Showing posts with label Iptek. Show all posts
Showing posts with label Iptek. Show all posts

9 Teknik Propaganda

Dalam dunia perpolitikan modern (juga bisnis), propaganda menjadi sangat penting dilakukan pihak-pihak yang ingin memenangkan kompetisi. Bukan hanya dilevel makro, dalam arti dinamika antar negara. Bahkan sampai pada level mikro.
Berbagai definisi tentang propaganda. Salah satunya seperti yang dikutip dari wikipedia. Propaganda adalah rangkaian pesan yang bertujuan memengaruhi pendapat dan kelakuan masyarakat atau sekelompok orang.
Propaganda tidak menyampaikan informasi secara obyektif. Nilai benar salah adalah urusan lain. Menggiring opini publik kepada sebuah kesadaran berpikir yang diinginkan propagandis adalah yang utama.
Berikut ini 9 teknik propaganda yang sering digunakan.

1. Name Calling
Propaganda dengan memberikan sebuah ide atau label yang buruk. Tujuannya agar orang menolak dan menyangsikan ide tertentu tanpa mengoreksi/ memeriksanya terlebih dahulu (hal : 29)
Contoh yang bisa dilihat secara jamak. Misalnya bila sebuah person/kelompok dilabeli sebagai "Pelaku Makar". Atau misalnya yang berbau agama seperti "Munafik".

2. Glittering Generalities
Adalah mengasosiasikan sesuatu dengan kata bijak yang dugunakan untuk membuat kita menerima dan menyetujui hal itu tanpa memeriksanya terlebih dahulu. (hal :31)
Contoh seperti "Orang pintar, minum xxxx", 

3. Transfer
Teknik propaganda transfer digunakan udengan memakai pengaruh seseorang atau tokoh yang paling dikagumi dan berwibawa di lingkungan tertentu. (hal : 32)
Sebagai contoh, penggunaan poster raksasa pemimpin pertama Korea Utara, Kim Il Sung pada parade parade militer Korea Utara. Sementara pemimpin Korea Utara saat ini adalah cucu dari Kim Il Sung. 
Contoh lain adalah digunakannya lukisan Syeh Yusuf pada baliho kampanye pemilu DPRD di salah satu kabupaten di Sulsel. Lengkap dengan tulisan "Keturunan ke-7 Syeh Yusuf".

4. Testimonials
Perkataan manusia yang dihormati atau dibenci bahwa ide atau program/produk adalah baik atau buruk. (hal : 32). Digunakan baik dibidang kegiatan politik maupun komersial.
Sebagai contoh, mungkin kita masih ingat kalimat dari seorang ustadz kondang ini : "Alhamdulillah sekarang sudah ada karomah", yang seolah hanya produk itu direstui oleh ustadz. Atau contoh lain iklan seorang ustadzah : "Mamah tahu sendiri. Haaalall"

5. Plain Folk
Teknik propaganda ini adalah mengidentikkan ide menjadi milik masyarakat. Sehingga publik sebagai target propaganda merasa memiliki ide tersebut. Intinya adalah menjadikan ide atau tokoh sebagai milik masyarakat atau komunitas atau ummat tertentu.




6. Card Stacking
Meliputi seleksi dan kegunaan fakta atau kepalsuan, ilustrasi atau kebingungan dan masuk akal atau tidak masuk akal suatu pernyataan agar memberikan kemungkinan terburuk atau terbaik untuk suatu gagasan, program, manusia atau barang. (hal : 33-34)
Teknik propaganda ini menekankan hanya pada satu sisi saja dan mengabaikan sisi lain. 
Sebagai contoh : "Piye kabare, enak jamanku toh". Seolah olah pada masa itu ketenangan diperoleh bukan melalui represi. Juga kesejahteraan seolah-olah hanya kerja satu orang. Padahal ekonomi suatu negara sangat tergantung dari ekonomi makro. Misalnya harga minyak mentah dunia saat itu.

7. Bandwagon Technique
Teknik ini menggembar gemborkan sukses yang dicapai seseorang, lembaga atau institusi. Sering digunakan baik dibidang politik dan ekonomi.
Sebagai contoh : "Swasembada pangan orde baru"

8. Reputable Mouthpiece
Yaitu teknik propaganda dengan mengemukakan sesuatu yang tidak sesuai kenyataan dengan cara menyanjung berlebihan pemimpin tetapi tidak tulus. Tujuannya agar propagandis aman dari lingkaran kekuasaan
Contohnya banyak disekitar kita. Tetapi tidak perlu diangkat, karena poinnya adalah mengenal teknik propaganda :)  

9. Using All Form of Persuations
Teknik membujuk target dengan rayuan, himbauan dan iming-iming. Paling sering digunakan saat kampanye pemilu. Intinya adalahpenggunaan berbagai macam bentuk pendekatan.

Di masa teknologi informasi saat ini. Sangat mudah bagi kita menerima berbagai informasi yang boleh jadi itu adalah sebuah propaganda yang terstruktur. Sehingga sangat penting bagi kita semua untuk cerdas mencerna, obyektif dalam mengumpulkan dan menganalisis informasi tersebut.

Disarikan dari buku :
Judul : Komunikasi Propaganda
Penulis : Nurudin
Penerbit : PT Remaja Rosdakarya
Cetakan kedua 2002

The Turning Point : Titik Balik Peradaban, Sains, Masyarakat dan Kebangkitan Kebudayaan

Judul Asli : THE TURNING POINT Science, Society and The Rising Culture. Bantam Book, New York
Penulis : Fritjof Chapra
Penerbit : Cetakan Pertama tahun 1997 sampai cetakan keenam 2004 - Penerbit Bentang
Cetakan Ketujuh, Mei 2007 - Penerbit Jejak
Tebal : 571 halaman + xxiii

Kemajuan teknologi membawa manusia pada peradaban yang maju di satu sisi. Namun disisi lain, membawa manusia ke pinggir jurang kehancurannya. Chapra, menulis hal ironis ini dengan kalimat, "Pengeluaran militer dunia kira kira 425 Milyar Dollar....Sementara itu lebih dari lima belas juta orang meninggal karena kelaparan, lima ratus juta lainnya kekurangan gizi dengan serius"(hal 4).

Perlombaan senjata nuklir negara adidaya, menghabiskan dana besar. Sementara, dampak yang diakibatkan oleh senjata nuklir sangat mengerikan bagi bumi kita. Bahkan, terlepas dari ancaman nuklir, bencana ekologis mengancam ekosistem kita. Udara, tanah, air, perlahan dipenuhi limbah beracun sebagai dampak dari kemajuan teknologi tersebut.

Chapra menuliskan tentang pola perkembangan peradaban, mulai Sumero-Akadia, Mesir, Aegean, Syiria, Yunani, Islam, Kristen Ortodoks dan Barat dalam bentuk grafik yang berkembang, puncak dan perlahan menurun. Mengutip Toynbee, Chapra mengatakan "Terjadinya suatu peradaban itu sendiri dari suatu transisi dari kondisi statis ke aktivtas dinamis. Transisi ini mungkin terjadi secara spontan, melalui pengaruh beberapa peradaban yang telah ada atauu disintegrasi satu peradaban atau lebih ke generasi yang lebih tua" (hal.11)
Pengaruh pemikiran taoisme pada Chapra kemudian tergambar pada bagaimana peradaban itu berkembang dan menurun. Chapra menilai, peradaban kita lebih dominan aspek Yang atau maskulin. Sistem patriarki didorong dengan budaya bendawi mengarahkan pada ketidak-seimbangan budaya dan menjadi akar dari krisis peradaban kita. 
Pada bagian kedua yang terdiri dari dari dua bab, Chapra mengurai tentang Paradigma pengetahuan. Bab pertama tentang paradigma mekanistik yang berjudul "mesin dunia ala Newton". Sedang bab kedua tentang fisika baru. 

"Antara tahun 1500-1700 terdapat suatu perubahan dramatis pada cara manusia menggambarkan dunianya dan dalam keseluruhan cara berpikir mereka. Mentalitas dan persepsi baru tentang kosmos memberikan sifa sifat pada peradaban barat yang menjadi karakteristik peradaban modern. Mentalitas dan persepsi tersebut menjadi dasar paradigma yang telah mendominasi kebudayaan kita selama tiga ratus tahun yang lalu dan kini sudah hampir berubah" (hal.43)


Thomas Aquinas memadukan sistem alam ala Aristoteles dengan teologi dan etika Kristen dan menetapkan kerangka konseptual selama abad pertengahan. Hingga kemudian, kemunculan Nicholas Copernicus yang membantah pandangan geosentrik Ptolemy. Kemudian dilanjutkan dengan Galileo yang memperjelas hipotesa Copernicus tersebut.

Berikutnya, seorang Inggris, Francis Bacon merumuskan metode ilmu empiris yang menyerang filsafat tradisional. Disinilah perubahan mendasar pandangan terhadap alam. Alam dalam pandangan tradisional adalah "ibu" atau "kawan", berubah menjadi "Budak yang ditaklukkan". Chapra kemudian menilai adanya pemikiran patriarki pada pemikiran Bacon.

Rene Descartes dan Isaac Newton, menyempurnakan pemikiran Bacon. Mengutip Descartes : "Kita menolak semua pengetahuan yang hanya berupa kemungkinan, dan kita berpendirian bahwa ita hanya percaya pada hal hal yang benar benar diketahui dan tidak ada keraguan tentangnya". (hal : 49). Kebenaran menurut Descartes adalah sesuatu yang pasti secara matematis. Kebenaran mestilah dapat dihitung dan terukur. Hal ini dilandasi keyakinan Descartes bahwa bahasa alam adalah matematika. Sumbangan besar Descartes terhadap ilmu pengetahuan adalah keraguan yang mendasar sebagai metode. Kelak menjadi "hipotesa" dalam penelitian kualitatif skripsi mahasiswa.

Sebagaimana Galileo dan Descartes, Isaac Newton juga menyakini bahwa semesta sistem mekanis yang bekerja sesuai dengan hukum matematika. Keberhasilan Newton adalah mempersatukan dua kecenderungan metode dimasanya. Yaitu metode empiris induktif yang diwakili oleh Bacon dan metode rasional deduktif yang diwakili oleh Descartes. Sampai pada titik ini, paradigma mekanistik dibangun dari pemikiran Copernicus, Galileo, Bacon, Descartes hingga dikunci oleh Newton. Mulai dari sistem semesta, metode induktif  dan deduktif, atom, gravitasi hingga mekanika Newton.

Gagasan tentang kosmos kemudian mulai bergeser, saat Einstein memperkenalkan teori relativitasnya. Ia bersama tokoh macam Niels Bohr, Max Planc, Heisenberg dan sebagainya mulai mengkritisi model atom klasik warisan Newton. Temuan terbaru saat itu seperti teori quantum, partikel sub atom dan seterusnya, kemudian mempengaruhi cara pandang terhadap alam semesta.

Generasi Einsten dan kawan kawan, adalah generasi yang memperkenalkan fisika baru dan perubahan paradigma pengetahuan tentang alam semesta. Mengutip Heisenberg : "dengan demikian, dunia tampak sebagai sebuah JARINGAN PERISTIWA YANG RUMIT, dimana hubungan berbagai jenis bertukar atau tumpang tindih atau bergabung sehingga menentukan tekstur secara keseluruhan" (hal : 79)


Dapat dipahami bahwa, paradigma mekanistik yang diusung Newton dan kawan kawanlah yang membangun peradaban kita saat ini. Mulai dari fisika, biologi, psikologi, ekonomi dan sebagainya. Warisan yang masih dapat dirasakan saat ini adalah mahasiswa mengerjakan skripsi, dan menggunakan metode kuantitatif. Penggunaan hipotesa, model induksi dan deduksi, serta penggunaan statistik adalah ciri kuatnya. Terlepas dari kemajuan yang merupakan dampak dari paradigma mekanistik, peradaban manusia di sisi lain berada di jurang kehancuran.

Kritik terhadap pandangan dunia mekanistik kemudian melahirkan pandangan dunia baru yang disebut pandangan dunia sistem. Atau sering juga disebut paradigma holistik. Gagasan dasarnya disebutkan Chapra : "Sistem adalah keseluruhan yang terintegrasi yang sifat-sifatnya tidak dapat direduksi menjadi sifat-sifat unit yang lebih kecil. Pendekatan sistem tidak memusatkan pada balok balok bangunan dasar atau zat zat dasar melainkan lebih menekankan pada prinsip prinsip organisasi dasar"(hal : 319).

Adanya kesaling hubungan dan kesaling terpengaruhan sebuah entitas dengan entitas lainnya sebagai sebuah sistem adalah sesuatu yang penting dalam pandangan dunia sistem ini. Pandangan ini lebih dari sekadar sains dan ilmu humaniora. Bahkan menjangkau pemikiran timur macam Taoisme. Chapra dengan cermat mencoba menghubungkan antara sains, humaniora dengan taoisme dan melihat adanya interkoneksitas pada disiplin yang berbeda. Chapra sangat rajin meminjam pendekatan taoisme dan timur dalam membedah banyak hal.

Ia memotret adanya fenomena perkawinan metode barat dan timur sebagai dampak dari pandangan dunia sistem : "karena tradisi tradisi filosofis dan religius timur selalu cenderung memandang jiwa dan tubuh sebagai suatu kesatuan, maka tidaklah mengherankan bahwa sejumlah teknik untuk mendakati kesadaran dari tingkat fisik dikembangkan di timur, signifikansi terapeutik dari pendekatan pendekatan meditatif ini semakin diperhatikan di barat, dan banyak terapis barat menyatukan teknik kerja tubuh timur macam Yoga, Ta'i Chi, dan Aikido ke dalam perlakuan mereka" (hal 427)

Munculnya sistem pertanian organik, metode penelitian kualitatif, adalah contoh terapan dari pandangan dunia sistem. Pandangan dunia yang spiritnya adalah menjaga dunia dari kesombongan manusia atas ilmu pengetahuannya.

Fallacy Post Hoc Ergo Propter Hoc

Logika, adalah ilmu yang mengurai tentang cara berpikir benar. Sering logika disamakan dengan Mantiq dalam Bahasa Arab. Logika sangat dibutuhkan dalam menganalisis sebuah pernyataan. Sesuatu yang benar sering diistilahkan dengan "logis". Adapun kekeliruan dalam berpikir disebut Fallacy. Dalam ilmu logika, banyak jenis Fallacy. Salah satunya adalah, Fallacy of Post Hoc Ergo Propter Hoc.



Fallacy of Post Hoc Ergo Propter Hoc adalah sebuah kesalah berpikir yang terjadi karena dua hal atau peristiwa (anggaplah X dan Y) yang terjadi secara bersamaan yang kemudian penyebab dinisbahkan pada salah satu kejadian/peristiwa tersebut. Penyebab terjadinya Fallacy ini adalah adanya kedekatan peristiwa kemudian dihubung-hubungkan meski tidak berhubungan. Lalu mengabaikan faktor faktor penyebab utamanya.

Sebagai contoh kalimat dibawah ini

"Ayam berkokok sebelum matahari terbit, oleh karena itu ayam menyebabkan matahari naik"

CONTOH lain yang agak mirip

"Jokowi mendarat di Jedah, Badai menyebabkan Crane jatuh di Mesjidil Haram, oleh karena itu kedatangan Jokowi menyebabkan jamaah haji tewas"
(bukan jonru yang bilang)


"Jokowi mendarat di Jedah", kita asumsikan X. Sedang "'Badai menyebabkan Crane jatuh di Mesjidil Haram, oleh karena itu kedatangan Jokowi menyebabkan jamaah haji tewas" kita asumsikan Y. Hal atau peristiwa X terjadi secara (hampir) bersamaan. Sehingga dengan menghubungkan, seolah olah X penyebab terjadinya Y. 

Untuk menghindari Fallacy of Post Hoc Ergo Propter Hoc seharusnya pendengar atau pembaca TIDAK menghubungkan kejadian kejadian yang tidak berhubungan. Atau menciptakan kesan seolah-olah peristiwa Y disebabkan peristiwa X dan tidak ada hubungan kausal diantaranya.

Sebagai penutup, hendaknya jangan karena kebencian membuat kita berprilaku tidak adil. Tidak adil dalam berpikir, bertutur dan berbuat. Salah satu ketidak adilan dalam berpikir adalah menggiring opini pada kebencian dengan argumen argumen yang pada dasarnya tidak logis. Selamat berinternet. Tetap logis yah kawan

Teori Pembangunan Dunia Ketiga (Bagian II)

TEORI MODERNISASI
Pada bagian pertama TEORI PEMBANGUNAN DUNIA KETIGA telah dibahas tentang awal terbentuknya teori pembangunan. Pada bagian kedua ini, akan dibahas secara singkat tentang 6 teori pembangunan/modernisasi antara lain :

1. Tabungan dan Investasi (Harrod - Domar)
Roy Harrod dan Evsey Domar secara terpisah berkesimpulan sama. Bahwa masalah keterbelakangan disebabkan kurangnya modal. Dalam hal ini, tabungan dan investasi. Bila tabungan dan investasinya rendah, maka pertumbuhan ekonominya juga rendah. Sebaliknya bila tabungan dan investasinya tinggi, pertumbuhan ekonominya juga tinggi. Singkat kata, modal lah yang menentukan pertumbuhan ekonomi.
Teori ini kemudian dimodifikasi namun tidak beranjak dari asumsi dasarnya yaitu pentingnya modal yang menjadi masalah pembangunan.

2. Etika Protestan (Max Weber)
Max Weber dianggap bapak sosiologi modern. Essainya tentang peran agama yang menyebabkan munculnya kapitalisme kemudian dibukukan dalam "The Protestant Ethic and Spirit of Capitalism". Weber mencoba menganalisa penyebab kemajuan kapitalisme dan berkesimpulan bahwa penyebab utamanya adalah etika protestan.
Dalam agama Protestan yang dikembangkan Calvin, mengatakan bahwa seseorang sudah ditakdirkan masuk surga atau neraka. Untuk mengetahuinya, maka dilihat kehidupannya didunia. Bila berhasil, hampir bisa dipastikan masuk surga begitupun sebaliknya.
Sehingga dalam bekerja, yang utama adalah untuk masuk surga, bukan mengumpulkan harta. Namun terlepas dari hal itu, dorongan untuk bekerja inilah yang menjadi spirit utama dalam kemajuan.

3. Dorongan Berprestasi (David Mc Clelland)
Dipengaruhi pemikiran Weber, David Mc Clelland membangun teori baru. Yaitu dorongan untuk berprestasi (The Need of Achievement ) atau N-Ach. Dalam teori ini dikatakan bahwa, orang berbuat bukan hanya karena mengharap imbalan yang besar tetapi juga kepuasan hasil kerja. Singkatnya, kepuasan hasil kerja adalah primer dan imbalan adalah sekunder.
Sebagai ahli psikologi sosial, Clelland meneliti lebih 1300 cerita anak anak dari 21 negara ditahun 1925. Dan 39 negara pada tahun 1950. Dari penelitian itu, Clelland berkesimpulan bahwa cerita yang mempunyai nilai N-Ach yang tinggi mempengaruhi karakter anak anak pada masyarakat setempat. 
Masih dalam kesimpulan Mc Clelland, N-Ach ini bukan sesuatu yang terberi, terwariskan. Akan tetapi sesuatu yang bisa dibangun, ciptakan. Oleh karena itu, peran orang tua sangat penting dalam memupuk N-Ach sedari dini.

4. Lima Tahap Pembangunan (W.W. Rostow)
Dalam bukunya di tahun 1960 "The Stages of Economic Growth, A Non Communist Manifesto", Rostow menguraikan tentang proses pembangunan dalam masyarakat. Sesuai dengan judulnya, Rostow mencoba membantah Dialektika Materialisme Historis ala Sosialis-Komunis tentang tahap masyarakat.
Perkembangan masyarakat dalam pandangan Rostow, terbagi lima tahap
a. Masyarakat Tradisional
b. Pra Kondisi Tinggal Landas
c. Lepas Landas
d. Bergerak ke kedewasaan
e. High Mass Comsumption
Pemikiran Rostow ini yang diadopsi oleh Pemerintah Orde Baru. Pembangunanisme atau Developmentalisme ala Rostow mewarnai berbagai kebijakan dimasa lalu.

5. Faktor-Faktor Non Ekonomi (Hoselitz)
Hoselitz, selain menguatkan teori Harrod-Domar tentang tabungan dan investasi, juga menekankan faktor faktor non ekonomi. Seperti, tengaga ahli, infrastruktur, transportasi, sistem komunikasi serta perubahan kelembagaan. Inti pemikiran Hoselitz adalah pembangunan membutuhkan modal (pengaruh Harrod Domar) dan tenaga ahli (faktor non ekonomi)

6. Manusia Modern (Alex Inkeles&Smith)
Alex Inkeles dan David Smith menekankan pembangunan pada faktor manusianya. Untuk mewujudkan pembangunan yang berhasil, bukan hanya urusan modal dan teknologi. Akan tetapi sumber daya manusia.

Pemikiran Weber dan Mc Clelland mewarnai pemikiran Inkeles dan Smith. Manusia Modern dalam pandangan Inkeles dan Smith adalah orang yang terbuka pada pengalaman dan gagasan baru. Berorientasi kekinian dan akan datang, mampu merencanakan, percaya bahwa manusia mampu menguasai alam.
Pendidikan, dalam pandangan Inkeles&Smith adalah sarana paling efektif untuk mengubah dan memodernkan manusia. Kemudian pengalaman kerja juga dipercaya Inkeles&Smith mampu mengubah manusia tradisional menjadi modern.

(Bersambung)

Teori Pembangunan Dunia Ketiga (Bagian I)

Seusai Perang Dunia II, dunia memasuki babak baru yaitu perang dingin. Antara dua pemenang Perang Dunia, yaitu blok barat (Amerika Serikat dan sekutu) dan blok timur (Uni Sovyet dan sekutu). Perang dingin ini, dalam arti memperluas pengaruh ke negara dunia ketiga. Berhubung negara dunia ketiga (yang kebanyakan baru merdeka) sedang berusaha membangun, maka perang dingin ini melibatkan teori teori ekonomi yang berusaha dicangkokkan pada negara dunia ketiga.

Berakar dari teori keuntungan komparatif. Asumsi dasarnya adalah, tiap negara memiliki kondisi alam yang berbeda beda. Sehingga dalam hubungan internasional yang saling tergantung, hendaknya sebuah negara melakukan spesialisasi produksi. Hal ini melandasi lahirnya teori pembagian kerja internasional. Berhubung negara negara dibelahan dunia utara, iklimnnya kurang subur. Akan tetapi memiliki SDM yang memadai. Sehingga semestinya melakukan spesialisasi dibidang industri. Sedang negara negara belahan dunia selatan, memiliki tanah subur. Tepat bila melakukan spesialisasi dibidang agraris. Dengan demikian, produksi hasil industri akan lebih murah dikomsumsi oleh negara dunia selatan ketimbang memproduksi sendiri. Sebaliknya, negara belahan dunia utara akan lebih murah mengkonsumsi hasil agraris ketimbang memaksa tanahnya yang kurang subur.

Dengan demikian, secara teoritik semestinya hubungan pedagangan internasional ini akan saling menguntungkan. Sehingga masyarakat dunia sejahtera. Dilandasi dengan teori Adam Smith tentang "Invisible Hand" yang menciptakan keseimbangan pasar, maka ekonomi dunia akan stabil.

Akan tetapi pada kenyataannya. Justru yang terjadi kebalikannya. Negara negara belahan dunia utara justru semakin sejahtera. Sedangkan negara negara selatan (yang umumnya baru merdeka setelah perang dunia II) justru semakin terpuruk.

Oleh karena itu lahir teori pembangunan yang bertujuan mencari solusi atas persoalan tersebut. Perang dingin terjadi bukan hanya diwilayah politik, akan tetapi pada teori ekonomi. Negara negara blok barat (setelah pertemuan Bretton Woods 1947 yang difasilitasi presiden AS) melahirkan beberapa teori teori modernisasi. Asumsi dasar kelompok teori teori ini adalah adanya faktor internal negara bersangkutan yang perlu dibenahi. Sebaliknya, ekonom dari blok timur melahirkan teori struktural yang berasumsi bahwa keterbelakangan itu justru disebabkan faktor eksternal.


Teori teori yang tergolong teori modernisasi antara lain, Tabungan dan Investasi (Harrod-Domar), Etika protestan (Weber), Dorongan berprestasi (Mc Clelland), Lima tahap pembangunan (Rostow), Faktor non ekonomi (Hoselitz) dan Manusia modernnya (Alex Inkeles dan Smith)
Sedang teori struktural (mengikuti teori struktur Karl Marx) terdiri dari teori industri substitusi impor (Presbich), teori imperialisme, sentuhan mematikan dan krenitisme (Baran),

5 Perbedaan Quick Count (QC) dan Real Count (RC)


Penggunaan jasa lembaga survey menjadi sangat penting sekaitan proses politik. Dengan ilmu statistik, survey yang dilakukan dapat memberikan gambaran tentang tingkat elektabilitas calon. Sehingga memberikan rekomendasi pada tim pemenang tentang langkah strategis apa yang harus diambil. Demikian pula setelah penghitungan suara. Gambaran perolehan suara dapat dengan cepat disimpulkan. Sehingga memberi kesempatan tim pemenang untuk segera mengklaim kemenangan dengan alasan mengawal suara.

Padahal banyak orang lupa. Bahwa survey itu menggunakan model induksi yaitu beberapa sampel yang kemudian digeneralisir. Bukan totalitas dari populasi yang diteliti, hanya beberapa sampel yang dianggap mewakili. Dengan garansi margin error yang rendah memberi kepastian akurasi angka angka yang dihasilkan lembaga survey.

Seusai pemungutan suara 9 Juli lalu, terjadi perbedaan pendapat beberapa lembaga survey pada media. Banyak orang tiba-tiba menghakimi lembaga survey yang tidak memenangkan jagoannya. Lembaga survey dianggap tidak kredibel, pesanan dan berbagai citra negatif dilekatkan. Pada tulisan ini saya tidak bermaksud membela lembaga survey dalam hal Quick Count. Namun hanya sekadar membandingkan dengan Real Count. Berikut ini beberapa perbedaan Quick Count dan Real Count


1. Sampel
QC = Sebagian dari total populasi dengan menggunakan rumus slovin atau rumus kretjie
RC = Total dari seluruh populasi yang ada

Pada QC, hanya mengambil sebagian dari total yang dihitung. Biasanya menggunakan rumus slovin atau rumus kretjie. Jadi QC merupakan kesimpulan yang bersifat general. Sedangkan pada RC dilakukan secara berjenjang disemua TPS kemudian PPS, PPK hingga KPU RI

2. Tujuan
QC = Memberikan rekomendasi pada tim pemenang dan kadang membentuk opini masyarakat
RC = Memberikan hasil resmi dan legitimasi pada peserta pemilu dan masyarakat  
Jelas

3. Proses
QC = Cepat, sesuai namanya
RC = Berjalan sesuai tahapan dan kondisi real lapangan (pegunungan,pulau dsb)
Berhubung QC hanya mengambil sebagian populasi sebagai sampel dan tidak melalui proses pengisian formulir yang rumit, maka prosesnya berjalan cepat. Berbeda dengan real count yang berjalan sesuai dengan tahapan. Meskipun misalnya rekapitulasi bisa dilakukan lebih cepat, tetap tidak bisa dilakukan rekapitulasi pada jenjang lebih tinggi (PPS keatas) bila belum masuk tahapannya. Belum lagi pengisian formulirnya, apalagi pada pemilu DPR,DPD dan DPRD, yang sangat rumit. Belum juga persoalan teknis lapangan, misalnya didaerah TPS didaerah kepulauan yang terkendala dengan ombak yang besar sehingga pengiriman kotak suara ke PPS menjadi terhambat. Atau misalnya lokasi TPS dipegunungan yang tak ada akses jalan raya sehingga butuh waktu berhari hari melewati jalan berlumpur dan berjurang.

4. Tingkat Akurasi
QC = Sesuai margin error, teknik sampling
RC = Kesesuaian angka pada formulir
Dalam QC, tingkat akurasi bisa disesuaikan. Misalnya 95% (margin error 5%) atau 98% (margin error 2%) akan memengaruhi jumlah sampel. Semakin tinggi sampel yang digunakan maka akurasinya juga semakin tinggi. Demikian pula teknik sampling yang digunakan juga menentukan akurasi hasil penghitungan. Sementara pada RC, tingkat akurasi perolehan suara sangat tergantung pada kesesuaian angka pada formulir. Mulai dari penentuan sah tidaknya suara, kemudian proses transfer ke Model C2 Besar, kemudian ke model C dan seterusnya secara berjenjang. Semakin sesuai angka angka yang ada antar formulir yang satu dengan yang lain, maka semakin tinggi tingkat akurasinya

5. Pelaksana
QC = Lembaga Survey
RC = Lembaga penyelenggara pemilu
Jelas
Demikian 5 perbedaan Quick Count (QC) dan Real Count (RC), semoga bermanfaat dan dapat mengantarkan kita semua pada kebijaksanaan dalam menyikapi kesimpangsiuran informasi saat ini.

Mengenal Ekofeminisme

Ekofeminisme (Ecofeminism) adalah salah satu dari sekian ragam pemikiran feminis yang dikenal. Bersama Feminisme Liberal, Feminisme Radikal, Feminisme Sosialis, Feminisme Psikoanalisis dan Gender, Feminisme Eksistensialis, Feminisme Multikultural dan Global, serta Feminisme Postmodern, Ekofeminism memperkaya gagasan-gagasan feminisme. Ekofeminisme adalah aliran pemikiran feminis yang melihat ada keterkaitan antara alam dan perempuan dalam perspektif perlakuan budaya patriarki.

Istilah Ekofeminisme pertama diperkenalkan ditahun 1974 oleh Francoise d'Eaubonne dalam bukunya Le Feminisme ou la mort. Gagasan yang diusung adalah pandangan bahwa ada hubungan langsung antara opresi terhadap perempuan dan opresi terhadap alam. Menurut Karen J.Warren bahwa modus berpikir patriarki yang hirarkis, dualistis dan opresif telah merusak perempuan dan alam. Perempuan dinaturalisasi dengan digambarkan sebagai binatang. Sebaliknya alam difeminisasi dengan digambarkan seperti perempuan.

Pendapat Ekofeminisme

Beberapa asumsi pokok dalam ekofeminisme seperti yang digambarkan Karen J.Warren sebagai berikut :
1. Ada keterkaitan penting antara opresi terhadap alam dan opresi terhadap perempuan
2. Pemahaman terhadap alam dalam keterkaitan ini adalah penting untuk mendapatkan pemahaman yang memadai atas opresi terhadap alam dan opresi terhadap perempuan
3. Teori dan Praktek feminis harus memasukkan perspektif ekologi
4. Pemecahan masalah ekologi harus memasukkan perspektif feminis (366-367 : 1998)

Dalam perkembangannya, pemikiran ekofeminisme terbagi lagi beberapa varian antara lain : Ekofeminis Spiritual, Ekofeminis Sosialis, dan Ekofeminis Sosial-Konstruksionis. Beberapa tokoh ekofeminisme antara lain, Vandana Shiva, Starhawk, Susan Griffin, Dorothy Dinnerstein, Mary Daly, Marie Mies, Karen J. Warren dan tentu saja pencetusnya yaitu Francoise D'Eaubonne.


Referensi :
Feminist Thought : Pengantar paling komprehensif kepada arus utama pemikiran feminis
(Rosemarie Putnam Tong)

Paradigma Pelayanan Publik

Paradigma Pelayanan Publik
1.        Old Public Administration
Gagasan dasar dari pandangan ini ada dua yaitu 1) pemisahan antara politik dan administrasi, dan 2) pentingnya efisiensi. Denhart & Denhart (6 : 2007)
two key themes that served as a focus for the study of public administration for the next half century or more. First, there was the distinction between politics (or policy) and administration. Second, there was concern for creating structures and strategies of administrative management that would permit public organizations and their managers to act in the most efficient way possible.

Pemisahan ini memberi ruang kepada politisi untuk merumuskan kebijakan sedangkan para administrator bekerja lebih efisien dalam implementasi kebijakan. Mengutip Wilson, Septiani (2012) mengatakan, Wilson menuntut agar para administrator publik selalu mengutamakan nilai efisiensi dan ekonomis sehingga mereka harus diangkat berdasarkan kecocokan dan kecakapan dalam bekerja ketimbang keanggotaan atau kedudukan dalam suatu partai politik  


2.        New Public Management
Pada konsep ini, pimpinan didorong untuk menemukan cara-cara  baru dan inovatif untuk memperoleh hasil yang maksimal atau melakukan privatisasi terhadap fungsi-fungsi pemerintahan. Konsep New Publik Management dapat dipandang sebagai suatu konsep yang ingin menghilangkan monopoli pelayanan oleh instansi dan pejabat-pejabat pemerintah yang tidak efisien.
In the New Public Management, public managers are challenged either to find new and innovative ways to achieve results or to privatize functions previously provided by government. They are urged to “steer, not row,” meaning they should not assume the burden of service delivery themselves, but, wherever possible, should define programs that others would then carry out, through contracting or other such arrangements. The key is that the New Public Management relies heavily on market mechanisms to guide public programs.  (Denhart & Denhart, 13 : 2007)

Untuk lebih mewujudkan konsep New Publik Management dalam birokrasi publik, maka diupayakan agar para pemimipin birokrasi meningkatkan produktivitas dan menemukan alternatif atau cara-cara pelayanan publik berdasarkan perspektif ekonomi. Mereka didorong untuk memperbaiki dan mewujudkan akuntabilitas publik kepada pelanggan, meningkatkan kinerja, restrukturisasi, lembaga birokrasi publik, merumuskan kembali misi organisasi, dan prosedur birokrasi,dan melakukan desentralisasi proses penegembalian kebijakan.
Pada paradigma ini, masyarakat dipandang sebagai pelanggan, atau costumer bukan sebagai sesuatu yang harus dilayani. Orientasinya jelas yaitu untuk mendapatkan keuntungan maksimal dalam pengelolaan organisasi.

3.        New Public Service
Paradigma ini lahir dari kritik dua paradigma sebelumnya, yang menghendaki adanya pergeseran peran pemerintah pada konteks Government menjadi Governance. Kita dapat mendefinisikan governance sebagai keterlibatan dari otoritas publik. Kata pemerintahan acap kali digunakan merujuk pada struktur dan institusi pemerintahan. Adapun governance cenderung diartikan menjadi bagaimana otoritas publik dilibatkan, bagaimana warga negara diberi suara, serta bagaimana kebijakan dibuat berdasarkan pada isu-isu yang menjadi konsentrasi dari publik.
Jika pada paradigma Old Public Administration (OPA) mengedepankan sisi politik, paradigma New Public Management (NPM) mengedepankan sisi ekonomi, maka paradigma New Public Service mengedepankan pada sisi demokrasi. Masyarakat, tidak dilihat sebagai sesuatu yang harus dikuasai secara politis, atau dilihat sebagai konsumen yang harus dilayani berdasar kemampuan ekonominya. Namun, masyarakat dilihat sebagai citizenship, yaitu sebagai masyarakat yang harus dilayani tanpa harus dibedakan.
Dasar teori NPS adalah tentang Citizenship, Komunitas, Civil Society dan organisasi yang berkemanusiaan. Seperti yang dikatakan oleh Denhart & Denhart (44 : 2007)
Theorists of citizenship, community and civil society, organizational humanism and the new public administration, and postmodernism have helped to establish a climate in which it makes sense today to talk about a New Public Service. Though we acknowledge that differences, even substantial differences, exist in these various viewpoints, we would suggest there are also similarities that distinguish the cluster of ideas we call the New Public Service from those associated with the New Public Management and the Old Public Administration.

Mengurai prinsip NPS seperti pendapat Denhart & Denhart, Sri Yuliani (3-4 : 2007) menyebutkan tentang prinsip pertama yaitu Serve Citizen, not Costumers sebagai berikut :
Dalam New Public Management, masyarakat pengguna jasa publik disamakan dengan ‘customer’ sebagaimana istilah dunia bisnis untuk menyebut pengguna produknya. Customer adalah konsep dalam teori ekonomi liberal yang memahami manusia sebagai ‘economic man’ (makhluk ekonomi) yang tindakannya dimotivasi oleh dorongan untuk memaksimalkan pemenuhan kebutuhan materialnya. Manusia dilihat sebagai individu  yang dapat mengambil keputusan secara otonom dan suka rela. New Public Management berpendapat pemerintahan yang digerakkan oleh customer-driven menekankan akuntabilitas, inovasi, pilihan pada pelayanan, dan pengurangan pemborosan, karena itu lebih unggul dibanding pemerintahan birokratis. Tujuan utama administrasi publik adalah memberikan pelayanan dengan kualitas terbaik sehingga memuaskan customer sebagaimana dunia bisnis.
New Public Service memandang publik sebagai ‘citizen’ atau warga negara  yang mempunyai hak dan kewajiban publik  yang sama. Tidak hanya sebagai customer yang dilihat dari kemampuannya membeli atau membayar produk atau jasa. Citizen adalah penerima dan pengguna pelayanan publik yang disediakan pemerintah dan sekaligus juga subyek dari berbagai kewajiban publik seperti mematuhi peraturan perundang-undangan, membayar pajak , membela Negara, dan sebagainya. New Public Service melihat publik sebagai warga negara yang mempunyai hak dan kewajiban dalam komunitas yang lebih luas. Adanya unsur paksaan dalam mematuhi kewajiban publik menjadikan relasi Negara dan publik tidak bersifat sukarela. 

Adapun tentang prinsip kedua yaitu Seeks the Public Interest atau mengutamakan kepentingan publik, Sri Yuliani berpendapat :
New Public Management melihat publik sebagai terdiri dari individu-individu yang dapat membuat keputusan berdasarkan kepentingan pribadinya. Pilihan atau keinginan individu lebih utama dibanding pilihan atau keinginan kolekstif. Karena itu tanggungjawab administrasi berkenaan dengan kepentingan publik menjadi tidak relevan dalam New Public Management.  Menurut paradigma yang terinspirasi oleh teori pilihan publik ini, “public interest”  sebagai konsep atau suatu yang ideal menjadi tidak bermakna, karena dalam ranah pasar , pilihan individu lebih utama daripada tindakan kolektif yang berlandaskan nilai-nilai bersama. Asumsi bahwa kepentingan pribadi merupakan basis paling tepat bagi pengambilan keputusan membuat kepentingan publik menjadi tidak relevan dan tidak mungkin untuk dirumuskan

Sedangkan prinsip ketiga NPS seperti yang dirumuskan Denhart&Denhart yaitu Value Citizenship over Entrepreneurship atau Kewarganegaraan lebih berharga daripada kewirausahaan yang dijelaskan oleh Sri Yuliani ( 5: 2007)
Prinsip ini berimplikasi pada peran pemerintah dan relasinya dengan masyarakat.  Peran pemerintah di masa lalu lebih bersifat mengarahkan masyarakat melalui fungsi-fungsi yang bersifat langsung dan pengendalian  seperti fungsi pengaturan atau regulasi, pemberian layanan, menetapkan aturan dan insentif. Kehidupan masyarakat modern yang makin kompleks menuntut peran pemerintah bergeser dari fungsi controlling ke agenda setting, fasilitasi, negosiasi atau “brokering” solusi untuk memecahkan problem-problem publik

Prinsip berikutnya yaitu Think Strategically, Act Democratically atau Berpikir strategis bertindak demokratis, dijelaskan oleh Denhart&Denhart (43: 2007) yaitu : Policies and programs meeting public needs can be most effectively and responsibly achieved through collective efforts and collaborative processes. Hal ini berarti usaha kolektif dan proses yang kolaboratif akan membuat kebijakan dan program yang dibuat untuk menjawab kebutuhan publik akan lebih efektif dan efisien.
Selanjutnya prinsip Recognize that Accountability Isn’t Simple yaitu tahu bahwa akuntabilitas bukan hal sederhana. Sri Yuliani (6 :2007)
Aparatur publik harus mengutamakan ketaatan pada konstitusi,hukum, nilai masyarakat, nilai politik, standard profesional, dan kepentingan warga negara. Pertanggungjawaban administrasi publik dalam Administrasi Negara Lama bersifat hirarkis dan legal. Administrator tidak boleh banyak melakukan diskresi. Mereka hanya melaksanakan kebijakan ,aturan atau petunjuk yang telah digariskan atasan atau pejabat yang dipilih secara politis. Karena akuntabilitas dimaksudkan untuk menjamin bahwa administrator mematuhi standard dan peraturan/prosedur pelaksanaan

Serve rather than Steer, adalah prinsip keenam menurut Denhart&Denhart (43:2007). Prinsip ini berarti administratur diharapkan lebih berpandangan untuk melayani ketimbang mengarahkan. Sri Yuliani menulis (7:2007) :
Aparatur publik dituntut menerapkan kepemimpinan yang berlandaskan nilai kebersamaan dalam membantu warga negara mengartikulasikan dan memenuhi kepentingan bersama bukan sekedar mengendalikan atau mengarahkan masyarakat menuju arah/tujuan baru

Adapun prinsip ketujuh atau terakhir adalah Value People, Not Just Productivity, yang berarti menghargai manusia, lebih dari sekedar produktifitas. Denhart&Denhart menulis (43:2007)
Public organizations and the networks in which they participate are more likely to be successful in the long run if they are operated through processes of collaboration and shared leadership based on respect for all people

Prinsip ini menekankan agar administratur memperlakukan publik sebagai manusia dengan hormat sebagaimana prinsip-prinsip kemanusiaan.

Paradigma Administrasi Publik

Secara harfiah, paradigma berarti pandangan. Paradigma administrasi berarti pandangan tentang administrasi. Paradigma administrasi berkembang sesuai dengan perkembangan manusia. Istilah paradigma dalam administrasi menurut Robert T. Golembiewski (Thoha 18 : 2008) hanya dapat dimengerti dalam hubungannya dengan istilah lokus dan fokusnya. Sehingga paradigma administrasi mulai dari yang paling sederhana hingga yang paling kompleks dapat dimengerti. Namun secara ilmiah, perkembangan administrasi dimulai ditahun 1900 yang hingga saat ini telah melewati lima jenis paradigma antara lain :



1.  Paradigma Dikotomi Politik dan Administrasi (1900-1926)
Goodnow dalam Keban (32.2008) mengungkapkan bahwa politik harus memusatkan perhatiannya pada kebijakan atau ekspresi dari kehendak rakyat, sedang administrasi memberi perhatiannya pada pelaksanaan atau implementasi dari kebijakan atau kehendak tersebut. Pemisahan antara politik dan administrasi dimanifestasikan oleh pemisahan antara badan legislatif yang bertugas mengekspresi kehendak rakyat, dengan badan eksekutif yang bertugas mengimplementasikan kehendak rakyat

2.             Prinsip-prinsip administrasi (1927-1937)
Paradigma ini diusung oleh Willoughby yang menyatakan bahwa prinsip administrasi adalah prinsip administrasi, dalam artian bukan prinsip ilmu lain (Nawawi 105:2009). Paradigma ini lebih menekankan fokusnya pada prinsip-prinsip administrasi yaitu POSDCORB (Planning, Organizing, Staffing, Directing, Coordinating, Reporting and Budgeting) dari pada lokusnya yang dianggap bisa berlaku universal

3.             Administrasi negara sebagai ilmu politik (1950-1970)
Paradigma ini merupakan kritikan dari paradigma sebelumnya yang menolak prinsip administrasi yang universal. Asumsi utama yang dibangun adalah administrasi negara bukanlah sesuatu yang bebas nilai yang dapat berlaku dimana saja. Namun administrasi negara tentu dipengaruhi oleh nilai-nilai tertentu. Pada titik ini terjadi persinggungan antara nilai administrasi negara di satu sisi dan nilai politik disisi lain.
Akhirnya John Gaus dalam Keban (33:2008) secara tegas mengatakan bahwa teori administrasi publik sebenarnya juga teori politik

4.             Administrasi negara (1956-1970)
Paradigma ini mencoba untuk mengkaji kembali secara ilmiah dan mendalam, prinsip-prinsip manajemen yang pernah populer sebelumnya. Menurut James D. Thompson dalam Ismail Nawawi (104:2009) bahwa dalam melaksanakan pengaturan dan keteraturan negara diperlukan ilmu dan teknologi administrasi sebagai sarana berpikir dan bertindak sehingga tugas-tugas kenegaraan dapat membuahkan hasil yang memuaskan semua pihak. Adapun fokus dari paradigma ini adalah perilaku organisasi, analisis manajemen, penerapan teknologi modern, analisis sistem dan sebagainya.

5.             Administrasi negara sebagai administrasi negara (1970-sekarang)
Paradigma ini memiliki fokus dan lokus yang jelas yaitu berfokus pada teori administrasi, teori manajemen dan kebijakan publik. Sedang lokusnya adalah masalah-masalah dan kepentingan publik. Paradigma ini dikemukakan oleh Nicholas Henry.

Hari-Hari Baik dan Hari-Hari Naas

Keteraturan Semesta
Sebelum membincang tentang hari-hari baik dan hari-hari naas, mari kita membincang tentang waktu.

Tuhan menciptakan waktu secara linear tanpa mundur sedikit pun kebelakang. Namun kita pahami tentang waktu sebenarnya adalah periode dari keteraturan semesta. Bumi kita, memiliki membutuhkan waktu 364 hari lebih beberapa jam untuk mengelilingi matahari. Kita sebut waktu untuk berevolusi itu selama 1 tahun. Lalu, kita membagi 1 tahun itu selama 12 bulan. Kalender berbasis revolusi bumi terhadap matahari kita sebut sebagai kalender solar. Sistem kalender romawi (masehi) dan persia berbasis revolusi bumi pada matahari. Kelebihan beberapa jam, jika cukup 4 tahun maka cukup sehari. Makanya, tiap 4 tahun (tepatnya dikelipatan 4, misalnya tahun 2000, 2004, 2008, 2012, dst) ditambahkan waktu sehari dibulan Februari. Menjadi tanggal 29 Februari. Kita sebut sebagai tahun kabisat.

Adapun kalender Hijriah berbasis perputaran bulan pada bumi, atau revolusi bulan terhadap bumi. Kita sebut sebagai kalender lunar. Waktu yang digunakan untuk menyelesaikan satu kali revolusi bulan terhadap bumi adalah 29 hari, 12 jam, 44 menit dan 9 detik. Sehingga selisih 10 hari, 17 jam, 4 menit dan 37 detik dibanding kalender solar.

Bagaimana dengan Saturnus, planet bercincin dengan jarak ke matahari lebih jauh dari bumi ? Saturnus menghabiskan waktu 29 tahun (ukuran bumi) untuk menyelesaikan satu kali revolusinya terhadap matahari. Dengan 56 satelit (bulan), saya menjadi sangsi, andai Saturnus dihuni, maka akan banyak pertentangan masalah kalender, terutama yang berbasis lunar systemnya :)

Bagaimana dengan anggota tata surya kita, macam komet dan berbagai benda angkasa lainnya ? Komet Halley memiliki lintasan lebih panjang dari Komet Encke sehingga berevolusi pada matahari lebih lama. Namun masih ada komet yang mengunjungi tata surya kita dengan waktu revolusi ratusan bahkan ribuan tahun (ukuran bumi).


Tata surya kita hanya segelintir dari ratusan, bahkan ribuan tata surya lain dalam galaksi milky way kita. Sementara galaksi milky way kita ini hanya segelintir dari galaksi lain dalam semesta. Manusia menghitung jarak dengan ukuran kecepatan cahaya (150.000km/det). Jarak satu galaksi ke galaksi lain butuh ratusan tahun cahaya. Betapa luasnya semesta, betapa relatifnya waktu !!!

Tuhan Maha Baik, tentu semua ciptaanNYA baik. Tidak ada yang buruk. Keburukan, lahir dari perbandingan akal manusia, atau kurangnya intensitas kebaikan. Jadi tidak ada keburukan hakiki. Manusia, sebagai bagian dari semesta, tentu sedikit banyaknya dipengaruhi oleh semesta.

Rotasi bumi pada matahari menyebabkan siang-malam. Siang, berlimpah sinar matahari yang mendukung proses fotosintesa pada tanaman. Malam, banyak makhluk menggunakan untuk beristirahat (walau sebagaian digunakan untuk mencari makan). Sehingga banyak menjadikan malam waktu untuk beristirahat.

Revolusi bumi pada matahari menyebabkan musim. Didaerah subtropis, dikenal 4 musim. Sedangkan didaerah tropis dikenal 2 musim (tentu diluar musim penyakit, musim buah-buahan, atau musim kampanye,hehe)

Bulan adalah benda angkasa terdekat dengan bumi. Sehingga otomatis, bulan memiliki gaya gravitasi yang paling kuat diantara benda angkasa lainnya dalam mempengaruhi air. Terjadi pasang-surut akibat revolusi bulan terhadap bumi. Pasang surut air laut ini pada gilirannya mempengaruhi tanaman dan binatang air. Muncullah rutinitas makhluk akibat pengaruh gravitasi bulan. Pada gilirannya mempengaruhi manusia.

Demikian pula dengan pantulan sinar matahari terhadap bulan. Gerakan bulan yang berevolusi menyebabkan pemantulan sinar matahari pada muka bulan bervariasi. Inilah yang dihitung dalam kalender luar. Mulai dari kemunculan (bulan sabit), bulan purnama hingga tepu lotong. Bagi pelaut, pemancing dan penangkap ikan lainnya, terutama di laut, akan sangat dipengaruhi oleh jadwal bulan. Sementara musim hujan/angin barat (bare') dan musim kemarau/angin timur (timo') disebabkan oleh revolusi bumi pada matahari seperti yang disebut tadi.

Tubuh manusia didominasi air. Sekitar 70%-80% tubuh manusia adalah air. Sehingga, sedikit banyaknya, tubuh manusia dipengaruhi oleh gravitasi bulan. Bagi manusia, antara jasmani dan ruhaninya saling berpengaruh. Oleh karena itu, sangat wajar ada waktu-waktu tertentu manusia sangat perlu untuk mengingat Tuhannya. Di lain waktu, sangat pas bagi manusia untuk mencari kebutuhan duniawinya.

Pada penanggalan hijriah yang berbasis bulan, terdapat hari-hari baik dan hari-hari naas. Sebenarnya, hari-hari baik adalah hari yang secara kosmik, sangat pas bagi manusia untuk mencari urusan duniawinya. Sementara yang dimaksud hari-hari naas, adalah hari dimana kondisi alam sedemikian rupa sehingga mudah bagi manusia untuk kehilangan keseimbangan jiwanya. Pada gilirannya gampang mendapat kecelakaan. Kita sebut itu sebagai hari naas. Padahal sebenarnya, hari naas itu adalah hari dimana membutuhkan ingatan pada Tuhan yang lebih banyak. Dan disisi lain, butuh lebih banyak bersedekah dibanding hari lain untuk menciptakan keseimbangan kosmik.

Hari Baik dan Hari Naas
Pernah suatu hari, beberapa teman yang berprofesi petani berdebat. Ada yang ingin menanam padi besoknya dengan alasan bahwa semua hari itu baik. Ada juga yang masih menunggu beberapa hari kedepan dengan alasan menunggu hari baik. Mereka menghubungi saya untuk membantu menetapkan waktu tanam padinya. Tentu ini bukan hal mudah bagi saya yang bukan petani. Hari itu saya cuma menjawab bahwa keduanya benar. Semua hari itu baik (dalam artian pada sisi penciptaan/esoteris) dan ada hari hari tertentu yang lebih baik (dalam artian pada sisi kemanusiaan).
Lontara berisi waktu baik dan naas dalam sebulan

Salah seorang dari mereka menggunakan sistem 5 hari seminggu (bukan 7 hari). Sistem ini disebut Pasa lima-lima. Anehnya, sistem mingguan seperti ini banyak dilakukan masyarakat sebelum hari pasar ditetapkan dinas pasar. Kejadian itu menjadi awal bagi saya untuk mengetahui rahasia waktu.

Bagi orang-orang tertentu yang pengetahuannya melampaui rahasia kosmis, tentu sangat paham pengaruh semesta (dalam hal ini bulan) terhadap bumi dan isinya. Jadi, hal yang wajar saja jika seorang menyusun jadwal hari-hari baik dan hari-hari naas.
Lontara berisi waktu baik dan naas tiap hari dalam sepekan
Tema berkait : Waktu mendirikan rumah menurut lontara bola

Dilema Manusia Modern
Bagi orang-orang dulu, mengikuti jadwal hari baik dan naas dalam kehidupannya bukan hal sulit. Sebab segala macam keterbatasan masa lalu menyebabkan mobilitasnya rendah. Sedangkan kita manusia modern, berada dizaman yang serba cepat. Bagi pegawai/karyawan/siswa yang kalendernya berbasis solar (masehi), tidak mengindahkan lagi kaidah hari baik dan hari naas. Sehingga mobilitas manusia modern membuatnya lebih fokus pada rutinitas ketimbang menciptakan keseimbangan kosmis.

Bagaimana jika, ada rutinitas yang mesti dilakukan sementara bertepatan dengan hari naas? Ia tidak perlu meninggalkan rutinitasnya demi menghindari hari naas. Ia juga tidak boleh gegabah dan mengasumsikan semua hari itu baik (tanpa ada hari naas). Manusia hanya perlu mengingat Tuhan, bersalawat dan atau bersedekah lebih banyak di hari itu.