Showing posts with label sejarah. Show all posts
Showing posts with label sejarah. Show all posts

Hari Jadi Kabupaten/Kota Se-Sulawesi Selatan

Hari Jadi sebuah daerah adalah wujud kecintaan pada daerah tersebut. Yang merupakan bagian dari kecintaan pada bangsa dan negara. Hari Jadi tersebut menjadi sebuah momen untuk kilas balik dan mengevaluasi capaian pembangunan. Serta berbagi kebahagiaan dalam perayaan tersebut. Yang pada gilirannya akan menyentuh kesadaran individu tentang apa kontribusinya bagi pembangunan daerah.

Setelah pasifikasi tahun 1905/1906, Sulawesi Selatan secara keseluruhan ditundukkan Belanda. Melalui perjanjian pendek (Korte Veklaring) penguasa-penguasa lokal dipaksa untuk mengakui kedaulatan Belanda. Sejak itu, Pemerintah Kolonial Belanda mengatur administrasi pemerintahan secara berjenjang. Dari Provinsi Groote Oost terbagi menjadi Afdeling (wilayah). Kemudian Afdeling terbagi Onder Afdeling (sebagian besar jadi kabupaten). Kemudian Onder Afdeling dibagi Distrik (kelak disebut kecamatan). Dan Distrik terbagi dari Gallarang dan Wanua yang disebut Kampong. Kelak menjadi Desa.

Setelah Pemerintah Kolonial Belanda resmi meninggalkan Indonesia pasca Konferensi Meja Bunda, tata kelola pemerintahan pun berubah. Meski tidak begitu berbeda. Namun di awal kemerdekaan, hal itu tidak praktis dapat dilakukan disebabkan kondisi yang tidak stabil akibat pemberontakan DI/TII dan Permesta.

Sehingga setelah mulai mereda, terbit SK yang mengatur tentang pembentukan Kabupaten di Sulawesi Selatan. Beberapa bekas Onder-Afdeling (Wilayah Afdeling Bone) misalnya Bone, Wajo dan Soppeng menjadi masing masing Swapraja dan menjadi Kabupaten di tahun 1957. Sedang beberapa gabungan Onder Afdeling membentuk satu Kabupaten, seperti Barru, Pinrang dan Sidrap. 

Memasuki era Reformasi, terjadi pemekaran beberapa Kabupaten. Seperti Luwu yang dimekarkan menjadi Kotif Palopo, Kabupaten Luwu, Kabupaten Luwu Utara dan Kabupaten Luwu Timur. Sedang Kabupaten Toraja dimekarkan menjadi Kabupaten Tana Toraja dan Kabupaten Toraja Utara.

Beberapa kabupaten menjadikan terbitnya SK tersebut sebagai dasar Hari Jadi Kabupaten/Kotanya. Namun beberapa Kabupaten lain melaksanakan kegiatan Seminar Hari Jadi yang mengacu pada sejarah di masa awal kerajaan. Sementara Provinsi Sulawesi Selatan sendiri mengacu pada Perjanjian Bongayya sebagai dasar Hari Jadi daerah.

Berikut ini Hari Jadi Kabupaten/Kota se-Sulawesi Selatan, diurut berdasar bulan dalam kalender.



Di zaman teknologi informasi ini, zaman dimana sekat-sekat ruang terasa nisbi. Zaman perdagangan bebas terus bergerak mencapai puncaknya. Kita dihadapkan dengan segala potensi daerah kita. Kekayaan alam dan sumber daya manusia yang melimpah. Sehingga peran semua pihak untuk menggali potensi tersebut agar membawa kemajuan bagi daerah, perlu terus didorong. Yang nanti pada gilirannya, akan berkontribusi positif terhadap kemajuan bangsa dan negara

Dialog Datuk Sulaiman dengan La Sangkuru


Setelah Islam diterima secara resmi di Wajo, maka Arung Matowa meminta pada Karaeng ri Gowa Sombayya Sultan Alauddin agar dikirimkan seorang ulama. Agar dalam pelaksanaan ajaran Islam, bisa dilakukan dengan baik. Maka diperintahkanlah Datuk Sulaiman yang saat itu berada di Luwu agar ke Wajo dan mengajarkan orang Wajo tentang Islam.

Telah ada pembicaraan tentang ketuhanan, dan Datuk Sulaiman tidak menolak keyakinan tradisional masyarakat. Namun beliau menambahkan tentang pentingnya aspek kenabian sebagai konsekwensi kebertuhanan menurut Islam. Saat Datuk Sulaiman dan Arung Matowa La Sangkuru Patau Mulajaji (kelak digelari Sultan Abdurrahman), terjadilah dialog yang terekam dalam LSW (Lontaraq Sukkuna Wajo). Dialog itu berisi penjelasan hal hal penting tentang Islam sebelum Arung Matowa bersama orang Wajo bersyahadat

Mesjid tua Tosora sebelum direnovasi


Makkedai Arung Matowae : "Powadani Datoq iya muelorengnge ri pogau"
Makkedai Datok, : "Ajjaq muwammanu, ajjaq muwapi nanraka iyanaritu riaseng barahala, gauq maqkuwae risompa, ajjaq muappakereq, ajjaq muwappolo beyaq iyanaritu muaseng papole deceng , iya tona tu riaseng gauq akaperekeng gauq maqkuwae, nasabaq iya kapereq e tau riagellianna Puang Allahu ta'ala, ajjaq muwanre cammuguq (bawi) naharangengnge Muhammad nappesangkangnge Puang Allahu ta'ala, ajjaq muwappangaddi nappesangkangnge Puang Allahu ta'ala naharangeng Muhammad. Ajjaq muwenung pakkunesseq (tuwaq seri) nappesangkangnge Allahu ta'ala naharangengnge Muhammad. Ajjaq mupogauq riba (maqpaqjenne) nappesangkangnge Allahu ta'ala naharaengengnge Muhammad". 
Nakado Arung Matowae sibawa to WajoE.

Berkata Arung Matowa : "Katakanlah wahai Datok (Sulaiman) apa yang engkau inginkan untuk dilakukan".
Berkata Datok : "Janganlah kalian mempercayai bunyi bunyian yang bermakna baik atau buruk bila ada yang kalian kerjakan. Janganlah memberi sesajian, itulah yang dinamakan berhala. Perbuatan demikian adalah menyembah berhala. Janganlah mengeramatkan sesuatu, janganlah kalian meramal dengan melihat telapak tangan yang dianggap mendatangkan kebaikan itulah yang dinamakan mengeramatkan. Itikad demikian adalah perkataan orang kafir sedang orang kafir itu orang yang dibenci oleh Allah Swt. Janganlah memakan binatang yang tak ada lehernya (babi) diharamkan oleh Nabi Muhammad dilarang oleh Allah Ta'ala. Janganlah kalian berzina dilarang oleh Allah Ta'ala diharamkan oleh Nabi Muhammad. Janglah meminum tuak (hasil fermentasi) dilarang oleh Allah Ta'ala diharamkan Nabi Muhammad. Jangan melakukan riba (membungakan harta). Maka mengangguklah Arung Matowa bersama orang Wajo.

Nakkedana Datoq madecenni Arung Matowa ana mukadoiwi adakku tanoo ri talagae "Taqkumelawe"
Nanoona Datoq sibawa Arung Matowae naccoena to Wajoe.

Berkata Datok, karena engkau Arung Matowa mengiyakan kataku, maka baiklah kita turun ke telaga "Taqkumelawe". Maka turunlah Datok bersama Arung Matowa dan mengikutlah orang Wajo.

Makkedai Arung Matowae Sangkuru riwettu kuwana ri Talagae siyong nakkeda : "Arengkalinga manekko ri aseq ri awa, oraiq alauq, maniyang manorang, lisuga pangaliqku nattudduwangnge soloq nalelisu gauq majaqku nattudduwangnge soloq sininna gauq nappesangkangnge Puang Allah ta'ala naharangengnge Muhammad".

Berkata Arung Matowa La Sangkuru diwaktu berada di Telaga : "Dengarlah kalian wahai yang diatas, dibawah, barat timur, selatan utara, apakah kembali pangaliku yang dihanyutkan arus (barulah) akan kembali perbuatan burukku yang dihanyutkan arus segala perbuatan yang dilarang Allah Ta'ala diharamkan Nabi Muhammad.

Nasamateru sangngodi to Wajoe mappaiyyo makkeda pada massaraqtuko. Narisareq inna Arung Matowae ri to Wajoe nannappasi nasareqtui ri Datoq Arung Matowae nainappana padammala paqsarettu to Wajo ri Datoq

Bergemuruhlah orang Wajo mengiyakan. Berkata (Datok) bersihkanlah badan kalian. Disucikanlah Arung Matowa diikuti orang Wajo kemudian diajarkan cara membersihkan diri oleh Datoq.

Napada purana diyoq to Wajoe mappepaccing naenreqna mappatettiq nakkeda Datoq ri Arung Matowae : "Assahadaqko Arung Matowa namasseq paddissengengmu ri Allahu ta'ala majeppu Allah ta'ala seuwwa. Assempajangko namasseq pappejeppumu ri Allahu Ta'ala, nasaba iya sempajangnge koniritu mappassewwae, appuwasako namasseq paddissengengmu, Allah Ta'ala masiya kuwa elona, deq duwanna elona jajimani, elona teqjajimani, paqsui sekkeqmu, appittarao namasseq paddissengengmu Allah Ta'ala mi pakangkao, enrekko hajji rekko paullewatakkaleko, mupaulle warangparang, musalewangngiwi paddimonrimmu, ajjumako muisseng engka aqkajanna Allahu Ta'ala enrengnge akowasanna nasaba Allahu Ta'ala"

Setelah selesai orang Wajo selesai mandi bersih, naiklah mengeringkan badan. Berkata Datok pada Arung Matowa : "Bersyahadatlah Arung Matowa agar kokoh pengetahuanmu pada Allah Ta'ala. Sesungguhnya Allah Ta'ala itu Esa. Shalatlah agar teguh keimananmu pada Allah Ta'ala. Karena shalat adalah sarana mengesakanNYA. Berpuasalah agar teguh pengetahuanmu pada kehendakNYA. Tak ada yang menyamai kehendakNYA. Keluarkanlah zakatmu, bayarlah zakat fitrah agar kokoh pengetahuanmu bahwa Allah Ta'ala lah yang menciptakanmu. Naik haji lah bila mampu dan menyeimbangkan dengan akhiratmu. Shalat Jumat lah agar engkau tahu mengetahui kebesaran serta kekuasaan Allah Ta'ala.

====================================================

Diterimanya Islam sebagai agama resmi kerajaan, berdampak pentingnya dibangun struktur Parewa Sara. Yaitu sebuah lembaga keagamaan yang terdiri dari Qadhi (Petta KaliE), Imam (Puang Imang), Khatib (Katteq), Bilal (Bilala) dan Doja.
Melalui Parewa Sara tersebut, Islam diajarkan lebih merata ke masyarakat. Serta pelaksanaan ibadah seperti Shalat Fardhu 5 waktu, Shalat Jum'at, Pernikahan dan seterusnya dapat dijalankan.

Wilayah Soppeng 1897

Seperti halnya kerajaan lain di masa lalu, Soppeng juga mengalami perkembangan wilayah kerajaan. Sebelumnya Soppeng terikat Perjanjian Bongayya 18 November 1667. Kemudian saat Inggris datang, tahun 1812-1816 terjadi perubahan. Hingga diperbaharui lagi oleh Gubernur Jenderal Van Der Capellen ditahun 1824.


Perjanjian Bongayya yang menyangkut Soppeng kembali diperbaharui di masa Datu Soppeng La Talompeng Arung Sengkang pada tanggal 4 Februari 1860. Perjanjian itu tetap dijaga di Datu Soppeng berikutnya, Baso Batupute Datu Mario ri Wawo. Hingga beliau meninggal tanggal 15 Oktober 1895 tanpa pewaris. Hadat Soppeng mengangkat Siti Saenabe Arung Lapajung sebagai Datu Soppeng tanggal 18 Januari 1897. Beliau kemudian menandatangani perjanjian panjang berisi 24 pasal pada tanggal 10 Juli 1897 bersama hadat Soppeng.

Wilayah Soppeng tahun 1860

Berdasar perjanjian tersebut, Soppeng terdiri dari wilayah inti, Paduwiseang ri aja, Paduwiseang ri lau. Kemudian palili. Terdiri dari lili ri lauE, lili ri ajaE, lili ri atauE, lili ri abeoE, lili ri saliweng  mpuluE, Berikut ini wilayah Soppeng yang diakui oleh Hindia Belanda yang diwakili Gubernur J.A.Brugman.


Datu bersama Hadat Soppeng


Watangsoppeng
- Bila
- Botto
- Ujung
- MasuwaliE

Paduwiseang ri ajana
- Passe
- Sappang
- Unyi
- Ara
- Mattobulu
- Cirowali
- Pising
- Tinco
- Cinrana
- Salokaraja
- Lawo
- Bicuing
- Launga
- Paciro
- Talla
- Kajuara
- Lapajung
- Kampirie
- Arecong
- Tanete
- Lapacere
- Benteng
- Lisu


Paduwiseang ri lauqna
- Salotungo
- Macopa
- Kuba
- Polewalie
- Calacu
- TalagaE
- LoloE
- Watu-watu
- Malaka
- AngrangaE
- Makutu
- WaruE
- Macile AlauE
- Macile OraiE
- Akkampeng AlauE
- Akkampeng AjangE
- Tanete
- Mare - Mare
- Utu
- Sumpang lao
- PaoE
- Mattoanging
- Salo karaja
- Cinrana

Lili
Lili ri LauE
- Citta
- Palangisang
- Gowa gowa
- Baringeng
- Lompulle ri ase
- Lompulle ri awa
- Lompengang
- Manu manu

Lili ri Ajanna
- Serring
- Bulu Matanre
- Palakka
- Umpungeng

Lili ri Ataunna
- Mario ri ase
- Mario ri awa
- Pattojo
- Jampu
- Lenrang
- Appanang
- Gulung baiccuE ri Lau
- Watu

Lili ri Abeona
- Ganra
- Bakka
- Leworeng

Lili ri ajanna Saliweng puluE
- Balusu
- Kiru kiru
- Batu pute
- Cempaga
- Siddo
- KamiriE
- PadumpuE
- Tieli

Wilayah Sawitto 1891

Kontrak perjanjian panjang (Large Veklaring) antara Hadat Sawitto dengan Asisten Residen yang ditanda tangani tanggal 2 Oktober 1891. Antara La Pallawagau Aru Pattojo dengan J.A.G Brugman. Terdiri dari 21 pasal. Adapun wilayah Sawitto berdasar kontrak tersebut adalah :

Peta Sawitto 1732

A. Sawitto

B. Lili Passeajingeng
1. Tirowang
2. Rangamea Jampu
3. Lolowang
4. Langnga
5. Kabalangang.
6. Lomee
7. Kaluppang.
8. Pangaparang
9. Kadokkong.
10. Galangkalang.
1. Cempa
2. Madallo
3. Paria
4. Talabangi
5. Urung
6. Malimpong.
7. Padangkalawa
8. Kaba
9. Punnia
10. Peso
11. Sukang
12. Bulu
13. Bua
14. Salo
15. Kampio
16. Paleteang
17. Leppangeng.

Wilayah Bone tahun 1859-1860

Bone, adalah salah satu kerajaan terbesar di Sulawesi Selatan di masa lalu bersama Luwu dan Makassar. Sebagai kerajaan terbesar, tentu mengalami proses dan dinamika sedemikian rupa sehingga mampu berkembang. 
Dalam proses dan dinamika tersebut, juga mengalami pasang surut. Sehingga kadang ada bagian wilayah yang terlepas, adapula yang dikuasai. Oleh karena itu, dalam membahas wilayah suatu kerajaan tertentu, termasuk Bone, maka sangat penting mempertimbangkan waktu dan dinamika saat itu.



Di tahun 1859-1860, terjadi ekspedisi yang dilakukan oleh Belanda terhadap Bone yang kemudian dicatat dengan sangat lengkap. Menuliskan tentang sejarah Bone, Perjanjian Bongayya, Benteng, Nama pasukan, jumlah logistik dan obat-obatan bahkan struktur Kerajaan Bone. Tulisan ini mengutip buku tersebut tentang bagaimana pembagian wilayah kerajaan Bone saat itu.


Peta Bone 1860


1. Citta
- Lempong, Oewoengae, Belawa Kampieri, Tjientjo, Data, Tallo, Mardawala, Barang

2. Bone Tangnga
a) Palakka -- Cinannung, Pasempe, Oerang (TellumpanuaE)
b) Awampone -- Paccing, Matuju, Jaling, Cumpiga, Unra (LimampanuaE)
c) Cina -- Kampoeboe, Oela, Pau, Walenrieng, Boeki, Ladjoe, Pationgie (Attanga-la)
d) Barabo -- Wawolangie, Cinnong, Menegaloeng,Lampoko, Batjo (Awanga-la)

3.Adjanga-la of liliriadja
a) Pitu Pajung Tanre -- Mampu, Sailong, Timurung, Amali, Ulaweng, Bengo, Ponre
b) LimampanuaE -- Otting, Lanca, Ulo, Palongkie, Tadjong
c) PatangkaiE -- Mampu riaja, Mampu riawa, Kung, Sijelling
d) TellumpanuaE -- Soera soera, Alinge, Teamusu
e) Lappariadja (Annange Bila Bila) -- Liboerang, Matjera, Bulu, Tea, Tjempaga, Bariengang
f) PattampidangE -- Lamontjong, Sanrego, Teko, Beroe
g) Annange Bila Bila ri Laoe -- Bollie, Mitjo, Santjerang, Sonrong, Todja, Saweng

4. Lilirilaoe
a) Sibulu -- Pattiro, Kaju, Cinnong, Sampobia, Kalibong, Panyili, Bulu, Balieng
b) Wawo Bulu ri awang -- Towang, Pationgie, Lemo, Pasaka, Soenaba, Ala, Cenrana
c) Tellu Limpo ri awang -- Mara, Salangketo, Tonro
d) Awang Tangka -- Meroe, Salomekko, Cina, Patiempeng, Bulu Tana, Cani, Gona

Melle, Padjakka, Karalla, Apala, Bulu, Awo, Kawarrang, Cellu, Biru, Balakang, Bulu, Maloi, Madoeri, Soga.

Berdasarkan peta Bone 1860, wilayah Bone di utara berbatasan dengan Wajo di Sungai Walennae hingga Danau Tempe yang berarti Pammana, Lagosi, Liu, Wage, Sompe dan Ugi masuk Bone. Namun Lamuru malah berdiri sendiri tidak masuk wilayah Bone.

Perang, dalam tradisi Bugis Makassar


....the Bugis Makassar sources structure the motivations for warfare around cultural concepts of shame (siriq), commiseration and solidarity (pesse/pacce), and on the maintenance or restoration of proper relationships wthin the human community and between states....

L. Andaya


Perang, adalah bagian dari dinamika sejarah manusia. Dimana pertentangan antara satu kelompok dengan kelompok lain yang tidak bisa diselesaikan secara diplomatis, kemudian berujung konflik bersenjata.


Sulawesi Selatan di masa lalu, pernah mengalami banyak peperangan. Namun, ada kekhasan yang didasari oleh kebudayaan setempat. Seperti yang dikatakan Andaya, motivasi Siriq dan Pesse/Pacce adalah motivasi utama. Meski dibalik itu terdapat kepentingan dominasi politik dan kepentingan ekonomi. 


Akan tetapi, perang di Sulawesi Selatan di masa lalu, tidak melulu disebabkan dorongan ekonomi politik. Terkadang ada perang yang disebabkan hal yang mungkin dianggap aneh. Yaitu syarat diterimanya sebuah lamaran.

Tradisi Bugis Makassar tidak memulai perang bila tidak dideklarasikan terlebih dahulu. Perang kilat (Blietzkrieg) ala Jerman atau serangan mendadak Jepang ke Hawaii adalah contoh perang modern yang tidak dikenal di masa lalu. Deklarasi perang ditandai dengan dikirimkannya pernyataan dari satu pihak yang disebut Timu-timu. Pesan singkat berisi pernyataan akan menyerang satu pihak ke pihak lain yang dikirimkan Timu-timu.

cek :
Para ksatria, pejuang, dipanggil melalui Bila bila musu yang berisi waktu dan tempat akan diadakannya peperangan. Pada saat itulah diadakan prosesi Mangngaruq yaitu sumpah setia pada pimpinan. Tak jarang, diadakan prosesi Macceraq yaitu pelumuran darah kepada Bate atau bendera/panji perang. Dengan harapan diberi kemenangan.

Sisi Mistis dan Metafisika pada Perang
Perang dalam tradisi Bugis-Makassar, tidaklah sekadar persoalan kuantitas dan kualitas pasukan. Bukan pula sekadar ragam senjata yang digunakan. Seperti tombak, alameng, sinangke, bangkung, tappi/gajang/sele, badiq/kawali,seppu dan sebagainya. Tetapi juga persoalan metafisika. 

Contoh Tombak yang digunakan komandan pasukan

Senjata, dalam hal ini Parewa Bessi/Polobessi, bukan sekadar tajam dan bisa difungsikan. Akan tetapi terkadang ditambahkan zat zat tertentu agar lebih beracun (mausso). Sissiq atau karakter dasar senjata sangat dipertimbangkan. Bessi Malela, sangat umum digunakan dalam peperangan.

Pappoq, sejenis siluman wanita, terlibat dalam perang 1859. Picunang, adalah sebuah ilmu mistik. Dimana peluru hanya diletakkan di tangan. Kemudian dirapal mantra dan ditiup ke peluru. Peluru itu akan terbang mencari sendiri sasarannya. Sementara Kulawu juga digunakan, khususnya Kulawu Bessi agar tidak mempan senjata. Atau Kulawu wai (air), agar luka dapat cepat menutup sebagaimana air.

Dalam sebuah tradisi tutur, tombak yang berlubang di tengahnya, digunakan dalam menyeleksi pasukan yang akan diberangkatkan. Komandan pasukan memegang tombaknya kemudian melihat pasukannya dari celah lubang pada tombaknya. Bila seorang pasukan terlihat tak lengkap anggota tubuhnya, maka ia dilarang pergi perang. Sebab diyakini yang bersangkutan akan tewas pada perang nantinya.


Medan Pertempuran
Perang antar kerajaan berarti ada jarak yang harus ditempuh sebelum terjadi pertempuran. Oleh karena itu, dibangunlah kubu yang berfungsi sebagai tempat peristirahatan sebelum pertempuran dimulai. Tampakuku.atau kubu, dibangun ditempat strategis dan biasanya tidak jauh dari sungai, agar memudahkan penyerangan dan memuat peralatan tempur seperti meriam serta logistik pasukan.

Tampakuku ini dibuat dari kayu dan dipersenjatai dengan meriam kaliber kecil yang disebut dengan Lela Rentaka. Tampakuku tidak dibuat sebagai bangunan permanen. Ia dibangun dengan cepat. Bila kondisi terdesak, Tampakuku ini juga bisa dipindahkan dengan cepat sebagai bagian dari taktik perang.

Pasukan penyerang akan meninggalkan Tampakukunya dan bertemu dengan pasukan lawan yang biasanya berada di bentengnya. Pada pertempuran, biasanya komandan akan berhadap-hadapan dengan komandan musuhnya. Begitupun dengan pasukan. Peperangan akan diakhiri apabila ada komandan lawannya tewas.

Ilustrasi Perang Makassar 1667-1669. Nampak penggunaan Sumpit beracun


Pasca Perang
Perang baru dikatakan berakhir, bila ada upacara resmi. Pihak kalah akan Ripabbua Tappi yaitu menyerahkan keris emas pada pihak pemenang. Sebagai simbolitas pengakuan akan kekalahan. Selain itu, pihak kalah perang akan membayar Sebbu Kati yaitu denda perang. Menyerahkan sepasang gelang, sarung dan benda benda lainnya.

Pada pihak yang dianggap setara, perang diselesaikan dengan sebuah perjanjian atau Maqkuluada. Ditandai dengan di letakkannya pusaka kerajaan dua belah pihak secara berdampingan.

Gerakan Sosial I Tolok Daeng Magassing (Resensi Buku)

Inai lampaentengi siri na paccena Gowa kataena pattujungku naparenta balanda 
(Somba Gowa)
Inakke pa Sombangku lappassamma ammayu kabayaoja sibatu 
(I Tolok Daeng Magassing)

Siapakah gerangan yang akan menegakkan harkat dan martabat Gowa, 
sebab saya tak sudi dijajah Belanda (Somba Gowa)
Sayalah tuanku yang bersedia sebab hamba hanya sebutir telur (I Tolok Daeng Magassing)


Kekalahan Gowa dalam ekspedisi militer Belanda 1905, menyebabkan salah seorang komandan angkatan bersenjata Gowa, melakukan perlawanan. I Tolok, demikian nama lahirnya. Ia memiliki paddaengan yaitu Daeng Magassing. Daeng Yuseng, petani dari Jeneponto mengatakan bahwa I Tolok berasal dari Jeneponto, tepatnya di Kampung Tolo. Dia adalah perampok yang suka membantuk orang kecil. Mappaseleng Daeng Magau, salah seorang pasinrilik mengatakan, I Tolok berasal dari Polongbangkeng. Sedangkan Dora daeng Bali dan Baharuddin Daeng Kio mengatakan I Tolok adalah orang yang berasal dari Limbung (Bajeng). Poelinggomang mengatakan I Tolok berasal dari Limbung (Bajeng) yang sebelum ekspedisi militer (1905) menjabat sebagai komandan pada salah satu seksi pertahanan Kerajaan Gowa bagian selatan (hal.64). Ada juga pendapat mengatakan bahwa I Tolok berasal dari Polombangkeng (Takalar)
Sejak tahun 1906, terjadi beberapa tindakan perampokan bersenjata (bedil) di bekas wilayah onderafdeling Gowa (hal 52). Pemerintah Belanda menduga perampokan ini hanya kriminal belaka untuk memenuhi kebutuhan ekonomi. Belum ada pandangan yang menilai bahwa gerakan tersebut sebenarnya adalah bentuk perlawanan terhadap Pemerintah Belanda. Salah satu pemimpin "perampok" pada saat itu adalah I Tolok.  
Sebelum mangkat, Somba Gowa Sultan Husain meminta pada I Tolok agar melanjutkan gerakan perlawanan. Untuk itu, I Tolok diberikan sejumlah bedil, peluru, amunisi dan bahkan legitimasi pada rakyat untuk memimpin perlawanan.

Tahun 1913, terjadi penyerangan terhadap I Tolok dan pengikutnya. Namun berhasil lolos. Nanti di bulan September 1914, I Tolok kembali melanjutkan gerakannya. Ia didukung pengikutnya antara lain I Macang (cucu Ishak Manggabarani Tumabicara Butta Gowa/Arung Matowa Wajo), Abasa Daeng Manromo Karaeng Bilaji (saudara tiri Sultan Husain Somba Gowa), I Paciro Daeng Mapata (Mantan duta kerajaan Gowa untuk Bone), Daeng Tompo dan Daeng Manyengka (saudara regen polombangkeng, halaman 55)

Meski demikian, Belanda terus melanjutkan tekanannya. Tanggal 19 Oktober 1914, Belanda menyergap I Macang Daeng Barani sehingga gugur ditembak Belanda. Hal ini membuat ayahnya, I Kitti Pattalallo menyusun rencana balas dendam terhadap Belanda. Untuk itu, ia menyampaikan ke ayahandanya, Ishak Manggabarani. Namun, tidak langsung menyetujui dan menganjurkan agar menanyakan ke Belanda sebab musabab ditembaknya I Macang (hal 72). Namun tidak diperoleh jawaban yang memuaskan dari pihak Belanda.

Juni 1915, I Kitti Pettalallo dan Karaeng Manjalling mengadakan pertemuan dengan I Tolok di Manuju. I Tolok bersedia memenuhi permintaan keluarga I Macang. Untuk itu, diberi dukungan, senjata dan amunisi. Dilanjutkan dengan pertemuan lanjutan dirumah bekas regen Manuju. Hadir dalam pertemuan tersebut kelompok I Tolok, regen Tanralili dan para pengikutnya, kepala kampung Bontoparang, Tesse, Mangepong, Kunjunglata, Parangloe, dan sejumlah bangsawan dan beberapa kampung lainnya. Diperkirakan sekitar 100 orang yang hadir (hal. 77)

Dalam pertemuan tersebut, disepakati I Tolok sebagai pemimpin perlawanan terhadap Belanda. Kemudian I Tolok diberi hak untuk menguasai sebagian ornamen kerajaan Gowa (badik Ta'bule'leng) sebagai tanda pengabsahan. Upacara penjemputan ornamen tersebut secara adat

Setelah melakukan aksinya,I Tolok membagi-bagikan hasil rampokannya pada rakyat kecil. Selain itu, I Tolok juga menyerang posisi Belanda, serta mata-mata Belanda. Aksinya tidak lagi dinilai sebagai kriminal belaka. Tetapi merupakan bentuk perlawanan terhadap Belanda.

Untuk menumpas perlawanan I Tolok, Belanda menggunakan beberapa cara. Pertama, meningkatkan kewaspadaan dan menggunakan pejabat bumiputera untuk menggerogoti pengaruh I Tolok di masyarakat. Kedua, menggunakan mata-mata. Ketiga, membangun jalur kereta api Makassar-Takalar untuk memudahkan mengangkut pasukan. Keempat, menjelek-jelekkan I Tolok dengan istilah "perampok". Terakhir, operasi militer (hal.90-94).

Delapan kompi pasukan Belanda didatangkan dari Jawa di Juli 1915. Namun operasi militer Belanda nanti berhasil setelah dua anak buah I Tolok membocorkan lokasi persembunyiannya. Dalam serangan itu, I Tolok bersama pengikut setianya, I Rajamang gugur.
Judul       : Bandit Sosial di Makassar Jejak Perlawanan I Tolok Dg. Magassing
Penulis    : M. Nafsar Palallo
Penerbit   : Rayhan Intermedia, Makassar
Tebal       : xi + 129 halaman
Terbitan Pertama ; Maret 2008