Showing posts with label sejarah. Show all posts
Showing posts with label sejarah. Show all posts

Dialog Petta Ponggawae dan James Brooke

 James Brooke, adalah petualang Inggris. Ia meninggalkan Singapura menuju Sulawesi. Pada tanggal 20 Januari 1840, ia bertemu dengan Petta Ponggawae di Bone. Setelah bertemu langsung, ia menyampaikan penghormatannya sebab telah diberi kesempatan. Ia juga menjelaskan bahwa ia tidak terhubung dengan pemerintahan apapun. Ia mempertegas posisinya sebagai petualang yang semata-mata hanya ingin melihat sesuatu yang menarik.

Petta Ponggawa bertanya tentang apa yang mendorong James Brooke sehingga tertarik datang. James menjelaskan betapa sulitnya menggambarkan orang orang Inggris suka mendatangi tempat asing seperti dirinya kepada Petta Ponggawae.

Petta Ponggawae bertanya lagi : "Apakah engkau menerima upah?"

James Brooke : "Tidak"

Petta Ponggawae : "Apakah engkau berdagang?"

James Brooke : "Tidak"

Petta Ponggawae : "Saat di Inggris, engkau tidak berdagang?"

James Brooke : "Tidak"

Petta Ponggawae : "Jadi bagaimana caramu hidup?"

James Brooke : "Saya punya harta benda"

Petta Ponggawae : "Berarti engkau punya hubungan dengan Ratu (Inggris)"

James Brooke : "Saya tidak memiliki kehormatan itu"

Petta Ponggawae : "Yang mana lebih kuat, Inggris atau Belanda?"

James Brooke : "Tentu Inggris"

Petta Ponggawae : "Apakah mereka (Inggris dan Belanda) bersahabat?"

James Brooke : "Iya"

Petta Ponggawae : "Apakah Rusia negara yang sangat kuat?"

James Brooke : "Iya"

Petta Ponggawae : "Apakah sekuat Inggris?"

James Brooke : "Rusia adalah negara yang sangat kuat. Tetapi dalam pandangan saya, Inggris dan Prancis adalah dua negara terkuat"

Petta Ponggawae : "Apa yang terjadi pada (Napoleon) Bonaparte setelah Inggris memenjarakannya?"

James Brooke : "Dia (Napoleon Bonaparte) meninggal di St Helena. Dia adalah pria dengan kemampuan dan kekuatan yang luar biasa. Tetapi ambisi besarnya telah menghancurkannya."

Petta Ponggawae : "Bagaimana bisa Inggris menyerahkan kembali Jawa dan negeri lain kepada Belanda setelah menguasainya ?"

James Brooke : "Inggris mengambil Jawa dan negeri lain dari Prancis. Setelah perdamaian di Eropa maka dikembalikan kepada Belanda". 

Petta Ponggawae : "Apakah Belanda tidak membayar upeti (kepada Inggris) untuk hal tersebut?"

James Brooke : "Tidak"



Penggambaran fisik Petta Ponggawae oleh Brooke, bertubuh agak pendek, kekar, berkulit gelap, ekspresi datar dan saat itu berusia sekitar 45 tahun.

Hal yang menarik dari dialog ini adalah pengetahuan tentang Rusia dan Napoleon yang didiskusikan oleh Petta Ponggawae. Mengingat di masa itu, akses informasi masih sangat terbatas.'


Sumber : Narrative of Events : Celebes and Borneo

Kronologi Musu Selleng Berdasar Lontara Sukkuna Wajo

KRONOLOGI MUSU SELLENG BERDASAR LONTARA SUKKUNA WAJO

Setidaknya, Islam telah dikenal di Sulawesi Selatan sekitar abad 15-16 M. Atau bahkan jauh sebelumnya. Telah ada muslim Bugis dan Makassar yang tercatat sebelum Musu Selleng atau Bundu Kasallanga. Namun di kerajaan-kerajaan Bugis, Islam belum menjadi agama resmi. Sementara Kerajaan Luwu dan Makassar telah terlebih dulu menerima Islam sebagai agama resmi sejak kedatangan tiga Datuk. Yaitu Datuk Sulaeman, Datuk ri Bandang, dan Datuk ri Tiro.


Adalah hal rumit mendorong Kerajaan-kerajaan Bugis untuk menerima Islam sebagai agama resmi. Selain karena adanya kepercayaan lokal Dewata SeuwaE, juga faktor politik antara Gowa, Luwu, dan kerajaan Bugis di sepanjang 1500-an masehi. Terutama invasi Gowa di era Karaeng Tunipallanga Ulaweng yang banyak merebut wilayah dataran tengah Sulawesi Selatan. Sehingga mendorong respon munculnya berbagai aliansi seperti TellumpoccoE, LimaE Ajatappareng, dan mungkin juga termasuk Massenrempulu, Pitu Ulunna Salu dan Pitu Babanna Binanga di wilayah Mandar.

baca : 

Disisi lain, telah ada beberapa perjanjian damai, misalnya antara Gowa dan Bone. antara Gowa dan Soppeng, antara Gowa dan Wajo, serta berbagai perjanjian lain. Terutama perjanjian untuk saling menyampaikan kebaikan satu sama lain. Sehingga saat Gowa hendak menyampaikan Islam secara damai kepada kerajaan Bugis, ditanggapi sebagai sebuah bagian manuver politik yang dapat memengaruhi stabilitas politik di saat itu. Sehingga sesuai adat kebiasaan orang orang dulu, maka perang pun tidak bisa dihindari, 

Musu Selleng, adalah Perang yang terdiri dari rangkaian pertempuran antara pihak Gowa dan kerajaan Bugis. Perang ini terdiri dari 7 (tujuh) rangkaian pertempuan yang kemenangan dicapai kedua belah pihak. Pertempuran awal dimenangi Kerajaan Bugis. Namun konsistensi Gowa serta loncatan keberpihakan beberapa kerajaan kerajaan Bugis pada pihak Gowa mendorong kemenangan Gowa pada proses pertempuran berikutnya hingga terakhir. 

Musu Selleng (Bhs Bugis) atau Bundu' Kasallanga (Bhs Makassar), tercatat di lontara kronik berbagai kerajaan. Salah satunya di Lontara Sukkuna Wajo yang menjadi referensi penulisan ini.

------------------------------------------------------------------------------------

Tiga tahun setelah Gowa memeluk Islam (sekitar 1608), dikirim utusan menemui Arumpone dengan membawa sejumlah harta. Utusan berkata : "Iyamai nasuroangnga siajimmu Karaengnge makkedae laoko ri siajikku Arumpone naengerangiwi uluadatta ri coppo'na ri meru. Nigi nigi mita laleng madeceng iyani sijellokeng. Nae mitanaq laleng, madeceng ni siajikku nabalingnga'sahada'. Takkasiwiyangengngi Dewatae. Nenniya kasiwiyangta sempajang puasa".
Terjemahan bebas :
Adapun yang disuruhkan sanakmu Karaeng kepada saya adalah pergilah kepada sanakku Arumpone (untuk) mengingat perjanjian di Coppo Meru. Barang siapa melihat jalan kebaikan maka hendaknya menunjukkan. Sedangkan saya (Karaeng) telah melihat jalan (menemukan Islam), baiklah kiranya sanakku (Arumpone) turut bersyahadat, bersama menyembah Dewata. Melalui shalat dan puasa





Arumpone (We Tenripuppu) menjawab : "Upakeru'sumange'i warangmparangna siajikku silaong ada madecenna. Nenniya ri makkedanna siajikku mitaana laleng, taroa'lao mitai, kuperanggi tedong seratu dewatae mappassumpajangnge mappappuasae. Nasuro pa sia'massumbajang kuwae sumbajang. Nasuropa siya mappuasa kuwa puasa."
Terjemahan bebas :
Terimakasih atas harta dan kata kata baik sanakku. Adapun setelah sanakku telah melihat jalan (Islam), biarlah saya menemukannya juga. Kuberikan 100 kerbau kepada Dewata yang memerintahkan shalat dan puasa. (Dewata) menyuruhku shalat, saya akan shalat. menyuruhku berpuasa, saya akan puasa.

Empat tahun setelah Gowa memeluk Islam (sekitar 1609), datang utusan Karaeng Gowa menemui Datu Soppeng BeoE. Datu Soppeng membalas utusan Gowa dengan mengirimkan Loli dan Tike' dan berkata: "Nalao na ri iya siajikku ri paccella'na  nyawaE".
Terjemahan bebas : Walaupun sanakku Karaengnge yang datang kita terpaksa menumpahkan darah.

Loli adalah benang yang dipintal siap ditenun. Tike' adalah alat tenun. Adalah simbol penolakan pada ajakan dimasa lalu. Mungkin maksudnya adalah berusahalah dulu (sebagaimana menenun rangkaian benang menjadi kain) baru kami ikuti kehendakmu.

Karaeng ri Gowa menjawab : "Utarimanitu, nae uwellaui nabalikka massahada siajikku"
Terjemahan bebas :
Saya menerima kehendak sanakku. Adapun yang saya minta hanya menemani bersyahadat.

Sebulan setelah utusan Soppeng membawa pesan Datu Soppeng beserta loli dan tike', maka meletuslah Musu Selleng

Mendarat Karaeng ri Gowa bersama pasukannya di Sawitto. Sehingga tempat itu dinamai Minanga Karaeng. Pasukan TellumpoccoE menghadang di Pakkiya. Tiga hari tiga malam bertempur, pasukan Makassar terdesak. Bahkan Karaeng hampir gugur kemudian mundur bersama pasukannya. Pertempuran pertama dimenangkan oleh TellumpoccoE.

Tiga bulan kemudian, datang Karaeng ri Gowa bersama pasukannya mendarat di wilayah Wajo yaitu Akkotengeng, Padaelo dan Maroanging. Tiga malam di Akkotengeng, datang menemui Karaeng orang Akkotengeng dan orang Keera menyatakan berpihak pada Gowa.

Mengetahui sikap Akkotengeng dan Keera, Arung Matoa mengirim utusan menemui mereka dan menyampaikan pesan. : Amaseangngi Wajo, mualai cedde temmaegana Wajo. Muengngerangngi ada tasikadong ngie nasabbi DewataE padaengngi maja pada madeceng.
Terjemahan bebas :
Kasihanilah Wajo, ambillah barang sedikit tidak banyaknya Wajo. Engkau ingatlah perjanjian kita yang dipersaksikan Dewata saling memberitahukan keburukan bersama dalam kebaikan.

Orang Keera dan Akkotengeng menjawab utusan Wajo : "Upakuru sumange'i waramparanna Wajo silaong ada madecenna. Uwengngerang tekkalupai ada uwassikadongngie. Nae naelorenna DewataE massarang, naengkana laleng napaitaiyang. Napaitaiyyatono muteya mitai, aga na iyya na molai.
Terjemahan bebas :
Terimakasih atas harta dan kata kata baiknya. Kuingat dan tidak melupakan perjanjian. Namun Dewata telah menghendaki berpisah (dengan Wajo), dan telah ada jalan yang ditunjukkan. Telah ditunjukkan kepadamu namun engkau tidak mau melihatnya, maka saya lah yang menjalani.

Lima malam setelah utusan Wajo dari Akkotengeng, maka Sakkoli pun ikut berpihak ke Gowa bersama Akkotengeng dan Keera. Arung Matoa pun mengirim utusan ke Sakkoli untuk mengingatkan perjanjiannya dengan Wajo. Namun Arung Sakkoli menjawab bahwa rakyatnya telah terlanjur menemukan jalan yang terang dan ia hanya mengikuti keinginan rakyatnya.

Satu malam setelah utusan Wajo dari Sakkoli, pasukan TellumpoccoE kemudian mengepung posisi Karaeng ri Gowa bersama pasukannya. Diserang dari pinggir pegunungan Sakkoli. Pertempuran kedua ini pasukan Makassar kembali terdesak. Bahkan hampir saja Karaeng ditangkap pasukan TellumpoccoE. Pada kondisi yang kritis, tiba - tiba Gilireng menyeberang ke pihak Gowa, mengikuti Keera dan Akkotengeng dan segera menyelamatkan Karaeng. Bersama sisa pasukannya, Karaeng ri Gowa mundur kembali ke negerinya. Pertempuran kedua di Sakkoli ini kembali dimenangkan pasukan TellumpoccoE.

Enam bulan kemudian, Karaeng ri Gowa bersama pasukannya mendarat di Padang padang (nama kuno Pare-pare). Pasukan TellumpoccoE menghadang di Bulu SitoppoE. Pertempuran kali ini, pasukan TellumpoccoE terdesak. Bahkan Arungnge to Jawa dari Soppeng gugur. Kemudian bergerak mundur ke lalempulu sebelah barat Paella. Pertempuran ketiga ini dimenangkan pasukan Gowa dan sekutunya.

Penyebab terdesaknya TellumpoccoE karena Rappeng, Bulu Cenrana, Otting dan Maiwa menjadi musuh bagi TellumpoccoE. Dengan posisi yang menguntungkan ini, Karaeng ri Gowa bergerak maju dan membangun benteng pertahanan di Rappeng. Setelahnya, ia kembali ke negerinya.

Saat itu Rappeng masih palilinya Wajo, sebulan setelah kembalinya Karaeng, maka Rappeng dikepung TellumpoccoE. Namun perlawanan alot dilakukan Rappeng hingga adik Tau tongeng dari Soppeng gugur dalam pertempuran. Pada pertempuran keempat ini berakhir tanpa ada kemenangan. Inilah awal berpisahnya Rappeng dari Wajo.

Tidak lama setelah pengepungan Rappeng yang gagal, Addatuang Sidenreng La Patiroi memeluk Islam ditahun 1018 Hijriyah. Semalam setelah bersyahadatnya Sidenreng, kemudian diikuti Awaniyo.

Dua belas malam kemudian, orang Belawa ke Rappeng bersyahadat didepan Karaeng ri Gowa dan masuk Islam.

Tidak cukup dua bulan, Karaeng ri Gowa dan pasukannya mendarat di Tanete bersiap menyerang Soppeng. Orang Wajo tidak ke Bone (untuk bersama) menemani Soppeng berperang. Sementara Lamuru dan Mario riaja telah bersyahadat. Kemudian Arung Pattojo menyeberang ke pihak Gowa dan bersyahadat. Soppeng kewalahan. Utusan Soppeng, To Peo dan To Palajuka menyerah pada Karaeng di Lakkoko kemudian membuat kesepakatan. Maka masuklah Karaeng ri Gowa di Soppeng dan bersyahadatlah Datu Soppeng, BeoE tahun 1018 Hijriyah bersama segenap palilinya. Tidak tercatat dengan pasti apakah ada atau tidak ada  pertempuran pada saat tersebut.

Satu tahun kemudian, Wajo dikepung pasukan koalisi Makassar, Soppeng dan Ajatappareng. Sepuluh hari bertempur, Pompanua direbut pasukan Soppeng. Adapun Tempe, Singkang, Tampangeng dan Totinco sebagian, telah direbut pasukan Ajatappareng. Pertempuran kelima ini dimenangkan pasukan koalisi Makassar, Soppeng dan Ajatappareng.

Terdesak dengan serangan Soppeng dan Ajatappareng, sepertinya terjadi gencatan senjata. Wajo mengirim utusan meminta pertimbangan Makassar melalui Karaeng Barombong. Karaeng Barombong berkata : "Lima mpenniki mappesau to Wajo, Ala'kugi tanniya laleng malempu napitaiko muteya".  
Terjemahan bebas : Lima malam kita beristirahat orang Wajo. Bukankah jalan kebaikan yang ditunjukkan sanakmu (Karaeng ri Gowa) tetapi kamu menolak ?

Karaeng ri Gowa berkedudukan di Cenrana. Sementara Karaeng Barombong dari arah barat bersama pasukan Ajatappareng dan Soppeng.

Satu malam setelah utusan Wajo bertemu Karaeng Barombong, Arung Matoa mengirim utusan kepada Karaeng ri Gowa di Cenrana. Berkata utusan Wajo kepada Karaeng. "Nauttamana mai Karaengnge ri anakna, narekko tennareddu'mui weseku. tennatimpa' sarewoku, tennasesse' balawo  ri tampukku"
Terjemahan bebas :
Masuklah Karaeng kepada anaknya, apabila tidak mencerabut padiku, tidak membuka aibku, tidak membedah kandungan tikusku. Mungkin maksud (Tennasesse' balawo ri tampukku = tidak membedah tikus di kandunganku) adalah tidak menghalangi memakan makanan. Tikus adalah pemakan padi. Balawo ri tampukku mungkin adalah kebutuhan untuk hidup untuk memakan makanan.

Karaeng ri Gowa menjawab : "Angkanna muewai sisadakkeng, anummu maneng. ellautopo kuwerekko".
Terjemahan bebas :
Hingga yang engkau temani bersyahadat adalah milikmu semua, mintalah akan kuberikan.
Kemudian perahu Karaeng bergerak naik menuju Topaceddo.

Keesokkan harinya datang Wajo bersama palilinya bertemu Karaeng di Topaceddo. Arung Matoa berkata pada Karaeng sebagaimana yang dikatakan utusannya. Karaeng menjawab : "Utarimanitu to Wajo. Pekkulle ulleiwi sahada'e, massumpajangnge, mappuasae. Kuwerengko anre apikku, kuwerengtokko angkanna muwewae sisadakkeng."
Terjemahan bebas :
Kuterima permintaanmu orang Wajo. berusahalah mengucapkan syahadat, shalat, berpuasa. Kuberikan juga taklukanku. Kuberikan pula hingga (negeri) yang menemanimu bersyahadat.

Arung Matoa menjawab : "Taroni kupakkulleullei Karaeng, angkanna naelorengnge DewataE. Naekiya narekko laoko ri musu, mallaleng muwa'. Naiya pura na bere' ri lempaku, reweqna ri wanuakku.
Terjemahan Bebas :
Biarlah saya usahakan Karaeng, hingga yang dikehendaki Dewata. Namun apabila engkau pergi berperang, saya akan berjalan. Adapun bila beras di pikulanku telah habis maka saya akan kembali ke negeriku.


Karaeng menjawab : "Kutarima ritu adammu To Wajo, amaseangnga' siya mupejereki agamamu, tassiajing lino lettu ahera"
Terjemahan bebas :
Kuterima permintaanmu orang Wajo. Kasihanilah saya, taatilah agamamu kita bersaudara dunia hingga akhirat.

Arung Matoa mengangguk setuju dan berkata : "Taroni upejerekki agamae naiya nasabbi Dewata SeuwaE appadaoroanengetta enrengnge assiajingenna tanae ri Wajo na Gowa. Iyapa tassarang Karaeng, DewataE pi passarangngi."
Terjemahan Bebas :
Saya akan taat pada agama dipersaksikan Tuhan yang Esa ikatan persaudaraan kita demikian pula persaudaraan antar negeri Wajo dan Gowa. Nantilah kita berpisah apabila Dewata yang memisahkan kita.
Keduanya setuju, kemudian Karaeng ri Gowa memberikan pada Arung Matoa, Petta Ennengnge, Arung Mabbicarae, Bate Caddie, apa yang selayaknya diberikan. Diberikan pula perkara syariat dan fikih shalat di hari Selasa 15 Shafar 1019 Hijriyah. Bersyahadatlah Wajo bersama Pammana dan Timurung serta palilinya. Setelah Wajo memeluk Islam, kembalilah Karaeng ri Gowa dan pasukannya ke negerinya.

Tiga bulan setelah kembalinya Karaeng ri Gowa, tiba utusan dari Gowa meminta agar Wajo bersiap menyerang Bone.

Setahun setelah Wajo bersyahadat, maka di seranglah Bone oleh pasukan Gabungan Makassar, Soppeng, Wajo, dan Ajatappareng. Pasukan Makassar Soppeng dan Wajo membuat benteng di Ellu, namun menyimpan benteng pertahanannya di Palette. Pasukan Wajo menyimpan benteng pertahanannya di Cenrana. Pasukan Soppeng menyimpan benteng pertahannya di ajangsalo. Pasukan  Sidenreng dan Ajatappareng menduduki Mampu dan Amali.

Karaeng mengirim utusan menemui Arumpone La Tenriruwa, mengajak agar meninggikan agama Islam. Arumpone kemudian mengumpulkan rakyat Bone dan berkata : "Anaiya mupesonaiya tanae ri Bone, mupasekkori pajung, natanrereangngi deceng Karaengnge, madecengngi tacceppa asellengengnge. Nasaba  iya uluadatta riolo ri Karaengnge iya lolongengnge deceng enrengnge tajang iya mappaita, nasaba makkedai Karaengnge uwasengngi deceng masero tajang mattappaa makkatennie ri agama asellengengnge.Makkeda topi Karaengnge, nakko mutarimai adakku, duwa mua maraja, Gowa muwa na Bone. Tapada makkasiwiyang ri Dewata SeuwaE Puang Allahu Ta'ala. Narekko tennatarimai mennang ada madecetta Karaengnge, natongengiwi natelotopi ta nyompa. Apowaatani' asenna. Narekko tatarimai amadecengenna nawelaiyangngi ada matti, paewani ewammu.Muwaseng amma siya teya mewa. Inampa toni naewa narekko nawelaiyanni uluada".
Terjemahan bebas :
Kalian telah menyerahkan kepadaku tanah Bone, menobatkanku menjadi Raja. Karaeng ri Gowa mengajak pada kebaikan. Baiklah kiranya kita berikrar pada Islam. Sebab perjanjian kita dahulu dengan Karaeng adalah barangsiapa yang menemukan (jalan) kebaikan dan terang, maka dialah yang menunjukkan. Sebab berkata Karaeng ri Gowa, kusebutkan kebaikan paling terang bercahaya adalah berpegang pada agama Islam. Berkata pula Karaeng ri Gowa apabila engkau terima tawaranku, hanya dua yang besar yaitu Gowa dan Bone. Bersama menyembah Dewata SeuwaE Puang Allahu Ta'ala. Apabila tidak kita terima tawaran  baik Karaeng ri Gowa, maka (ia) berada pada kebenaran (memaksa dengan angkat senjata), mengalahkan kita hingga bertekuk lutut. Maka diperbudaklah kita namanya. Apabila kita terima tawaran baiknya, kemudian menghianati kita nantinya, maka melawanlah. Jangan kira saya tidak akan melawannya. Nantilah kita melawan setelah (Karaeng) meninggalkan perjanjian kita.

Akan tetapi rakyat Bone tetap menolak menerima agama Islam. Maka berdiam dirilah Arumpone. Orang Bone mengira Arumpone hendak memperluas lima wilayah kekuasaannya ketika Arumpone memisahkan diri pergi ke Pattiro.

Sesampainya di Pattiro, Arumpone La Tenriruwa memusyawarahkan dengan rakyatnya agar menerima Islam. Namun rakyat Pattiro menolak.

Setelah Arumpone pergi ke Pattiro, orang Bone bermusyawarah dan bersepakat menurunkan Arumpone La Tenriruwa dari tahtanya. Maka dikirimlah utusan bernama To Wallawu menghadap Arumpone di Pattiro.

Berkata To Wallawu kepada Arumpone : "Makkedai To Bone we, tanniyatu Bone teyyaiko, ikonatu pacai Bone ri wettu natujunna bali' tanae ri Bone muwelaiwi"
Terjemahan Bebas :
Berkata orang Bone, bukan Bone yang menolakmu, namun engkaulah yang membuat marah Bone di saat menghadapi masalah engkau meninggalkannya.

Maka menjawablah Arumpone :" O To Wallau, uwelorimuwa to Bone we. ujellokengko deceng tajang, sibawa maeloku renrengko ri decengnge ri tajangnge mu teya. Nae akkatenninno mennang ri nawa nawa mapettangmu, ulaona siyamekna ri tajang naparanyalae Puang SeuwaE agama asellengnge".
Terjemahan bebas :
Wahai To Wallawu, karena kecintaanku pada rakyat Bone, maka kutunjukkan kebaikan terang, dengan keinginanku menuntunmu pada kebaikan terang, namun kalian menolak. Maka berpeganglah kalian pada pikiran gelapmu. Biarlah aku pergi menyatu dengan terang cahaya Tuhan yang Maha Esa yaitu agama Islam.
Maka kembalilah To Wallawu.

Kemudian bersepakatlah orang Bone menurunkan Arumpone La Tenriruwa dari tahtanya. Kemudian bersepakat mengangkat Arung Timurung, yaitu La Tenripale to akkappeyang sebagai Arumpone. Arumpone La Tenripale to Akkappeyang lah yang memimpin rakyat Bone pada bagian akhir pertempuran Musu Selleng.

Mengetahui dirinya diturunkan dari tahta, La Tenriruwa meminta pada Karaeng agar di kawal di Pattiro. Adapun Karaeng ri Gowa mengutus Karaeng Pettung untuk menemani La Tenriruwa. Tidak lama kemudian, dikepunglah La Tenriruwa dan Karaeng Pettung oleh orang Pattiro dan orang SibuluE. Karaeng Pettung mengamuk dan memukul mundur pengepung hingga Maroanging. Pertempuran keenam ini dimenangkan oleh Gowa dan Puwetta La Tenriruwa.

Maka menyeberanglah La Tenriruwa ke Pallette bertemu Karaeng ri Gowa. Sementara Karaeng Pettung menjaga Pattiro.

Karaeng ri Gowa berkata pada MatinroE ri Bantaeng : "Madecennitu bela laomu mai. Iya muwa sa uwakkutanang riko kamo kega anu riyalemu uwerekko, mau temmakkarungko ri Bone mupowanu muwa. Uwissengmuwa mupowanu Bone nae uwangkalingai karebanna leleni arajangnge ri Bone".
Terjemahan bebas :
Baiklah kiranya engkau datang. Adapun yang ingin saya tanyakan kepadamu adalah mana saja negeri milikmu, akan kuberikan, meski tidak lagi menjadi Arumpone, tetap menjadi milikmu. Saya tahu engkau memiliki Bone, tetapi saya telah mendengar kabar telah berpindah arajang (simbol kekuasaan) di Bone.

Berkata MatinroE ri Bantaeng : "Anu riyaleku Karaeng, Palakka, Pattiro, Awampone. Anu riyalena tonasa Awiseku Mario ri Wawo".
Terjemahan bebas :
Kepunyaanku Karaeng adalah Palakka, Pattiro, Awampone. Sedangkan Mario ri Wawo adalah milik istriku.

Berkata Karaeng ri Gowa : "Sahada'no, naiya tonasa tama sahada' sikuae mupuadae Bone ritu teppoatai, Gowa teppoatai".
Terjemahan bebas :
Bersyahadatlah maka bersyahadat pulalah negeri Bone yang engkau sebut, tidak akan diperhambakan dan Gowa tidak memperhambakannya.

Dijawab oleh MatinroE ri Bantaeng, saya telah bersyahadat sebelum kemari. Karaeng ri Gowa berkata bahwa ia mengetahui MatinroE ri Bantaeng adalah penguasa Palette, namun karena Palette adalah tempat benderanya (pintu serangan), maka menjadi miliknya. MatinroE ri Bantaeng memberikan Palette pada Karaeng. Karaeng kemudian memberikan kain ambal beludru merah berkancing emas murni seberat satu ketti.

Diberikan kain mewah dengan emas murni seperti itu, MatinroE ri Bantaeng berkata : "Narekko iyamuwa kusilaongengmu mammusu Karaeng, teawa' malai. 
Terjemahan bebas :
Apabila karena kita bersekutu memerangi (rakyat Bone) Karaeng, saya tidak akan mengambilnya.

Karaeng ri Gowa menjawab : "Muisseng muwa ritu baiseng ade'na  torioloe narekko sitai tauwe massiajing temmakkullei de tanra sele alosi sire' daung ngota silampa"
Terjemahan bebas :
Bukankah engkau tahu wahai besan, adat kebiasaan leluhur kita. bila bertemu sanaknya, tidak bisa tidak saling memberi sepotong pinang dan selembar daun sirih.

Berkata Puwetta La Tenriruwa : "Uwalanitu Karaeng narekko akkoi"
Terjemahan bebas
Jika demikian, saya menerimanya Karaeng.

Maka berikrarlah puwetta La Tenriruwa bersama Karaeng Gowa mula sellengnge dan Karaeng Tallo mula sellengnge : "Tanniyapa wijatta makkarung ri Gowa, makkarung ri Tallo. Teng mupuanu wawai anummu, murigau' bawang ri padangmu tau. narekko engka jaa tujuo, timpaí tange'mu, kiuttama ri jaa mu"
Terjemahan bebas':
Bukanlah keturunan kita yang berkuasa di Gowa di Tallo, tidak memiliki yang bukan milikmu, tidak diperlakukan sewenang wenang sesamamu manusia, apabila ada kesulitanmu maka bukalah pintumu, agar kami masuk membantu kesulitanmu.

Puwetta La Tenriruwa menjawab :  "Karaeng, temmureddu'weseku, temmusesse'balao ri tampukku, tessekke'bilaku. Narekko temmuwelaiyangnga mua janci, namau sibatangmua awo uwempangi lattu ri Gowa, narekko engka jaa mu, nasabbi Dewata SeuwaE"
Terjemahan bebas :
Wahai Karaeng, janganlah engkau mencabut padiku, membedah tikus dalam kandunganku, tidak memadamkan cahaya pelitaku. Apabila engkau tidak meninggalkan janji, maka meski hanya sebatang bambu aku mengangkatnya hingga ke Gowa bila engkau ditimpa masalah, dan dipersaksikan oleh Dewata yang Esa.

Tiga malam setelah perjanjian antara Karaeng ri Gowa Sultan Alauddin dan Puwetta La Tenriruwa, maka dilancarkanlah serangan terakhir pada pertempuran ketujuh. Maka jatuhlah Bone pada hari Rabu tanggal 20 Ramadhan 1020 Hijriyah. Dengan demikian, berakhirlah MUSU SELLENG. Masing masing kembali ke negerinya. Puwetta La Tenriruwa kemudian ke Tallo memperdalam ilmu keislaman pada Datok ri Bandang. Setelah sekian lama, Sultan Alauddin memberi pilihan domisili, Puwetta memilih bermukim di Bantaeng hingga meninggal dan bergelar Petta MatinroE ri Bantaeng.

---------------------------------------------------------------------------

Beberapa hal yang bisa kita tangkap dari tulisan diatas antara lain :
1. Pada dasarnya konsep Keesaan Tuhan telah dipahami oleh orang Bugis di masa lalu. Bahkan telah ada yang memeluk Islam namun belum menjadi agama resmi kerajaan.

2. Penyampaian Islam secara damai oleh Gowa dengan dasar perjanjian dengan kerajaan Bugis namun ditanggapi sebagai manuver politik sehingga perang pun terpaksa pecah.
3. Pindahnya keberpihakan beberapa kerajaan Bugis dalam rangkaian pertempuran karena telah menyadari bahwa Islam sebagai jalan yang terang.
4. Posisi dilema Puwetta La Tenriruwa yang di satu sisi menerima ajakan Gowa pada Islam dan prinsipnya yang mencintai dan membela rakyatnya.
5. Karaeng ri Gowa, Sultan Alauddin tidak menjadikan Musu Selleng sebagai kesempatan untuk memperluas wilayahnya. Bahkan  memenuhi beberapa permintaan raja raja Bugis sepanjang bersedia bersyahadat.

Terakhir, sebagai penutup. Kita doakan dan kirimkan Al Fatihah kepada para pendahulu yang telah berdinamika sesuai konteks dan pilihannya di masa lalu sehingga kita hari ini bisa menikmati Islam dengan damai.

Pesan Puangrimaggalatung untuk Pemutus Perkara (1)

La Tadampare Puangrimaggalatung, adalah raja sekaligus cendekiawan. Diangkat menjadi Arung Matoa Wajo IV (1491-1521) setelah tiga kali menolak jabatan tersebut. Di masa pemerintahannya, Wajo mencapai keemasannya. Wilayah yang sangat luas, rakyat yang sejahtera dan peradilan yang adil.
Ketika menjelang akhir hayatnya, beliau sakit-sakitan dan merasa ajalnya sudah dekat. Maka dipanggillah anaknya yaitu La Tenripakado To Nampe dan La Maddaremmeng To Malu untuk diberi wasiat berupa pesan. Ada banyak pesannya sekaitan pemerintahan dan peradilan. Salah satunya seperti yang dikutip dibawah ini.

Makkedai Puangrimaggalatung : Ia bicarae To Nampe atutui madecengngi, nasaba tessiewa to ribicarae to pabbicarae. Naia sara' assitinajangenna bicarae mupappadapadai ri ninnawammu ri tau mappangewangnge, de mawere' bara' seuwanna, mututuni riolo' wali wali to mappangewangnge, nainappa sabbinna, nainappasi muellau allapparenna. Narekko mattimbang bicarako tutue riolo' mutimbang, nainappa mutimbang tutunna sabbinna, nainappasi mutimbang onronna, nainappasi mutimbang barangkau'na, namupano' paterengngi ininnawa mumapaccing mapaccingpa muita atongengenna enrengnge asalanna mupampaini atongengengna tongengnge, mupampaitoni asalangengna salae.

Berkata Puangrimaggalatung : Adapun peradilan itu (hai) To Nampe, jagalah dengan sebaik-baiknya, sebab tidak boleh berlawanan orang yang diadili dengan pemutus perkara. Adapun syarat kepatutan peradilan ialah memperlakukan sama dalam pertimbanganmu orang-orang yang bersengketa, tidak  ada yang berat pada salah satu pihak, engkau periksa dahulu (meminta keterangan) kedua pihak yang bersengketa, lalu saksi saksi mereka, kemudian engkau minta kelapangan kedua belah pihak. Jika engkau menimbang perkara, keterangan pihak-pihak yang bersengketa engkau timbang, kemudian keterangan saksi saksi engkau timbang, lalu engkau timbang keadaan rumah tangga mereka, dan seterusnya engkau pikirkan dengan semasak-masaknya, agar engkau suci dan akan jelas engkau lihat kebenaran dan kesalahan mereka, maka engkau memberikan kebenaran kepada yang benar, engkau memberikan kesalahan pada yang salah.


Dari pesan Puangrimaggalatung diatas dapat dipahami betapa ditekankan keadilan bagi hakim. Hal ini tertuang dengan kalimat : "tessiewa to ribicarae to pabbicarae". Seorang pemutus perkara atau hakim hendaknya tidak punya latar belakang persoalan dengan pihak yang bersengketa. Sebab akan sangat mempengaruhi sikapnya dalam menimbang dan mengambil keputusan.

Selanjutnya adalah perlakuan yang sama terhadap kedua pihak dengan memberikan kesempatan keduanya untuk memberi keterangan. Penyebab bubarnya kerajaan Cinnotabi dan berdirinya Wajo adalah peradilan yang tidak adil. Dimana hanya satu pihak yang didengar keterangannya dan dibenarkan tanpa pemeriksaan. Sementara pihak yang lain tiidak diberi kesempatan yang sama. Hal ini diistilahkan dengan "Ri Rempekeng Bicara" yaitu dijatuhi putusan tanpa peradilan.


Saksi kedua pihak pun diberi kesempatan yang sama untuk memberi kesaksian agar memberi informasi tambahan bagi pemutus perkara (hakim). Adapun yang menarik dengan peradilan masa lalu di Wajo berdasar pesan Puangrimaggalatung ini adalah dimasukkannya keadaan rumah tangga sebagai variabel dalam pertimbangan.

Hal ini dapat dimaklumi sebab jumlah populasi penduduk dimasa lalu belum sepadat sekarang. Sistem sosial yang masih mengutamakan sistem kekeluargaan sehingga pengaruh "appang" atau "anang" sebagai kepala rumpun keluarga (klan) masih dominan, belum secair sekarang. Selain itu dipahami pula bahwa keluarga sangat mempengaruhi pribadi, karakter dan sikap seseorang. Sehingga dapat memberi informasi tambahan sekaitan kasus yang diperiksa oleh hakim/pemutus perkara.

Terakhir disebutkan "namupano' paterengngi ininnawa mumapaccing mapaccingpa muita atongengenna enrengnge asalanna mupampaini atongengengna tongengnge, mupampaitoni asalangengna salae" bahwa seorang pemutus perkara/hakim harus melihat dengan jernih persoalan sebelum mengambil putusan. Agar ia suci. Sebab dalam mengambil putusan mestilah suci (termasuk dari berbagai kepentingan) agar ia bertindak adil.

Nisan La Tadampare Puangrimaggalatung di Desa Tosora Kab. Wajo


Hari Jadi Kabupaten/Kota Se-Sulawesi Selatan

Hari Jadi sebuah daerah adalah wujud kecintaan pada daerah tersebut. Yang merupakan bagian dari kecintaan pada bangsa dan negara. Hari Jadi tersebut menjadi sebuah momen untuk kilas balik dan mengevaluasi capaian pembangunan. Serta berbagi kebahagiaan dalam perayaan tersebut. Yang pada gilirannya akan menyentuh kesadaran individu tentang apa kontribusinya bagi pembangunan daerah.

Setelah pasifikasi tahun 1905/1906, Sulawesi Selatan secara keseluruhan ditundukkan Belanda. Melalui perjanjian pendek (Korte Veklaring) penguasa-penguasa lokal dipaksa untuk mengakui kedaulatan Belanda. Sejak itu, Pemerintah Kolonial Belanda mengatur administrasi pemerintahan secara berjenjang. Dari Provinsi Groote Oost terbagi menjadi Afdeling (wilayah). Kemudian Afdeling terbagi Onder Afdeling (sebagian besar jadi kabupaten). Kemudian Onder Afdeling dibagi Distrik (kelak disebut kecamatan). Dan Distrik terbagi dari Gallarang dan Wanua yang disebut Kampong. Kelak menjadi Desa.

Setelah Pemerintah Kolonial Belanda resmi meninggalkan Indonesia pasca Konferensi Meja Bunda, tata kelola pemerintahan pun berubah. Meski tidak begitu berbeda. Namun di awal kemerdekaan, hal itu tidak praktis dapat dilakukan disebabkan kondisi yang tidak stabil akibat pemberontakan DI/TII dan Permesta.

Sehingga setelah mulai mereda, terbit SK yang mengatur tentang pembentukan Kabupaten di Sulawesi Selatan. Beberapa bekas Onder-Afdeling (Wilayah Afdeling Bone) misalnya Bone, Wajo dan Soppeng menjadi masing masing Swapraja dan menjadi Kabupaten di tahun 1957. Sedang beberapa gabungan Onder Afdeling membentuk satu Kabupaten, seperti Barru, Pinrang dan Sidrap. 

Memasuki era Reformasi, terjadi pemekaran beberapa Kabupaten. Seperti Luwu yang dimekarkan menjadi Kotif Palopo, Kabupaten Luwu, Kabupaten Luwu Utara dan Kabupaten Luwu Timur. Sedang Kabupaten Toraja dimekarkan menjadi Kabupaten Tana Toraja dan Kabupaten Toraja Utara.

Beberapa kabupaten menjadikan terbitnya SK tersebut sebagai dasar Hari Jadi Kabupaten/Kotanya. Namun beberapa Kabupaten lain melaksanakan kegiatan Seminar Hari Jadi yang mengacu pada sejarah di masa awal kerajaan. Sementara Provinsi Sulawesi Selatan sendiri mengacu pada Perjanjian Bongayya sebagai dasar Hari Jadi daerah.

Berikut ini Hari Jadi Kabupaten/Kota se-Sulawesi Selatan, diurut berdasar bulan dalam kalender.



Di zaman teknologi informasi ini, zaman dimana sekat-sekat ruang terasa nisbi. Zaman perdagangan bebas terus bergerak mencapai puncaknya. Kita dihadapkan dengan segala potensi daerah kita. Kekayaan alam dan sumber daya manusia yang melimpah. Sehingga peran semua pihak untuk menggali potensi tersebut agar membawa kemajuan bagi daerah, perlu terus didorong. Yang nanti pada gilirannya, akan berkontribusi positif terhadap kemajuan bangsa dan negara

Dialog Datuk Sulaiman dengan La Sangkuru


Setelah Islam diterima secara resmi di Wajo, maka Arung Matowa meminta pada Karaeng ri Gowa Sombayya Sultan Alauddin agar dikirimkan seorang ulama. Agar dalam pelaksanaan ajaran Islam, bisa dilakukan dengan baik. Maka diperintahkanlah Datuk Sulaiman yang saat itu berada di Luwu agar ke Wajo dan mengajarkan orang Wajo tentang Islam.

Telah ada pembicaraan tentang ketuhanan, dan Datuk Sulaiman tidak menolak keyakinan tradisional masyarakat. Namun beliau menambahkan tentang pentingnya aspek kenabian sebagai konsekwensi kebertuhanan menurut Islam. Saat Datuk Sulaiman dan Arung Matowa La Sangkuru Patau Mulajaji (kelak digelari Sultan Abdurrahman), terjadilah dialog yang terekam dalam LSW (Lontaraq Sukkuna Wajo). Dialog itu berisi penjelasan hal hal penting tentang Islam sebelum Arung Matowa bersama orang Wajo bersyahadat

Mesjid tua Tosora sebelum direnovasi


Makkedai Arung Matowae : "Powadani Datoq iya muelorengnge ri pogau"
Makkedai Datok, : "Ajjaq muwammanu, ajjaq muwapi nanraka iyanaritu riaseng barahala, gauq maqkuwae risompa, ajjaq muappakereq, ajjaq muwappolo beyaq iyanaritu muaseng papole deceng , iya tona tu riaseng gauq akaperekeng gauq maqkuwae, nasabaq iya kapereq e tau riagellianna Puang Allahu ta'ala, ajjaq muwanre cammuguq (bawi) naharangengnge Muhammad nappesangkangnge Puang Allahu ta'ala, ajjaq muwappangaddi nappesangkangnge Puang Allahu ta'ala naharangeng Muhammad. Ajjaq muwenung pakkunesseq (tuwaq seri) nappesangkangnge Allahu ta'ala naharangengnge Muhammad. Ajjaq mupogauq riba (maqpaqjenne) nappesangkangnge Allahu ta'ala naharaengengnge Muhammad". 
Nakado Arung Matowae sibawa to WajoE.

Berkata Arung Matowa : "Katakanlah wahai Datok (Sulaiman) apa yang engkau inginkan untuk dilakukan".
Berkata Datok : "Janganlah kalian mempercayai bunyi bunyian yang bermakna baik atau buruk bila ada yang kalian kerjakan. Janganlah memberi sesajian, itulah yang dinamakan berhala. Perbuatan demikian adalah menyembah berhala. Janganlah mengeramatkan sesuatu, janganlah kalian meramal dengan melihat telapak tangan yang dianggap mendatangkan kebaikan itulah yang dinamakan mengeramatkan. Itikad demikian adalah perkataan orang kafir sedang orang kafir itu orang yang dibenci oleh Allah Swt. Janganlah memakan binatang yang tak ada lehernya (babi) diharamkan oleh Nabi Muhammad dilarang oleh Allah Ta'ala. Janganlah kalian berzina dilarang oleh Allah Ta'ala diharamkan oleh Nabi Muhammad. Janglah meminum tuak (hasil fermentasi) dilarang oleh Allah Ta'ala diharamkan Nabi Muhammad. Jangan melakukan riba (membungakan harta). Maka mengangguklah Arung Matowa bersama orang Wajo.

Nakkedana Datoq madecenni Arung Matowa ana mukadoiwi adakku tanoo ri talagae "Taqkumelawe"
Nanoona Datoq sibawa Arung Matowae naccoena to Wajoe.

Berkata Datok, karena engkau Arung Matowa mengiyakan kataku, maka baiklah kita turun ke telaga "Taqkumelawe". Maka turunlah Datok bersama Arung Matowa dan mengikutlah orang Wajo.

Makkedai Arung Matowae Sangkuru riwettu kuwana ri Talagae siyong nakkeda : "Arengkalinga manekko ri aseq ri awa, oraiq alauq, maniyang manorang, lisuga pangaliqku nattudduwangnge soloq nalelisu gauq majaqku nattudduwangnge soloq sininna gauq nappesangkangnge Puang Allah ta'ala naharangengnge Muhammad".

Berkata Arung Matowa La Sangkuru diwaktu berada di Telaga : "Dengarlah kalian wahai yang diatas, dibawah, barat timur, selatan utara, apakah kembali pangaliku yang dihanyutkan arus (barulah) akan kembali perbuatan burukku yang dihanyutkan arus segala perbuatan yang dilarang Allah Ta'ala diharamkan Nabi Muhammad.

Nasamateru sangngodi to Wajoe mappaiyyo makkeda pada massaraqtuko. Narisareq inna Arung Matowae ri to Wajoe nannappasi nasareqtui ri Datoq Arung Matowae nainappana padammala paqsarettu to Wajo ri Datoq

Bergemuruhlah orang Wajo mengiyakan. Berkata (Datok) bersihkanlah badan kalian. Disucikanlah Arung Matowa diikuti orang Wajo kemudian diajarkan cara membersihkan diri oleh Datoq.

Napada purana diyoq to Wajoe mappepaccing naenreqna mappatettiq nakkeda Datoq ri Arung Matowae : "Assahadaqko Arung Matowa namasseq paddissengengmu ri Allahu ta'ala majeppu Allah ta'ala seuwwa. Assempajangko namasseq pappejeppumu ri Allahu Ta'ala, nasaba iya sempajangnge koniritu mappassewwae, appuwasako namasseq paddissengengmu, Allah Ta'ala masiya kuwa elona, deq duwanna elona jajimani, elona teqjajimani, paqsui sekkeqmu, appittarao namasseq paddissengengmu Allah Ta'ala mi pakangkao, enrekko hajji rekko paullewatakkaleko, mupaulle warangparang, musalewangngiwi paddimonrimmu, ajjumako muisseng engka aqkajanna Allahu Ta'ala enrengnge akowasanna nasaba Allahu Ta'ala"

Setelah selesai orang Wajo selesai mandi bersih, naiklah mengeringkan badan. Berkata Datok pada Arung Matowa : "Bersyahadatlah Arung Matowa agar kokoh pengetahuanmu pada Allah Ta'ala. Sesungguhnya Allah Ta'ala itu Esa. Shalatlah agar teguh keimananmu pada Allah Ta'ala. Karena shalat adalah sarana mengesakanNYA. Berpuasalah agar teguh pengetahuanmu pada kehendakNYA. Tak ada yang menyamai kehendakNYA. Keluarkanlah zakatmu, bayarlah zakat fitrah agar kokoh pengetahuanmu bahwa Allah Ta'ala lah yang menciptakanmu. Naik haji lah bila mampu dan menyeimbangkan dengan akhiratmu. Shalat Jumat lah agar engkau tahu mengetahui kebesaran serta kekuasaan Allah Ta'ala.

====================================================

Diterimanya Islam sebagai agama resmi kerajaan, berdampak pentingnya dibangun struktur Parewa Sara. Yaitu sebuah lembaga keagamaan yang terdiri dari Qadhi (Petta KaliE), Imam (Puang Imang), Khatib (Katteq), Bilal (Bilala) dan Doja.
Melalui Parewa Sara tersebut, Islam diajarkan lebih merata ke masyarakat. Serta pelaksanaan ibadah seperti Shalat Fardhu 5 waktu, Shalat Jum'at, Pernikahan dan seterusnya dapat dijalankan.

Wilayah Soppeng 1897

Seperti halnya kerajaan lain di masa lalu, Soppeng juga mengalami perkembangan wilayah kerajaan. Sebelumnya Soppeng terikat Perjanjian Bongayya 18 November 1667. Kemudian saat Inggris datang, tahun 1812-1816 terjadi perubahan. Hingga diperbaharui lagi oleh Gubernur Jenderal Van Der Capellen ditahun 1824.


Perjanjian Bongayya yang menyangkut Soppeng kembali diperbaharui di masa Datu Soppeng La Talompeng Arung Sengkang pada tanggal 4 Februari 1860. Perjanjian itu tetap dijaga di Datu Soppeng berikutnya, Baso Batupute Datu Mario ri Wawo. Hingga beliau meninggal tanggal 15 Oktober 1895 tanpa pewaris. Hadat Soppeng mengangkat Siti Saenabe Arung Lapajung sebagai Datu Soppeng tanggal 18 Januari 1897. Beliau kemudian menandatangani perjanjian panjang berisi 24 pasal pada tanggal 10 Juli 1897 bersama hadat Soppeng.

Wilayah Soppeng tahun 1860

Berdasar perjanjian tersebut, Soppeng terdiri dari wilayah inti, Paduwiseang ri aja, Paduwiseang ri lau. Kemudian palili. Terdiri dari lili ri lauE, lili ri ajaE, lili ri atauE, lili ri abeoE, lili ri saliweng  mpuluE, Berikut ini wilayah Soppeng yang diakui oleh Hindia Belanda yang diwakili Gubernur J.A.Brugman.


Datu bersama Hadat Soppeng


Watangsoppeng
- Bila
- Botto
- Ujung
- MasuwaliE

Paduwiseang ri ajana
- Passe
- Sappang
- Unyi
- Ara
- Mattobulu
- Cirowali
- Pising
- Tinco
- Cinrana
- Salokaraja
- Lawo
- Bicuing
- Launga
- Paciro
- Talla
- Kajuara
- Lapajung
- Kampirie
- Arecong
- Tanete
- Lapacere
- Benteng
- Lisu


Paduwiseang ri lauqna
- Salotungo
- Macopa
- Kuba
- Polewalie
- Calacu
- TalagaE
- LoloE
- Watu-watu
- Malaka
- AngrangaE
- Makutu
- WaruE
- Macile AlauE
- Macile OraiE
- Akkampeng AlauE
- Akkampeng AjangE
- Tanete
- Mare - Mare
- Utu
- Sumpang lao
- PaoE
- Mattoanging
- Salo karaja
- Cinrana

Lili
Lili ri LauE
- Citta
- Palangisang
- Gowa gowa
- Baringeng
- Lompulle ri ase
- Lompulle ri awa
- Lompengang
- Manu manu

Lili ri Ajanna
- Serring
- Bulu Matanre
- Palakka
- Umpungeng

Lili ri Ataunna
- Mario ri ase
- Mario ri awa
- Pattojo
- Jampu
- Lenrang
- Appanang
- Gulung baiccuE ri Lau
- Watu

Lili ri Abeona
- Ganra
- Bakka
- Leworeng

Lili ri ajanna Saliweng puluE
- Balusu
- Kiru kiru
- Batu pute
- Cempaga
- Siddo
- KamiriE
- PadumpuE
- Tieli

Wilayah Sawitto 1891

Kontrak perjanjian panjang (Large Veklaring) antara Hadat Sawitto dengan Asisten Residen yang ditanda tangani tanggal 2 Oktober 1891. Antara La Pallawagau Aru Pattojo dengan J.A.G Brugman. Terdiri dari 21 pasal. Adapun wilayah Sawitto berdasar kontrak tersebut adalah :

Peta Sawitto 1732

A. Sawitto

B. Lili Passeajingeng
1. Tirowang
2. Rangamea Jampu
3. Lolowang
4. Langnga
5. Kabalangang.
6. Lomee
7. Kaluppang.
8. Pangaparang
9. Kadokkong.
10. Galangkalang.
1. Cempa
2. Madallo
3. Paria
4. Talabangi
5. Urung
6. Malimpong.
7. Padangkalawa
8. Kaba
9. Punnia
10. Peso
11. Sukang
12. Bulu
13. Bua
14. Salo
15. Kampio
16. Paleteang
17. Leppangeng.

Wilayah Bone tahun 1859-1860

Bone, adalah salah satu kerajaan terbesar di Sulawesi Selatan di masa lalu bersama Luwu dan Makassar. Sebagai kerajaan terbesar, tentu mengalami proses dan dinamika sedemikian rupa sehingga mampu berkembang. 
Dalam proses dan dinamika tersebut, juga mengalami pasang surut. Sehingga kadang ada bagian wilayah yang terlepas, adapula yang dikuasai. Oleh karena itu, dalam membahas wilayah suatu kerajaan tertentu, termasuk Bone, maka sangat penting mempertimbangkan waktu dan dinamika saat itu.



Di tahun 1859-1860, terjadi ekspedisi yang dilakukan oleh Belanda terhadap Bone yang kemudian dicatat dengan sangat lengkap. Menuliskan tentang sejarah Bone, Perjanjian Bongayya, Benteng, Nama pasukan, jumlah logistik dan obat-obatan bahkan struktur Kerajaan Bone. Tulisan ini mengutip buku tersebut tentang bagaimana pembagian wilayah kerajaan Bone saat itu.


Peta Bone 1860


1. Citta
- Lempong, Oewoengae, Belawa Kampieri, Tjientjo, Data, Tallo, Mardawala, Barang

2. Bone Tangnga
a) Palakka -- Cinannung, Pasempe, Oerang (TellumpanuaE)
b) Awampone -- Paccing, Matuju, Jaling, Cumpiga, Unra (LimampanuaE)
c) Cina -- Kampoeboe, Oela, Pau, Walenrieng, Boeki, Ladjoe, Pationgie (Attanga-la)
d) Barabo -- Wawolangie, Cinnong, Menegaloeng,Lampoko, Batjo (Awanga-la)

3.Adjanga-la of liliriadja
a) Pitu Pajung Tanre -- Mampu, Sailong, Timurung, Amali, Ulaweng, Bengo, Ponre
b) LimampanuaE -- Otting, Lanca, Ulo, Palongkie, Tadjong
c) PatangkaiE -- Mampu riaja, Mampu riawa, Kung, Sijelling
d) TellumpanuaE -- Soera soera, Alinge, Teamusu
e) Lappariadja (Annange Bila Bila) -- Liboerang, Matjera, Bulu, Tea, Tjempaga, Bariengang
f) PattampidangE -- Lamontjong, Sanrego, Teko, Beroe
g) Annange Bila Bila ri Laoe -- Bollie, Mitjo, Santjerang, Sonrong, Todja, Saweng

4. Lilirilaoe
a) Sibulu -- Pattiro, Kaju, Cinnong, Sampobia, Kalibong, Panyili, Bulu, Balieng
b) Wawo Bulu ri awang -- Towang, Pationgie, Lemo, Pasaka, Soenaba, Ala, Cenrana
c) Tellu Limpo ri awang -- Mara, Salangketo, Tonro
d) Awang Tangka -- Meroe, Salomekko, Cina, Patiempeng, Bulu Tana, Cani, Gona

Melle, Padjakka, Karalla, Apala, Bulu, Awo, Kawarrang, Cellu, Biru, Balakang, Bulu, Maloi, Madoeri, Soga.

Berdasarkan peta Bone 1860, wilayah Bone di utara berbatasan dengan Wajo di Sungai Walennae hingga Danau Tempe yang berarti Pammana, Lagosi, Liu, Wage, Sompe dan Ugi masuk Bone. Namun Lamuru malah berdiri sendiri tidak masuk wilayah Bone.

Perang, dalam tradisi Bugis Makassar


....the Bugis Makassar sources structure the motivations for warfare around cultural concepts of shame (siriq), commiseration and solidarity (pesse/pacce), and on the maintenance or restoration of proper relationships wthin the human community and between states....

L. Andaya


Perang, adalah bagian dari dinamika sejarah manusia. Dimana pertentangan antara satu kelompok dengan kelompok lain yang tidak bisa diselesaikan secara diplomatis, kemudian berujung konflik bersenjata.


Sulawesi Selatan di masa lalu, pernah mengalami banyak peperangan. Namun, ada kekhasan yang didasari oleh kebudayaan setempat. Seperti yang dikatakan Andaya, motivasi Siriq dan Pesse/Pacce adalah motivasi utama. Meski dibalik itu terdapat kepentingan dominasi politik dan kepentingan ekonomi. 


Akan tetapi, perang di Sulawesi Selatan di masa lalu, tidak melulu disebabkan dorongan ekonomi politik. Terkadang ada perang yang disebabkan hal yang mungkin dianggap aneh. Yaitu syarat diterimanya sebuah lamaran.

Tradisi Bugis Makassar tidak memulai perang bila tidak dideklarasikan terlebih dahulu. Perang kilat (Blietzkrieg) ala Jerman atau serangan mendadak Jepang ke Hawaii adalah contoh perang modern yang tidak dikenal di masa lalu. Deklarasi perang ditandai dengan dikirimkannya pernyataan dari satu pihak yang disebut Timu-timu. Pesan singkat berisi pernyataan akan menyerang satu pihak ke pihak lain yang dikirimkan Timu-timu.

cek :
Para ksatria, pejuang, dipanggil melalui Bila bila musu yang berisi waktu dan tempat akan diadakannya peperangan. Pada saat itulah diadakan prosesi Mangngaruq yaitu sumpah setia pada pimpinan. Tak jarang, diadakan prosesi Macceraq yaitu pelumuran darah kepada Bate atau bendera/panji perang. Dengan harapan diberi kemenangan.

Sisi Mistis dan Metafisika pada Perang
Perang dalam tradisi Bugis-Makassar, tidaklah sekadar persoalan kuantitas dan kualitas pasukan. Bukan pula sekadar ragam senjata yang digunakan. Seperti tombak, alameng, sinangke, bangkung, tappi/gajang/sele, badiq/kawali,seppu dan sebagainya. Tetapi juga persoalan metafisika. 

Contoh Tombak yang digunakan komandan pasukan

Senjata, dalam hal ini Parewa Bessi/Polobessi, bukan sekadar tajam dan bisa difungsikan. Akan tetapi terkadang ditambahkan zat zat tertentu agar lebih beracun (mausso). Sissiq atau karakter dasar senjata sangat dipertimbangkan. Bessi Malela, sangat umum digunakan dalam peperangan.

Pappoq, sejenis siluman wanita, terlibat dalam perang 1859. Picunang, adalah sebuah ilmu mistik. Dimana peluru hanya diletakkan di tangan. Kemudian dirapal mantra dan ditiup ke peluru. Peluru itu akan terbang mencari sendiri sasarannya. Sementara Kulawu juga digunakan, khususnya Kulawu Bessi agar tidak mempan senjata. Atau Kulawu wai (air), agar luka dapat cepat menutup sebagaimana air.

Dalam sebuah tradisi tutur, tombak yang berlubang di tengahnya, digunakan dalam menyeleksi pasukan yang akan diberangkatkan. Komandan pasukan memegang tombaknya kemudian melihat pasukannya dari celah lubang pada tombaknya. Bila seorang pasukan terlihat tak lengkap anggota tubuhnya, maka ia dilarang pergi perang. Sebab diyakini yang bersangkutan akan tewas pada perang nantinya.


Medan Pertempuran
Perang antar kerajaan berarti ada jarak yang harus ditempuh sebelum terjadi pertempuran. Oleh karena itu, dibangunlah kubu yang berfungsi sebagai tempat peristirahatan sebelum pertempuran dimulai. Tampakuku.atau kubu, dibangun ditempat strategis dan biasanya tidak jauh dari sungai, agar memudahkan penyerangan dan memuat peralatan tempur seperti meriam serta logistik pasukan.

Tampakuku ini dibuat dari kayu dan dipersenjatai dengan meriam kaliber kecil yang disebut dengan Lela Rentaka. Tampakuku tidak dibuat sebagai bangunan permanen. Ia dibangun dengan cepat. Bila kondisi terdesak, Tampakuku ini juga bisa dipindahkan dengan cepat sebagai bagian dari taktik perang.

Pasukan penyerang akan meninggalkan Tampakukunya dan bertemu dengan pasukan lawan yang biasanya berada di bentengnya. Pada pertempuran, biasanya komandan akan berhadap-hadapan dengan komandan musuhnya. Begitupun dengan pasukan. Peperangan akan diakhiri apabila ada komandan lawannya tewas.

Ilustrasi Perang Makassar 1667-1669. Nampak penggunaan Sumpit beracun


Pasca Perang
Perang baru dikatakan berakhir, bila ada upacara resmi. Pihak kalah akan Ripabbua Tappi yaitu menyerahkan keris emas pada pihak pemenang. Sebagai simbolitas pengakuan akan kekalahan. Selain itu, pihak kalah perang akan membayar Sebbu Kati yaitu denda perang. Menyerahkan sepasang gelang, sarung dan benda benda lainnya.

Pada pihak yang dianggap setara, perang diselesaikan dengan sebuah perjanjian atau Maqkuluada. Ditandai dengan di letakkannya pusaka kerajaan dua belah pihak secara berdampingan.

Gerakan Sosial I Tolok Daeng Magassing (Resensi Buku)

Inai lampaentengi siri na paccena Gowa kataena pattujungku naparenta balanda 
(Somba Gowa)
Inakke pa Sombangku lappassamma ammayu kabayaoja sibatu 
(I Tolok Daeng Magassing)

Siapakah gerangan yang akan menegakkan harkat dan martabat Gowa, 
sebab saya tak sudi dijajah Belanda (Somba Gowa)
Sayalah tuanku yang bersedia sebab hamba hanya sebutir telur (I Tolok Daeng Magassing)


Kekalahan Gowa dalam ekspedisi militer Belanda 1905, menyebabkan salah seorang komandan angkatan bersenjata Gowa, melakukan perlawanan. I Tolok, demikian nama lahirnya. Ia memiliki paddaengan yaitu Daeng Magassing. Daeng Yuseng, petani dari Jeneponto mengatakan bahwa I Tolok berasal dari Jeneponto, tepatnya di Kampung Tolo. Dia adalah perampok yang suka membantuk orang kecil. Mappaseleng Daeng Magau, salah seorang pasinrilik mengatakan, I Tolok berasal dari Polongbangkeng. Sedangkan Dora daeng Bali dan Baharuddin Daeng Kio mengatakan I Tolok adalah orang yang berasal dari Limbung (Bajeng). Poelinggomang mengatakan I Tolok berasal dari Limbung (Bajeng) yang sebelum ekspedisi militer (1905) menjabat sebagai komandan pada salah satu seksi pertahanan Kerajaan Gowa bagian selatan (hal.64). Ada juga pendapat mengatakan bahwa I Tolok berasal dari Polombangkeng (Takalar)
Sejak tahun 1906, terjadi beberapa tindakan perampokan bersenjata (bedil) di bekas wilayah onderafdeling Gowa (hal 52). Pemerintah Belanda menduga perampokan ini hanya kriminal belaka untuk memenuhi kebutuhan ekonomi. Belum ada pandangan yang menilai bahwa gerakan tersebut sebenarnya adalah bentuk perlawanan terhadap Pemerintah Belanda. Salah satu pemimpin "perampok" pada saat itu adalah I Tolok.  
Sebelum mangkat, Somba Gowa Sultan Husain meminta pada I Tolok agar melanjutkan gerakan perlawanan. Untuk itu, I Tolok diberikan sejumlah bedil, peluru, amunisi dan bahkan legitimasi pada rakyat untuk memimpin perlawanan.

Tahun 1913, terjadi penyerangan terhadap I Tolok dan pengikutnya. Namun berhasil lolos. Nanti di bulan September 1914, I Tolok kembali melanjutkan gerakannya. Ia didukung pengikutnya antara lain I Macang (cucu Ishak Manggabarani Tumabicara Butta Gowa/Arung Matowa Wajo), Abasa Daeng Manromo Karaeng Bilaji (saudara tiri Sultan Husain Somba Gowa), I Paciro Daeng Mapata (Mantan duta kerajaan Gowa untuk Bone), Daeng Tompo dan Daeng Manyengka (saudara regen polombangkeng, halaman 55)

Meski demikian, Belanda terus melanjutkan tekanannya. Tanggal 19 Oktober 1914, Belanda menyergap I Macang Daeng Barani sehingga gugur ditembak Belanda. Hal ini membuat ayahnya, I Kitti Pattalallo menyusun rencana balas dendam terhadap Belanda. Untuk itu, ia menyampaikan ke ayahandanya, Ishak Manggabarani. Namun, tidak langsung menyetujui dan menganjurkan agar menanyakan ke Belanda sebab musabab ditembaknya I Macang (hal 72). Namun tidak diperoleh jawaban yang memuaskan dari pihak Belanda.

Juni 1915, I Kitti Pettalallo dan Karaeng Manjalling mengadakan pertemuan dengan I Tolok di Manuju. I Tolok bersedia memenuhi permintaan keluarga I Macang. Untuk itu, diberi dukungan, senjata dan amunisi. Dilanjutkan dengan pertemuan lanjutan dirumah bekas regen Manuju. Hadir dalam pertemuan tersebut kelompok I Tolok, regen Tanralili dan para pengikutnya, kepala kampung Bontoparang, Tesse, Mangepong, Kunjunglata, Parangloe, dan sejumlah bangsawan dan beberapa kampung lainnya. Diperkirakan sekitar 100 orang yang hadir (hal. 77)

Dalam pertemuan tersebut, disepakati I Tolok sebagai pemimpin perlawanan terhadap Belanda. Kemudian I Tolok diberi hak untuk menguasai sebagian ornamen kerajaan Gowa (badik Ta'bule'leng) sebagai tanda pengabsahan. Upacara penjemputan ornamen tersebut secara adat

Setelah melakukan aksinya,I Tolok membagi-bagikan hasil rampokannya pada rakyat kecil. Selain itu, I Tolok juga menyerang posisi Belanda, serta mata-mata Belanda. Aksinya tidak lagi dinilai sebagai kriminal belaka. Tetapi merupakan bentuk perlawanan terhadap Belanda.

Untuk menumpas perlawanan I Tolok, Belanda menggunakan beberapa cara. Pertama, meningkatkan kewaspadaan dan menggunakan pejabat bumiputera untuk menggerogoti pengaruh I Tolok di masyarakat. Kedua, menggunakan mata-mata. Ketiga, membangun jalur kereta api Makassar-Takalar untuk memudahkan mengangkut pasukan. Keempat, menjelek-jelekkan I Tolok dengan istilah "perampok". Terakhir, operasi militer (hal.90-94).

Delapan kompi pasukan Belanda didatangkan dari Jawa di Juli 1915. Namun operasi militer Belanda nanti berhasil setelah dua anak buah I Tolok membocorkan lokasi persembunyiannya. Dalam serangan itu, I Tolok bersama pengikut setianya, I Rajamang gugur.
Judul       : Bandit Sosial di Makassar Jejak Perlawanan I Tolok Dg. Magassing
Penulis    : M. Nafsar Palallo
Penerbit   : Rayhan Intermedia, Makassar
Tebal       : xi + 129 halaman
Terbitan Pertama ; Maret 2008