POLITIK UANG

Nampaknya transisi demokrasi kita akan berkepanjangan. Betapa tidak, cita-cita mulia reformasi untuk menegakkan demokrasi sepertinya mengalami ganjalan berat. Salah satu faktor adalah fenomena politik uang tengah menjamur di masyarakat.

Pemilih terdiri dari beberapa jenis. Pertama pemilih tradisional, yaitu pemilih yang memilih calon berdasarkan ketokohannya belaka. Biasanya ketokohan yang terwariskan secara genetik. Tipe ini cenderung tunduk patuh pada ketokohan seseorang. Kedua pemilih pragmatis, yaitu yang memilih semata-mata untuk kepentingan sesaat. Dan ketiga adalah pemilih cerdas, yang memilih berdasar visi misi,track record serta secara sadar memilih calonnya.Pada tulisan ini, yang akan disinggung adalah pemilih pragmatis.


Beberapa orang masyarakat yang pernah kami wawancarai tentang pandangan mereka pada pemilu. Responden terkesan apatis, dalam artian bahwa, tidak ada signifikansi yang berarti antara pemilu dan kesejahteraan mereka. "Siapapun yang naik, kita tetap miskin nak : Kata seorang responden". Tentu pada kesempatan ini, penulis tidak sedang melakukan penelitian secara statistik. Hanya sekedar wawancara biasa.

Responden tersebut melanjutkan bahwa, ketika calon yang terpilih telah menjabat, mereka merasa dilupakan. Mungkin responden ini kurang paham tentang kesibukan. Namun yang bisa saya pahami adalah kerinduan responden pada ketulusan persahabatan. bukan keakraban temporer menjelang pemilu belaka. Namun persahabatan yang berlanjut hingga 5 tahun dan lebih berikutnya.
Dua faktor ini yaitu 1)Tidak didapatkannya signifikansi antara pemilu dan kesejahteraan dan 2)Keakraban bersifat temporer hanya menjelang pemilu, yang terkesan tidak sejati. Sehingga menyuburkan apatisme terhadap pemilu. Ini menjadi lahan yang subur bagi pohon politik uang untuk bertumbuh dengan cepat. Alasannya sederhana, "kapan lagi kita ambil uangnya, toh kalau sudah duduk nalupa meki dan tetap ki juga miskin" : Sergah salah seorang responden yang pernah saya wawancarai.

Akhirnya lahirlah pendapat bahwa, siapa yang memberikan uang, dialah yang dipilih. Ketika calon menutup pendekatannya pada pemilih dengan bertanya bahwa apakah pemilih bersedia memilih dirinya? Maka pemilih dengan mudahnya menjawab : "Ko degaga caui" Maksudnya kalau tidak ada yang mengalahkan jumlah amplopnya.

Serangan fajar, sebuah istilah yang terinspirasi pada serang umum 11 maret di Yogya. Sebuah idiom yang berkaitan dengan patriotisme melawan kolonial. Sekarang telah bergeser maknanya menjadi ajang politik uang. Tidak jarang, kelompok-kelompok masyarakat berkumpul disaat dini hari hingga menjelang pencoblosan dipagi hari, hanya untuk menanti tim membagikan uang padanya. Nampak jelas bahwa pemilih kurang memahami visi misi calon, apalagi punya idealisme tentang kepempimpinan 5 tahun berikutnya. Yang jelas adalah, apatisme menghadapi 5 tahun pengelolaan negara ini yang dibayar dengan kesimpulan pendek yaitu politik uang. Sepertinya politik uang telah menjadi patologi sosial di masyarakat kita hingga menjadikan demokrasi kita berjalan tertatih dan pincang.

Menjadi tugas semua pihak, pemerintah, pengawas pemilu, penyelenggara pemilu, Ornop, parpol dan peserta pemilu untuk mengawal demokrasi sesuai jalurnya. Minimal dengan mengurangi fenomena politik uang. Bagaimana caranya ? Tentu butuh kajian mendalam sesuai dengan kewenangan masing-masing (arm)

Baca juga :
Mengenali Jenis-Jenis Pemilih pada Pemilu
(Masih) Politik Uang
Gagap Demokrasi Masyarakat Post-Tradisional


EmoticonEmoticon