, seorang teman meminta untuk dijelaskan tentang sebuah pepatah Bugis. "Salaka metteq e, ulaweng mammekko e". Entah apa maksudnya ditengah diskusi justru mengangkat tema itu. Padahal tidak berhubungan tema pembicaraan sebelumnya.

Saya menjawab seadanya saja. Bahwa tidak semua diam itu "emas". Malah sebaliknya, terkadang justru "berbicara" adalah emas. Coba bayangkan kalau komentator sepakbola diam, maka stasiun TV akan memutus kontraknya. Guru yang diam akan membuat muridnya tidak paham dengan pelajaran. Dan penjual obat diam bakal jualannya tidak laku. Poin yang ingin saya sampaikan adalah, pentingnya kita memahami konteks sebuah kalimat agar tidak bias.

Leluhur Bugis mewariskan Pappaseng atau pesan yang sekaitan dengan diam. Pappaseng yang dapat membantu dalam memahami konteks pepatah diatas sebagai berikut.

naiy mEkoea aEp ritu auwGEn. esauwni. mEko riaelt. bEtuwn tptniyai aelt ri adadea aEeReG ri gauea. mduan. mEko ri pdt tau. bEtuwn aj tkpGi pdt tau ri tEkuwea. mtElun mEkoea ri esauwesauwea. ait pdpd aelmu ri alhu tal. maEpn mEkoea ri puweG. bEtuwn apsikuaea ri aePekdoekdo.   

Translasi :
Naiya mekko e eppa ritu uangenna. Seuani mekko ri aleta. Bettuanna  tapattaniyai aleta ri ada-adae enrengnge ri gaue. Maduanna. mekko ri padatta tau. Bettuanna ajja takapangngi padatta tau ri tekkuwae. Matellunna. mekkoe ri seua-seuae ita pada-pada alemu ri Allahu Ta'ala. Maeppana. mekko ri Puangnge. Bettuanna appasikuae ri ampekedo-kedo.

Terjemahan :
Diam itu empat macam.
Pertama, diam terhadap diri sendiri, artinya menghindarkan diri dari ucapan dan perbuatan (yang tidak bermanfaat).
Kedua, dia terhadap sesama manusia, artinya jangan menyangka atau menuduh orang lain hal-hal yang tak pantas.
Ketiga, diam terhadap segala sesuatu, pandanglah dirimu sama dihadapan Allah Ta'ala.
Keempat, diam terhadap Tuhan. Artinya bersikap wajar atau terpuji..



Berdasar dari Pappaseng diatas, dijelaskan tentang 4 wilayah diam. Diam pada diri sendiri, pada sesama manusia, pada segala sesuatu dan pada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Diam pada diri sendiri disebutkan sebagai menghindarkan perkataan yang tidak bermanfaat. Ini berarti pada sesuatu hal yang bermanfaat, tentu sebaliknya. Hal ini berkaitan juga dengan Acca atau pintar yang disebutkan sebagai seseorang yang sebelum berkata-kata, memikirkan dasar apa yang dibicarakan serta dampak dari perkataannya.

Diam pada sesama manusia. Pada konteks tidak membicarakan hal buruk pada orang lain. Hal ini sesuai dengan agama. Bila membicarakan keburukan orang, bila itu benar maka termasuk ghibah, jika hal itu salah, maka termasuk fitnah. Baik ghibah maupun fitnah adalah hal yang buruk. Akan tetapi konteksnya berbeda bila seorang penegak hukum seperti jaksa. Sebab bila ia tidak membicarakan keburukan orang lain, justru tidak bisa menegakkan keadilan.

Diam pada segala sesuatu. Pada konteks bahwa melihat diri kita adalah sama dengan semua ciptaan dihadapan sang pencipta, Allah Ta'ala. Hal ini terpahami bahwa "diam" adalah dengan tidak merusak keseimbangan alam. Sementara "berbicara" terpahami adalah tindakan yang merusak.

Diam pada Tuhan. Pada konteks ini terpahami dengan berprilaku dan bertindak wajar yang berangkat pada kesadaran bahwa setiap perbuatan senantiasa disaksikan oleh Tuhan. Yang kelak semua perbuatan itu akan dipertanggung-jawabkan di hari akhir. Tentu ukuran kewajaran sesuai dengan agama dan budaya. 

Wallahu a'lam

Sumber :
Pangngajak Tomatoa, Zaunuddin Hakim. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta 1992.

Mallawolo

Mallawolo, adalah bagian dari praktek Bissu. Lawolo sendiri adalah kain yang dipilin memanjang. Biasanya berwarna merah dan kuning menyimbolkan dunia atas (Botinglangi) dan dunia bawah (Paretiwi). Di masing-masing ujungnya, diikat gelang emas atau kuningan. 

Lawolo (foto dok.pribadi)
Bissu memegang gelang diujung Lawolo. Di ujung satunya, calon raja yang akan dilantik memegangnya. Kemudian dibimbing melewati Menrawe.  yang dialasi kain putih sebagai titian yang disebut Widang Sao, atau Talettuq. Diatas hamparan Widang Sao atau Tallettuq tersebut, terdapat piringan kuningan yang beragam. Seperti kepala kerbau, Umpa Sikati, Tana Menroja dan sebagainya.


Menrawe (foto dok.pribadi)

Berikut salah satu teks yang digunakan para Bissu saat Mallawolo yang didokumentasikan Gilbert Hamonic dalam "Mallawolo", Chants Bugis Pour La Sacralisation des Ancens Princes de Celebes Sud.

ao ruea. lwolo krk bEsiea. auloni mai. lP ainokinoeG. tKEni mai. lPai puGipuGiea. naolai mtu mnEru. aij ptupu btuea. tunE torisoP wliea. sai mtu epeswlin. sai to wowolGin. al wijn ailbulis. al tunEnea toppelw. tEecrai mai ri lu. tERejGi ri wtPrE. rirEri muai tEmdRE. tEmGti arkrin. tEmtiGr aoni pERn. pjnEjnEGi. sia wijn ri auloea. riawo pEtu. mdEpea ri lptEl. tEnbusuGi sia lwolo. tEnkppai
ewlEeR. nait siy mnai. btjE sEpu ktiea. sEsukEn emrew. ao reau

Transkripsi.
Oh Rueq. Lawolo karaka bessie. Ulo'ni mai. Lampa innongkinnongie. Tangkeq ni mai. Lampa pungi-pungie. Naola matuq manerruq. Wija pattuppu batue. Tuneq to risompa walie. Sai matu pesewalinna. Sai to wowolangiqna. Ala wijanna I La Bulisa. Ala tuneq nae to pappalewa. Teq ceraq mai ri Luu. Tenrajengngi ri watampareq. Ri renringmui temmaddanreng. Temmangatiq akarakinna. Temmatingara oni penrangna. Pajaneng janengi. Siaq wijanna ri uloe. Ri awo pettung. Maddeppaqe ri lappatellang. Tennabusungi siyaq lawolo. Tennakapapai welenreng. Naita siyaq manai. Batajeng seppu katie. Sessukenna menrawe. O Rueq.


Terjemahan.
Oh Dewa. Si Lawolo tulang daun besi. Ulurlah kemari. Lihatlah dengan jelas. Karunia kami. Lihatlah sesuatu yang indah. Yang nanti akan diikuti langsung (oleh). Keturunan raja-raja. Putera yang disembah dari kedua belah pihak. Semoga jelaslah nanti, pihak sebelah. Semoga jelaslah orang di langit. Masa ! keturunan I Labulisa !. Masa ! keturunan orang orang biasa. Bukan juga ceraq dari Luu. Bukan juga rajeng dari watampareq. Dia memerintah karena bukan pendamping. Tidak (juga orang yang) bertanggung jawab atas keamanan negeri (?). Tidak juga orang yang mengarahkan keatas bunyi gendangnya. Sebenar benarnya. Dia adalah turunan dari yang telah diulur. Kedalam bambu <bettung>. Dari dia yang telah lahir dari bambu <tellang>. Tidak bisa gerangan dia kena kutukan Lawolo. Tidak bisa dihinakan oleh Welenreng. Dia melihat itu keatas. Penopang dari mas murni. Yang lewat melalui gerbang gerbang kemenangan. Oh Dewa. 

Mallowo dilakukan dimasa lalu pada prosesi pelantikan raja/ratu didaerah yang memiliki Bissu. Sebab tidak semua kerajaan Bugis dimasa lalu memiliki Bissu. Setelah calon raja dibimbing oleh Bissu dengan Lawolo melewati Menrawe dan meniti Widang Sao. Maka dicucilah kaki sang raja dan didudukkan di tahtanya.

Masih perlu dikumpulkan informasi tentang Mallawolo ini apakah digunakan saat acara pernikahan. Saat ini, prosesi Mallawolo juga diadakan pada pesta pernikahan.

The Last Angkuru Bissu

Terhampar Widang Sao kain putih panjang. 
Bagai titian suci yang menyambut sang mempelai. 
Dituntun dengan Lawolo lalu dimelewati berbagai prosesi, 
seperti Ri pattudduq umpa sikati dan Ri pallejjaq tana menroja. 
Sementara Bissu lain menari diiringi tabuhan Genrang Tellu
Ditutup dengan sebuah dialog antar bissu yang menjelaskan bahwa sang mempelai bukanlah keturunan I La Bulisa. 
(Cuplikan Prosesi Pangadereng Bissu)


Cucubanna, berisi beras bertih. Salah satu perlengkapan ritual Bissu.
Sebagai simbol penyambutan (dok. pribadi)

Sedikit Tentang Bissu (1)
Demikian gambaran singkat sebuah prosesi adat yang melibatkan Bissu. Mallawolo membimbing mempelai menuju pelaminan. Dalam dialog yang berbahasa Bissu pada prosesi tersebut. Ada tanya jawab yang berisi tentang siapa sang mempelai, apakah keturunan Batara Guru atau I Labulisa (2).

Lawolu, kain yang dipilin. Ujungnya masing-masing dipegang oleh Bissu dan Mempelai (dok.pribadi)
Memang Bissu sangat terkait dengan Ilagaligo (3). Mulai dari episode diisinya dunia dunia tengah (ale kawa) dari keturunan dewa (PatotoE) yaitu Batara Guru yang ditemani oleh Bissu yang ditugaskan merawat pusakanya. Hingga We Tenriabeng. Saudara kembar La Maddukkelleng Opunna Ware Sawerigading, tokoh utama dalam epos Ilagaligo. Disebutkan, Sawerigading ingin menikahi saudara kembarnya, namun ditolak. Lalu ditawarkan sepupu mereka, We Cudai di negeri Cina. Lalu perjalanan melewati lautan dan perang laut pun dilakukan demi cinta. We Tenriabeng kemudian Mallajang. Naik ke Botinglangi atau kayangan. Di sana, ia menikah dengan La Remmang ri Langi. Kelak setelah pernikahannya, mereka berdua memberikan bantuan kesaktian pada Sawerigading saat kewalahan berperang.

cek : Mallawolo 

Bissu juga disebutkan hadir di era awal berdirinya kerajaan Bone. Saat kondisi Sianre Bale (4) atau saling memangsa laksana ikan, sangat dibutuhkan kehadiran seorang pemimpin yang adil dan mampu menciptakan ketentraman. Maka nampaklah seseorang yang dianggap To Manurung. Orang itu adalah pengawal To Manurung, dan dia adalah seorang Bissu.

Dalam perjalanannya, Bissu dipercaya memimpin ritual, menjaga arajang atau regalia kerajaan, dan mengelola pesta pernikahan. Pada kondisi perang, Bissu menjadi pengawal Raja. Melindungi jiwa dan raga Raja beserta keluarganya. Peran Bissu begitu dominan hingga Islam diterima secara resmi di Sulawesi Selatan. Parewa Saraq (5) diberi peran dibidang keagamaan sedang Bissu dibidang adat istiadat. 

Tidak semua daerah di Sulawesi Selatan memiliki Bissu. Selain Luwu (dahulu) dan Bone, Bissu juga ada di Soppeng dan Segeri Kabupaten Pangkep. Termasuk juga Pammana. Sebuah kerajaan kecil di wilayah Wajo. Dulunya disebut sebagai kerajaan Cina. Tersebut seorang Angkuru Bissu ia dikenal dengan nama Hj. Jannah. Ia bersama komunitas Bissu masih eksis hingga hari ini.

Hj. Jannah, The Last Angkuru
Menurut pengakuannya, hanya dua daerah yang memiliki Angkuru. Yaitu Pammana Wajo dan Barru Ketika ditanya apa itu "Angkuru", beliau menjawab singkat : "Natinroi bissue". Yang berarti yang mengikuti para Bissu.(6). Sebuah istilah yang sederhana untuk menjelaskan pemimpin Bissu Pammana Wajo.


Hj. Jannah, Angkuru Bissu Wajo (Dok.pribadi)
Sebelum menjadi Angkuru, terlebih dahulu ia menjadi Angkuru Lolo. Semacam wakil dari Angkuru. Hal itu berlaku pada Angkuru sebelumnya. Ia menyebut beberapa Angkuru yang mendahuluinya antara lain Angkuru Melleq, Angkuru Sakka, Angkuru Labacondong, Angkuru Palesangi, Angkuru Sawwaleng, Angkuru Indo Ringgi. (7). Saat ini, Angkuru Lolo adalah Hj. Fera. Disebutkan bahwa Angkuru tidak pernah terputus sejak awal adanya Bissu. Sayang sekali tidak ada catatan yang menuliskan Angkuru pertama hingga terakhir.

Anggota Bissu dengan Panampa dikepalanya (dok.pribadi)
Dilantik menjadi Angkuru sekitar tahun 2008, ia terpilih secara aklamasi oleh para Bissu. Meski ada Bissu yang lebih senior. Selama menjadi Angkuru, Hj Jannah selalu merawat Gau-gaukeng. Baik perawatan secara fisik, maupun ritual secara berkala. Gau-gaukeng itu kebanyakan diperoleh dari Angkuru sebelumnya yaitu Angkuru Melleq. Menurutnya (8), Angkuru Melleq rutin merawat gau-gaukeng tersebut di malam Senin, malam Rabu dan malam Jumat. Meski sibuk, Hj. Jannah tetap merawat gau-gaukeng tersebut meski tidak serutin pendahulunya, Angkuru Melleq.

Sebagai Angkuru yang membawahi sekitar 30-an Bissu. Hj. Jannah berkewajiban membimbing anggotanya. Namun ia membatasi diri hanya sekadar mengingatkan dan menyampaikan saja. Bukan menekan, tambahnya. Angkuru Hj. Jannah sangat fasih membaca naskah Ilagaligo yang beraksara lontara. Sebuah kemampuan yang makin langka di Sulawesi Selatan. Dalam hal membimbing Bissu anggotanya, sampai saat ini baru satu orang yang mengikuti jejaknya dalam kefasihan membaca Lontara.

Kehidupan Sosial dan Ekonomi 
Perubahan struktur sosial politik dalam kurun satu abad terakhir, berdampak pada kehidupan para Bissu. Dulu mereka dijamin keberlangsungannya oleh pihak kerajaan. Setelah kerajaan bubar dan melebur ke Republik Indonesia, mereka dituntut bisa bertahan hidup dengan berbagai tekanan.

Mungkin para Bissu di Sulawesi Selatan adalah komunitas yang paling merasakan dampak dari peristiwa DI/TII. Betapa tidak, sistem kepercayaan yang cenderung sinkretis ditambah peran sebagai gender ke-5, menjadikan Bissu sebagai salah satu target Operasi Toba. Operasi yang dilancarkan DI/TII tahun 1955 untuk menegakkan Islam.

Tutur yang terwariskan adalah "Wettunna ikellu bissue". Ketika para Bissu dipaksa bercukur. Memang dahulu para Bissu memiliki rambut panjang menyerupai perempuan. Para Bissu dipaksa bercukur agar berambut pendek kembali menjadi lelaki.

Namun dengan berbagai keterbatasan, komunitas Bissu yang tersebar termasuk di Wajo ini masih bisa bertahan. Para Bissu berprinsip "deq nabotting nabbija" yang berarti tidak menikah tetapi berkembang biak. Seolah ingin menjelaskan bahwa para Bissu akan terus eksis sepanjang zaman.

Untuk bertahan hidup, para Bissu kadang bertani. Mereka hidup dengan bertanam palawija. Seperti jagung dan kacang-kacangan. Sesekali saat acara pengantin, jasa para Bissu dibutuhkan. Baik sebagai Indo Botting (9), Jennang (10), maupun sebagai pelengkap Pangadereng (11). Sementara, event budaya di daerah juga sering melibatkan para Bissu.

Angkuru Hj. Jannah dalam sebuah acara Mappadendang (dok.pribadi)
Belakangan ini, jasa Bissu makin dibutuhkan dalam acara pernikahan. Beberapa pejabat yang menikahkan putra-putri mereka, melibatkan peran Bissu. Testimoni dari tokoh besar beragam, namun semuanya positif. Tentu hal ini membanggakan para Bissu, terutama sang Angkuru.

Tidak disebutkan berapa nilai jasa yang ditetapkan Bissu saat tampil. Terkadang besar maupun kecil, tergantung kemampuan yang dibayarkan oleh pengguna jasa. Biasanya ia diberi uang jasa setelah selesai penampilan. Akan tetapi ada juga yang sampai sekarang masih ngutang.

Diperhatikan pemerintah dan tokoh adat, tidak berseberangan dengan pihak lain. Sudah cukup membahagiakan Angkuru Hj. Jannah dalam memimpin Bissu Pammana Wajo. Nampaknya sejauh ini, sang Angkuru puas dengan apa yang ada. Tidak banyak harapannya. Salah satunya, agar timing yang diatur panitia saat tampil tidak bersamaan dengan waktu shalat.

Gender Bissu Pammana di Ruang Sosial
Pelras menulis : "Orang Bugis menerapkan prinsip kesetaraan gender dalam sistem kekerabatan bilateral mereka, di mana pihak ibu dan bapak memiliki peran setara guna menenutukan garis kekerabatan, sehingga mereka menganggap laki laki maupun perempuan mempunyai peran sejajar (walaupun berbeda) dalam kehidupan sosial.(12)

Di Sulawesi Selatan, khususnya orang Bugis. Perempuan ditempatkan pada posisi terhormat. Perempuan adalah Siriq (13) yang harus di jaga. Namun tidak berarti perempuan tidak mempunyai ruang sosial dan politik yang setara. Di beberapa kerajaan di Sulawesi Selatan di masa lalu, banyak Ratu yang memimpin. Bahkan tokoh pendiri kerajaan yang setengah mistis pun banyak yang perempuan.

Masih menurut Pelras, ia membagi 5 jenis gender di Sulawesi Selatan. Selain perempuan dan laki-laki, ada Calalai, Calabai dan Bissu. Calalai adalah perempuan yang berprilaku seperti laki-laki. Sebaliknya Calabai adalah laki laki yang berprilaku perempuan. Dari sini dapat dipahami bahwa Calabai berbeda dengan Bissu. 

Dalam hal pengorganisiran, komunitas Bissu di Wajo dipimpin oleh Angkuru Hj. Jannah. Sedang untuk Calabai atau waria punya lembaga sendiri yang dipimpin oleh Hj, Agung. Sesekali kedua lembaga ini saling mengundang. 

Ketika ditanyakan tentang bagaimana perlakuan masyarakat terhadap para Bissu, Hj Jannah menjelaskan bahwa selama ini tidak ada pelecehan maupun perlakuan yang kurang menyenangkan. Dibandingkan dengan Calabai atau Waria, Bissu diperlakukan lebih terhormat (14).

Sebagaimana Bissu lainnya. Terkadang mereka memiliki pasangan sementara. Seorang laki laki yang mereka jaga dan pelihara. Di istilahkan dengan To boto atau ane piara. Seorang Bissu yang memiliki ane piara bertanggung jawab memenuhi kebutuhan laki laki tersebut secara finansial. Hingga dinikahkan dengan perempuan. Ketika ditanyakan, bagaimana pendapat orang tua ane piara tentang "hubungan" dengan bissu. Sang Angkuru menyebut, justru orang tua senang karena si anak tidak kemana-mana lagi.

===<><><><>===

Catatan
(1) Didefinisikan secara umum sebagai pendeta agama Bugis kuno.
(2) I Labulisa, salah satu tokoh antagonis dalam ILaligo. Dikenal sebagai seorang pelayan yang haus kuasa yang mencuri simbol kebesaran Batara Guru demi menjadi raja.
(3) ILagaligo. Epos terpanjang didunia. Berisi tentang kosongnya dunia tengah (Ale Kawa) kemudian diisi oleh keturunan dewa dewa dari dunia atas (Botinglangi) dan dunia bawah (Uri liu). Dilanjutkan dengan cucu manusia pertama (La Tongelangi Batara Guru) yaitu Sawerigading berjuang untuk mendapatkan cinta We Cudai serta keturunan terakhirnya.
(4) Sianre Bale = saling memangsa laksana ikan, siapa kuat dia menang. Sebuah istilah dalam naskah Lontara untuk menyebut periode antara akhir Ilagaligo dan awal kedatangan Tomanurung pembentuk kerajaan Bugis akhir. Sebuah kondisi kacau tanpa pemimpin yang kuat
(5) Parewa Saraq = pejabat syariat. Terdiri dari Qadhi, Imam, Khatib, Bilal dan Doja. Berfungsi sebagai urusan keagamaan setelah kerajaan-kerajaan Bugis menerima Islam secara resmi sekitar awal abad ke-17
(6) Wawancara dengan Hj. Jannah, 7 Juli 2017
(7) Wawancara dengan Hj. Jannah, 7 Juli 2017
(8) Wawancara dengan Hj. Jannah, 7 Juli 2017
(9) Secara harfiah berarti ibunya pengantin. Orang yang bertanggung jawab mengurus calon mempelai.
(10) Secara harfiah berarti pemimpin bidang tertentu. Pada konteks ini adalah pemimpin yang mengurusi bidang konsumsi pesta pernikahan.
(11) Secara harfiah berarti aturan adat istiadat. Pada konteks ini adalah ritual adat yang melibatkan peran Bissu seperti yang dipaparkan diatas.
(12) Manusia Bugis, karya Christian Pelras (185:2006)
(13) Siriq berarti malu, harga diri, kehormatan, motivasi.
(14)Wawancara dengan Hj. Jannah, 7 Juli 2017

Era Sosmed, Era Massifnya Labelling

"..social groups create deviance by making rules whose infraction creates deviance.."
(Howard Becker)

Pada dasarnya, tiap individu dan masyarakat memiliki kekhasannya masing-masing. Yang kemudian mengidentifikasi dirinya dengan konsep ideal. Sebuah konsep yang tersepakati secara umum apa yang seharusnya dilakukan sebagai sebuah "kebaikan". 

Apabila ada "pelanggaran" terhadap konsep ideal tersebut, maka dilekatkanlah sebuah teks yang berkonotasi negatif sebagai Label pada individu dalam masyarakat tersebut. Secara sederhana, ini yang dimaksud dengan labelling.

Fenomena Labelling bisa ditemukan dalam bentuk positif maupun negatif. "Sang Pahlawan", "Ayam Jantan dari Timur", adalah contoh labelling yang bernuansa positif. Bila mengikuti pendapat Howard Becker, Labelling hanya bernuasa negatif. Yaitu individu devian, yang berbeda dengan kebanyakan yang dianggap buruk. Misalnya "pengkhianat", "munafik" dan sebagainya.

Labelling bila dilihat pada konteks yang berbeda, pada dasarnya adalah penyederhanaan identitas terhadap entitas yang berbeda dengan kebanyakan. Misalnya, "Pemimpin Besar Revolusi" adalah penyederhanaan pada identitas pada tokoh yang dengan segala kerumitannya memperjuangkan sebuah revolusi. Atau contoh lain. "Bapak Pembangunan" adalah identitas yang dilekatkan pada tokoh dengan segala kerumitan pembangunan yang disematkan padanya.

Labelling, sangat dipengaruhi oleh perspektif si penilai. Misalnya, tokoh sejarah yang memerangi bangsa asing akan dilabelkan sebagai "Pahlawan". Sementara justru akan dilihat berbeda oleh musuhnya yang dilabelkan sebagai "Bajak laut" misalnya. Hal ini sudah terjadi sejak lama. 

Yang agak sensitif adalah interaksi antar masyarakat. Dimana tiap masyarakat memiliki identitas dan idealitas yang berbeda. Yang sedikit memunculkan persoalan adalah ketika idealitas diantaranya justru sebaliknya. Sebagai contoh antara orang Jawa dan orang Sulawesi dalam hal penggunaan keris. Orang Jawa memahami bahwa idealnya keris diselipkan di belakang/pinggang. Hal ini tidak terlepas dari idealitas Masyarakat Jawa yang memahami bahwa mendahulukan dialog daripada kekerasan. Sebaliknya, Orang Sulawesi memahami bahwa idealnya keris diselipkan didepan. Hal ini tidak terlepas dari idealitas orang Sulawesi yang apa adanya dan memperkenalkan identitas melalui kerisnya.


Dalam hal tersebut, orang Jawa memahami kurang baik bila keris didepan dan sebaliknya orang Sulawesi memahami kurang baik bila keris di belakang. Baik Jawa maupun Sulawesi punya "labelling" pada individu/masyarakat yang devian. Atau menyimpang dari konvensi kebenaran dari pendapat masing masing. 

Labelling, kadang mengacu pada fisik, sikap atau tindakan. Sebagai contoh La pute mata sebagai labelling orang Sulawesi pada orang Belanda. Sebaliknya orang Belanda (khususnya yang bertugas di Sulawesi masa penjajahan) menyebut orang Sulawesi sebagai "pemberontak" "penganggu keamanan".Contoh seperti ini bisa dilihat pada interaksi antar etnis, komunitas, juga agama.

Labelling, pada dasarnya sudah terjadi sejak lama. Labelling bukan milik satu kelompok saja. Tetapi terkadang terjadi aksi saling labelling diantara keduanya. Pergesekan kepentingan ekonomi dan politik adalah pra kondisi yang cukup, untuk menciptakan proses labelling pada kedua belah pihak. 

Di era teknologi informasi sekarang ini. Labelling sangat mudah ditemukan. Apalagi sosial media terbukti punya pengaruh kuat dalam membangun opini massa. Sehingga pihak pihak yang berkepentingan sering menggunakan Labelling ini untuk memuluskan tujuannya.

Bagaimana menyikapi ?
Manusia diciptakan memiliki dua mata, dua telinga dan satu mulut. Seolah Tuhan Sang Pencipta ingin mengatakan pada hambaNya, agar melihat dan mendengar dua kali. Membandingkan, barulah berkomentar satu kali.

Ketika kita menemukan Black Labelling atau label buruk yang dilekatkan pada seseorang/kelompok, hendaknya kita melihat dan mendengarkan baik baik dari pihak yang dilabelkan tersebut. Apakah memang demikian adanya. Bangun empati, bagaimana sekiranya kitalah yang korban labelling tersebut. Apakah kita terima atau tidak ?

Tentu tiap kita punya konsep ideal yang boleh jadi orang lain berlaku tidak seperti kita. Dan diluar idealitas individu/kelompok, ada idealitas yang bersifat universal. "Sopan" misalnya, adalah konsep ideal yang bersifat universal, lintas suku, bangsa dan agama. Namun secara detail, bagaimana berprilaku sopan, itu sangat tergantung pada idealitas individu atau kelompok tersebut. Sehingga, bila kita menemukan orang/kelompok lain yang berprilaku "kurang sopan" menurut kita, hendaknya mendahulukan untuk memahami pemikiran orang/kelompok tersebut sebelum menilai. Dan tentunya meski kita kurang senang dengan pemikiran atau prilaku orang/kelompok lain, hendaknya menghindari Black Labelling.

Pesan Indera Patara


Dahulu kala di istana kerajaan Bugis, (LangkanaE, Salassaq, Saoraja), Indera Patara kerap dikisahkan kepada putra dan putri Raja setelah usai shalat magrib. Mirip fungsi film kartun saat ini. Para pangeran dan putri raja pun senantiasa menyimak kisah Indera Patara ini dengan cermat.

Sebagai fiksi edukasi, Indera Patara ini memiliki muatan tentang pentingnya tanggung jawab pemimpin. Bahwa kekuasaan bukanlah permainan belaka. Dan yang penting adalah, meski layak memimpin, Indera Patara bukanlah orang yang haus kekuasaan. Apalagi menghalalkan segala cara demi kuasa.

Kisah Indera Patara adalah serapan yang cenderung fiksi. Namun mengandung unsur edukasi. Indera Patara ditokohkan sebagai seorang pangeran yang disenangi oleh Raja Buhtasyar bersama rakyatnya untuk memimpin negerinya. Meski demikian, ia menolak tahta karena pemahaman tentang beratnya konsekwensi kepemimpinan.

Berikut ini kutipan Indera Patara dari Lontara Sejarah yang ditulis oleh Petta Sulewatang Amali 20 Januari 1939 yang berisi percakapan Indera Patara dengan ayahnya, Raja Buhtasyar bersama rakyatnya. Saat diminta menjadi Raja namun menolak karena merasa tidak sanggup mengemban amanah yang sangat berat.


Kutipan Kisah Indera Patara dalam Lontara Sejarah karya Petta Sulewatang Amali

pslE pnEseaGi riwEtu riasiturusin aiedrptEr ritau meagea mealo mlai aru mpert.
Passaleng pannesaengngi ri wettu ri assiturusina indera patera ritau maegae maelo malai arung mapparenta
Pasal yang menjelaskan saat disepakatinya Indera Patera oleh orang banyak untuk mengangkatnya sebagai Raja

nkEd arueG buhEtsrE ea anku tomlEbiku.
Nakkeda  arungnge buhtasyar, e anakku tomalebikku.
Berkata Raja Buhtasyar, oh anakku yang mulia

msituruai tomeagea aiymnE.
Massiturui tomaegae iyamaneng
Disepakati oleh semua orang banyak

naikon paop pelGEGi tnea.
Naikona paoppang palengengngi tanae
Dan engkaulah yang menelungkupkan menengadahkan tanah (maksudnya berhak atas kepemimpinan)

sprGi mk npoedecGEeG wnuaea.
Sapparangngi maka napodecengengnge wanuae
Carikanlah kebaikan untuk negeri

nkEdn aidEr ptr. aupetai ri auluku puw. Pmest.
Nakkedana indera patara, upatteq i ri ulukku puwang. Pammaseta
Berkatalah Indera Patara, kukatakan tidak Puwang atas anugrahnya

edai riy riaesGE apert.
deq i riyaq riasengnge apparentang
Tidak ada pada diriku kepemimpinan

ap aiy akrGEeG 3 etluai srn nwEdi mCji mpert mrj tauew.
Apaq iya akkarungengnge 3 tellui saraqna nawedding mancaji tomapparenta maraja tauwe.
Karena kekuasaan ada 3 syarat baru dapat seseorang menjadi pemimpin yang besar

1 esauwni rieabrai an lolo wnuw ri pertea.
1 seuwani riebaraq i anaq lolo wanuwa ri parentae
Pertama, negeri diibaratkan bayi oleh pemimpin

naiy arueG rieabrai aido.
Naiya arungnge riebaraq i indoq
Adapun Raja diibaratkan ibu

naiy aidoea ndojaiGi ann.
Naiya indoq e nadojaingngi anaq na
Adapun ibu, senantiasa menjaga anaknya hingga malam

naiy anea riklimuripi.
naiya anaq e rikalimuripi
Adapun anak, mestilah diselimuti

nerko mcEekai neaKliG topi etri ann npkuru npdEepai npsusuai.
Narekko macekkeq i naengkalinga topi terri anaqna napakkuru napaddeppei napasusui
Apabila kedinginan, dan mendengarnya menangis, maka disayangi didekati dan disusui

naiy riasEeG ndojai ri eaKliGai adrrin toripertea.
Naiya riasengnge nadojai, ri engkalingai addararinna toriparentae
Adapun yang disebut dijaga hingga malam, yaitu didengar keluh kesah rakyatnya

naiy riasEeG riklimuri ripeblaiyGi abln.
Naiya riasengnge rikalimuri ripabelaiyangngi abalana
Adapun yang disebut dengan diselimuti adalah dijauhkan dari bencana

naiy riasEeG ripmimiri riewerewerGi edea.
Naiya riasengnge ripammimmiri ri werewerengngi deq e
Adapun yang disebut dikecupkan yaitu dengan diberikan yang tidak diinginkan (maksudnya menumbuhkan harapan dan semangat)

riatutuaiwi wrPrn aiy aEKea.
Riatutuiwi waramparanna iya engkae
Dijaga harta bendanya yang ada

siruptopi eabrn akruGEeG.
Sirupatopi ebaraq na akarungengnge
Satu ibaratnya kekuasaan

rieabrai tnEtnE mlailaiGE rupn.
Ri ebaraq i taneng taneng mallaing laingnge rupanna
Di ibaratkan tanaman yang berlainan jenis

naiy tnE tnEeG ri plpi.
Naiya taneng tanengnge ri pallappi
Adapun tanaman mestilah dipagar

ribjaipi riaoRoatopi.
Ribajaipi rionroangtopi
Dibersihkan dan dijaga pula

naiy ri aesGE ri aoRow riaetyGi nautmai aolokolo.
Naiya riasengnge ri onrowang ri atteyangngi nauttamai oloq koloq
Adapun yang disebut dijagai, adalah mencegah agar tidak dimasuki hewan

bEtuwn to mgau bweG.
Bettuwanna to maggauq bawangnge
Artinya orang yang berlaku sewenang-wenang

naiy riasEeG ribjai riaetyGi sislsl lisEn wnuwea riealorGi mtret gaun. aEREeG ekdon.
Naiya riasengnge ri bajai, riateyangngi sisala sala liseqna wanuae rielorangngi mattaratteq gauqna. Enrengnge kedona
Adapun yang dimaksud dengan dibersihkan, mencegah pertengkaran antara sesama masyarakat diharapkan agar tertib tindakannya maupun perbuatannya.

rieabrai pl. mkopiro nllo tuwo tnEtnEeG. nmeag bwn.
Ri ebaraq i pallaq. Makkopiro nalalo tuwo taneng tanengnge. Namaega buwana.
Di ibaratkan di pagar. Hanya dengan hal demikian menjadi jalan tumbuh tanaman dan banyak buahnya.

esauwtopi srn akruGEeG. rieabrai bol. aj mumGiGi prkaiwi.
Seuwatopi saraqna akkarungengnge. Riebaraq i bola, ajjaq mumangingngi parakiwi
Ada juga satu syarat pemerintahan. Di ibaratkan rumah, jangan bosan merawatnya.

nerko muaitaitaiwi buru naolnitu bosi. nerko nbosiGi luwnitu lisEn bolea.
Narekko muitaitaiwi buruq naolanitu bosi. Narekko nabosingngi luwangnitu liseqna bolae
Apabila engka membiarkannya rusak maka akan ditembus hujan. Bila kehujanan akan tumpah isi rumah

msu milau aeprum ribol laieG bEtuwn nerko muaitaitaiwi ri gau bw msunitu riwnuw lai.
Massu milllau apperumang ri bola laingnge bettuwanna narekko muitaitaiwi ri gauq bawang massunitu riwanuwa laing
Keluar  meminta perlindungan di rumah yang lain, maksudnya apabila engkau membiarkan rakyatmu diperlakukan sewenang-wenang maka akan pergi negeri yang lain

nerko msuni ri wnuw lai to ripertea neacwcwaini mtu pdmu tompert. mkuniro bicrn sr srn aperteG wnuw.
Narekko massuni ri wanuwa laing toriparentae, naecawacawaini matu padammu tomapparenta. Makkuniro bicaranna saraq saraqna aparentangeng wanuwa
Apabila rakyat telah keluar bermukim ke negeri yang lain, maka engkau akan diketawai sesamamu pemerintah. Begitulah syarat syarat pemerintahan negeri

------


Dialog Datuk Sulaiman dengan La Sangkuru


Setelah Islam diterima secara resmi di Wajo, maka Arung Matowa meminta pada Karaeng ri Gowa Sombayya Sultan Alauddin agar dikirimkan seorang ulama. Agar dalam pelaksanaan ajaran Islam, bisa dilakukan dengan baik. Maka diperintahkanlah Datuk Sulaiman yang saat itu berada di Luwu agar ke Wajo dan mengajarkan orang Wajo tentang Islam.

Telah ada pembicaraan tentang ketuhanan, dan Datuk Sulaiman tidak menolak keyakinan tradisional masyarakat. Namun beliau menambahkan tentang pentingnya aspek kenabian sebagai konsekwensi kebertuhanan menurut Islam. Saat Datuk Sulaiman dan Arung Matowa La Sangkuru Patau Mulajaji (kelak digelari Sultan Abdurrahman), terjadilah dialog yang terekam dalam LSW (Lontaraq Sukkuna Wajo). Dialog itu berisi penjelasan hal hal penting tentang Islam sebelum Arung Matowa bersama orang Wajo bersyahadat

Mesjid tua Tosora sebelum direnovasi


Makkedai Arung Matowae : "Powadani Datoq iya muelorengnge ri pogau"
Makkedai Datok, : "Ajjaq muwammanu, ajjaq muwapi nanraka iyanaritu riaseng barahala, gauq maqkuwae risompa, ajjaq muappakereq, ajjaq muwappolo beyaq iyanaritu muaseng papole deceng , iya tona tu riaseng gauq akaperekeng gauq maqkuwae, nasabaq iya kapereq e tau riagellianna Puang Allahu ta'ala, ajjaq muwanre cammuguq (bawi) naharangengnge Muhammad nappesangkangnge Puang Allahu ta'ala, ajjaq muwappangaddi nappesangkangnge Puang Allahu ta'ala naharangeng Muhammad. Ajjaq muwenung pakkunesseq (tuwaq seri) nappesangkangnge Allahu ta'ala naharangengnge Muhammad. Ajjaq mupogauq riba (maqpaqjenne) nappesangkangnge Allahu ta'ala naharaengengnge Muhammad". 
Nakado Arung Matowae sibawa to WajoE.

Berkata Arung Matowa : "Katakanlah wahai Datok (Sulaiman) apa yang engkau inginkan untuk dilakukan".
Berkata Datok : "Janganlah kalian mempercayai bunyi bunyian yang bermakna baik atau buruk bila ada yang kalian kerjakan. Janganlah memberi sesajian, itulah yang dinamakan berhala. Perbuatan demikian adalah menyembah berhala. Janganlah mengeramatkan sesuatu, janganlah kalian meramal dengan melihat telapak tangan yang dianggap mendatangkan kebaikan itulah yang dinamakan mengeramatkan. Itikad demikian adalah perkataan orang kafir sedang orang kafir itu orang yang dibenci oleh Allah Swt. Janganlah memakan binatang yang tak ada lehernya (babi) diharamkan oleh Nabi Muhammad dilarang oleh Allah Ta'ala. Janganlah kalian berzina dilarang oleh Allah Ta'ala diharamkan oleh Nabi Muhammad. Janglah meminum tuak (hasil fermentasi) dilarang oleh Allah Ta'ala diharamkan Nabi Muhammad. Jangan melakukan riba (membungakan harta). Maka mengangguklah Arung Matowa bersama orang Wajo.

Nakkedana Datoq madecenni Arung Matowa ana mukadoiwi adakku tanoo ri talagae "Taqkumelawe"
Nanoona Datoq sibawa Arung Matowae naccoena to Wajoe.

Berkata Datok, karena engkau Arung Matowa mengiyakan kataku, maka baiklah kita turun ke telaga "Taqkumelawe". Maka turunlah Datok bersama Arung Matowa dan mengikutlah orang Wajo.

Makkedai Arung Matowae Sangkuru riwettu kuwana ri Talagae siyong nakkeda : "Arengkalinga manekko ri aseq ri awa, oraiq alauq, maniyang manorang, lisuga pangaliqku nattudduwangnge soloq nalelisu gauq majaqku nattudduwangnge soloq sininna gauq nappesangkangnge Puang Allah ta'ala naharangengnge Muhammad".

Berkata Arung Matowa La Sangkuru diwaktu berada di Telaga : "Dengarlah kalian wahai yang diatas, dibawah, barat timur, selatan utara, apakah kembali pangaliku yang dihanyutkan arus (barulah) akan kembali perbuatan burukku yang dihanyutkan arus segala perbuatan yang dilarang Allah Ta'ala diharamkan Nabi Muhammad.

Nasamateru sangngodi to Wajoe mappaiyyo makkeda pada massaraqtuko. Narisareq inna Arung Matowae ri to Wajoe nannappasi nasareqtui ri Datoq Arung Matowae nainappana padammala paqsarettu to Wajo ri Datoq

Bergemuruhlah orang Wajo mengiyakan. Berkata (Datok) bersihkanlah badan kalian. Disucikanlah Arung Matowa diikuti orang Wajo kemudian diajarkan cara membersihkan diri oleh Datoq.

Napada purana diyoq to Wajoe mappepaccing naenreqna mappatettiq nakkeda Datoq ri Arung Matowae : "Assahadaqko Arung Matowa namasseq paddissengengmu ri Allahu ta'ala majeppu Allah ta'ala seuwwa. Assempajangko namasseq pappejeppumu ri Allahu Ta'ala, nasaba iya sempajangnge koniritu mappassewwae, appuwasako namasseq paddissengengmu, Allah Ta'ala masiya kuwa elona, deq duwanna elona jajimani, elona teqjajimani, paqsui sekkeqmu, appittarao namasseq paddissengengmu Allah Ta'ala mi pakangkao, enrekko hajji rekko paullewatakkaleko, mupaulle warangparang, musalewangngiwi paddimonrimmu, ajjumako muisseng engka aqkajanna Allahu Ta'ala enrengnge akowasanna nasaba Allahu Ta'ala"

Setelah selesai orang Wajo selesai mandi bersih, naiklah mengeringkan badan. Berkata Datok pada Arung Matowa : "Bersyahadatlah Arung Matowa agar kokoh pengetahuanmu pada Allah Ta'ala. Sesungguhnya Allah Ta'ala itu Esa. Shalatlah agar teguh keimananmu pada Allah Ta'ala. Karena shalat adalah sarana mengesakanNYA. Berpuasalah agar teguh pengetahuanmu pada kehendakNYA. Tak ada yang menyamai kehendakNYA. Keluarkanlah zakatmu, bayarlah zakat fitrah agar kokoh pengetahuanmu bahwa Allah Ta'ala lah yang menciptakanmu. Naik haji lah bila mampu dan menyeimbangkan dengan akhiratmu. Shalat Jumat lah agar engkau tahu mengetahui kebesaran serta kekuasaan Allah Ta'ala.

====================================================

Diterimanya Islam sebagai agama resmi kerajaan, berdampak pentingnya dibangun struktur Parewa Sara. Yaitu sebuah lembaga keagamaan yang terdiri dari Qadhi (Petta KaliE), Imam (Puang Imang), Khatib (Katteq), Bilal (Bilala) dan Doja.
Melalui Parewa Sara tersebut, Islam diajarkan lebih merata ke masyarakat. Serta pelaksanaan ibadah seperti Shalat Fardhu 5 waktu, Shalat Jum'at, Pernikahan dan seterusnya dapat dijalankan.