Pesan Leluhur untuk Lelaki yang Hendak Menikah

Tulisan ini saya dedikasikan kepada 
Para lelaki yang berani mengambil sikap untuk menikah
Namun agak gegabah, atau tidak sempat tanya-tanya sama neneknya
atau pun sekedar ingin menambah referensi sebelum menikah

----0000----

Mullefi maccenneri dafurengnge wekka fitu
Nanti setelah engkau mampu mengelilingi dapur tujuh kali

----0000----

Bagi seorang jejaka yang hendak menikah, ia akan menyampaikan pada orang tuanya. Namun, kalimat yang sering terdengar ditelinga lelaki Bugis adalah Mullefi macceneri dafurengnge wekka fitu yang secara bebas berarti "Nanti setelah engkau mampu mengelilingi dapur sebanyak tujuh kali".

Orang-orang tua di Bugis, senantiasa memperhatikan perkembangan anaknya. Bagi remaja putri, mereka diajarkan menenun sebagai latihan kesabaran, ketelitian, dan kecermatan, serta nilai estetika. Urusan dapur, misalnya masak pun menjadi hal yang wajib. Namun bagi remaja putra, bukannya diajar urusan dapur, namun diharuskan mampu "mengelilingi dapur tujuh kali".
Mengingat karakter orang-orang dulu biasanya menyembunyikan makna dibalik teks, maka kalimat tersebut tidak semestinya ditafsirkan secara langsung. 

Dafureng = Dapur, dalam literatur mengalami pengembangan makna. Sebagai contoh kata "Mallekke Dafureng" yang berarti memindahkan dapur. Kata tersebut digunakan terhadap orang-orang yang tidak menyepakati pemimpin/sistem yang berlaku dan memilih meninggalkan kampung halamannya untuk mencari penghidupan yang lebih baik.

Demikian pula pesan-pesan lontara yang menunjukkan tentang pemimpin yang tidak adil disebut dengan kata "Natuoni serri dafurengnge" = Telah tumbuh rumput di dapur. Menunjukkan asap dapur tak lagi mengepul atau tak ada aktifitas di dapur dikarenakan gagal panen. Jadi, dapat disimpulkan kata "Dafureng" tidak hanya bermakna sebagai ruang dalam rumah tempat memasak dan menyajikan makanan. Namun makna itu berkembang lebih luas menjadi kehidupan.

Kembali ke kalimat diatas, mengelilingi dapur, pada konteks ini dapat dipahami sebagai "memahami kehidupan". Dipertegas dengan angka tujuh (7), mengelilingi dapur dimaknai dengan "benar-benar memahami kehidupan, atau seluk beluk persoalan rumah tangga. Angka tujuh, adalah angka kesukaan orang Bugis, digunakan untuk menunjukkan beberapa hal. Pertama tentang "sesuatu yang banyak". Kedua "sesuatu yang tinggi", Ketiga "selaras, sesuai, tepat, pas".

Mampu mengelilingi dapur tujuh kali, berarti mampu memahami seluk beluk persoalan rumah tangga dengan sebaik-baiknya secara tepat. 

Laki-laki sebagai calon suami, berarti calon kepala rumah tangga. Ia harus mampu menjadi seorang suami yang baik, ayah yang baik, dan tentu kepala rumah tangga yang baik. Sehingga, keluarga yang dibina (dari awal pernikahan) senantiasa butuh pemikiran, sikap, dan tindakan yang tepat dari seorang calon pengantin laki-laki.

Sebelum menikah, biasanya sang laki-laki diajarkan beberapa hal oleh ayah, paman atau keluarganya yang laki-laki. Biasanya tentang ritual pernikahan, malam pertama dan tindakan seorang suami.

  • Kemapanan Ekonomi
Suami bertanggung jawab untuk menafkahi keluarga. Oleh sebab itu, sudah sewajarnya sebelum menikah, laki-laki telah memiliki penghasilan yang dapat digunakan untuk menafkahi keluarganya. Kemapanan ekonomi juga berarti kesiapan untuk menyelenggarakan pesta pernikahan dan hal-hal lain, seperti mahar, uang naik, biaya pernikahan dan sebagainya.
Dengan kemapanan ekonomi tersebut, menjadi jaminan agar dapur tetap mengepul.
  • Kesiapan Mental
Dalam menjalani kehidupan rumah tangga, tak jarang muncul riak-riak antara suami dan istri. Jika tidak siap mental, bisa jadi pertengkaran dapat berujung pada perceraian. Oleh sebab itu, seorang calon suami biasanya diajarkan untuk bisa mengendalikan emosinya. Terutama tahu waktu, tempat dan kadar yang tepat jika emosi. Seringkali disebutkan orang tua bahwa "ajja muewai afie na afi" = jangan melawan api dengan api. Maksudnya, apabila istri marah, hendaknya sang suami lebih bersabar.
  • Pengetahuan Agama
Sudah sepantasnya seorang suami membimbing istrinya dalam beragama. Tentu, seorang calon suami mesti punya pengetahuan agama yang cukup. Mulai dari persoalan fikih hingga makrifat. Pengetahuan agama itu juga hendaknya teraktual dalam sikap dan prilaku seorang calon suami tersebut. Dengan demikian, rumah tangga yang dibangun berlandaskan fondasi agama.
  • Pengetahuan Kesehatan
Dalam kehidupan sehari-hari, tak jarang ada kecelakaan-kecelakaan kecil. Seorang calon suami, hendaknya mampu melakukan pertolongan pertama terhadap kecelakaan kecil itu sebelum dibawa ke dukun atau dokter. 
Pekerjaan istri di dapur, terkadang menyebabkan otot-otot sang istri butuh disegarkan. Seorang calon suami mestinya memberi perhatian pada istrinya kelak dengan membantu meringankan dengan pijitan-pijitan atau hal-hal lain yang dapat menambah sikap saling pengertian pada mereka berdua.
  • Pengetahuan Assikalabineng
Seorang calon suami, hendaknya mengetahui tatacara, adab, etika hubungan suami istri. Mulai dari waktu-waktu yang dianjurkan dan waktu yang kurang baik, teknik seks mulai dari foreplay hingga finishing, merekayasa keturunan, pappelomo (ilmu untuk memudahkan istri melahirkan) dan sebagainya.
Calon suami yang kurang cerdas di ranjang, disindir melalui pantun (galigo) satire yaitu :



Sebagai penutup dari tulisan sederhana ini. Seorang calon suami hendaknya menyeimbangkan antara semangatnya untuk menikah dengan kapabilitas dan kompetensinya sebagai seorang laki-laki. (arm 2013)

8 komentar

semua butuh persiapan yang matang, tetapi jangan juga smpai menunggu smpai sempurna untuk menikah. Menikah segera dan semua akan sempurna.

Setelah baca tulisanta'. Jadi pengen cepat pulang ke rumah ketemu amma'na, hehehehe.
Mohon dijelaskan rekayasa keturunan itu maksudnya bagaimana, Daeng?

tabe'

Komentarnya nda muncul ya, Daeng?

skalian nitip link http://caritacampurrattu.blogspot.com/

terima kasih

Mantap.... mencerahkan...
Edi Saputra P

bermanffat ilmunya, Daengku....tetap semangat...ditunggu sellau tulisan ta'


EmoticonEmoticon