9 Teknik Propaganda

Tags

Dalam dunia perpolitikan modern (juga bisnis), propaganda menjadi sangat penting dilakukan pihak-pihak yang ingin memenangkan kompetisi. Bukan hanya dilevel makro, dalam arti dinamika antar negara. Bahkan sampai pada level mikro.
Berbagai definisi tentang propaganda. Salah satunya seperti yang dikutip dari wikipedia. Propaganda adalah rangkaian pesan yang bertujuan memengaruhi pendapat dan kelakuan masyarakat atau sekelompok orang.
Propaganda tidak menyampaikan informasi secara obyektif. Nilai benar salah adalah urusan lain. Menggiring opini publik kepada sebuah kesadaran berpikir yang diinginkan propagandis adalah yang utama.
Berikut ini 9 teknik propaganda yang sering digunakan.

1. Name Calling
Propaganda dengan memberikan sebuah ide atau label yang buruk. Tujuannya agar orang menolak dan menyangsikan ide tertentu tanpa mengoreksi/ memeriksanya terlebih dahulu (hal : 29)
Contoh yang bisa dilihat secara jamak. Misalnya bila sebuah person/kelompok dilabeli sebagai "Pelaku Makar". Atau misalnya yang berbau agama seperti "Munafik".

2. Glittering Generalities
Adalah mengasosiasikan sesuatu dengan kata bijak yang dugunakan untuk membuat kita menerima dan menyetujui hal itu tanpa memeriksanya terlebih dahulu. (hal :31)
Contoh seperti "Orang pintar, minum xxxx", 

3. Transfer
Teknik propaganda transfer digunakan udengan memakai pengaruh seseorang atau tokoh yang paling dikagumi dan berwibawa di lingkungan tertentu. (hal : 32)
Sebagai contoh, penggunaan poster raksasa pemimpin pertama Korea Utara, Kim Il Sung pada parade parade militer Korea Utara. Sementara pemimpin Korea Utara saat ini adalah cucu dari Kim Il Sung. 
Contoh lain adalah digunakannya lukisan Syeh Yusuf pada baliho kampanye pemilu DPRD di salah satu kabupaten di Sulsel. Lengkap dengan tulisan "Keturunan ke-7 Syeh Yusuf".

4. Testimonials
Perkataan manusia yang dihormati atau dibenci bahwa ide atau program/produk adalah baik atau buruk. (hal : 32). Digunakan baik dibidang kegiatan politik maupun komersial.
Sebagai contoh, mungkin kita masih ingat kalimat dari seorang ustadz kondang ini : "Alhamdulillah sekarang sudah ada karomah", yang seolah hanya produk itu direstui oleh ustadz. Atau contoh lain iklan seorang ustadzah : "Mamah tahu sendiri. Haaalall"

5. Plain Folk
Teknik propaganda ini adalah mengidentikkan ide menjadi milik masyarakat. Sehingga publik sebagai target propaganda merasa memiliki ide tersebut. Intinya adalah menjadikan ide atau tokoh sebagai milik masyarakat atau komunitas atau ummat tertentu.




6. Card Stacking
Meliputi seleksi dan kegunaan fakta atau kepalsuan, ilustrasi atau kebingungan dan masuk akal atau tidak masuk akal suatu pernyataan agar memberikan kemungkinan terburuk atau terbaik untuk suatu gagasan, program, manusia atau barang. (hal : 33-34)
Teknik propaganda ini menekankan hanya pada satu sisi saja dan mengabaikan sisi lain. 
Sebagai contoh : "Piye kabare, enak jamanku toh". Seolah olah pada masa itu ketenangan diperoleh bukan melalui represi. Juga kesejahteraan seolah-olah hanya kerja satu orang. Padahal ekonomi suatu negara sangat tergantung dari ekonomi makro. Misalnya harga minyak mentah dunia saat itu.

7. Bandwagon Technique
Teknik ini menggembar gemborkan sukses yang dicapai seseorang, lembaga atau institusi. Sering digunakan baik dibidang politik dan ekonomi.
Sebagai contoh : "Swasembada pangan orde baru"

8. Reputable Mouthpiece
Yaitu teknik propaganda dengan mengemukakan sesuatu yang tidak sesuai kenyataan dengan cara menyanjung berlebihan pemimpin tetapi tidak tulus. Tujuannya agar propagandis aman dari lingkaran kekuasaan
Contohnya banyak disekitar kita. Tetapi tidak perlu diangkat, karena poinnya adalah mengenal teknik propaganda :)  

9. Using All Form of Persuations
Teknik membujuk target dengan rayuan, himbauan dan iming-iming. Paling sering digunakan saat kampanye pemilu. Intinya adalahpenggunaan berbagai macam bentuk pendekatan.

Di masa teknologi informasi saat ini. Sangat mudah bagi kita menerima berbagai informasi yang boleh jadi itu adalah sebuah propaganda yang terstruktur. Sehingga sangat penting bagi kita semua untuk cerdas mencerna, obyektif dalam mengumpulkan dan menganalisis informasi tersebut.

Disarikan dari buku :
Judul : Komunikasi Propaganda
Penulis : Nurudin
Penerbit : PT Remaja Rosdakarya
Cetakan kedua 2002

3 komentar

Wah ngeri juga ya, terutama poin ke 3 sudah sering terjadi yang seperti itu


EmoticonEmoticon