AMW ke-30 La Salewangeng To Tenriruwa

Tags

Terpilih menjadi Arung Matowa ke-30 ditahun 1715, La Salewangeng To Tenriruwa menggantikan La Tenriwerung. La Salewangeng menghadapi tugas yang sangat berat, yaitu membangun Wajo yang porak-poranda pasca perang. Sebelumnya, gelombang migran Wajo telah tersebar dibeberapa tempat di nusantara. Oleh La Salewangeng, ia mengelola hal tersebut menjadi jaringan bisnis antar pulau yang sukses. Tercatat adanya kapal dagang Wajo yang beroperasi dipelabuhan utara Jawa, Kalimantan, Sumatera, dan Singapura (Tumasek).

Untuk menopang hal tersebut, di bangun semacam koperasi atau bank untuk meminjamkan modal pada pengusaha, yang hasil keuntungan dagang tersebut digunakan untuk membeli mesiu dan peralatan perang. Di tiap limpo (distrik) dibuat Geddong yaitu gudang senjata. Rakyat dilatih tembak menembak. Pengadaan peralatan perang juga dilakukan di zamannya melalui perdagangan antar pulau yang massif.

Bukan hanya itu, dibuat Sefe' yaitu semacam saluran air yang digunakan untuk mengaliri persawahan untuk meningkatkan produksi pertanian.

Sefe' = Saluran Air


Boleh dikata, Arung Matowa yang paling sukses dalam sejarah Wajo adalah La Salewangeng To Tenriruwa. Selama kurang lebih 20 tahun memerintah, La Salewangeng berhasil mengangkat perekonomian rakyat Wajo sehingga terbentuk lapis menengah yang mapan. Beberapa ratus tahun kemudian, stigma Orang Wajo sebagai Pedagang adalah hasil dari kebijakan ekonomi di eranya.

Mengawal pembangunan ekonomi selama 20 tahun akhir membuat Wajo siap untuk berperang. Namun ia sudah terlalu tua untuk bertempur. Di tahun 1736 sehingga ia mengutus Arung Ta La Dalle (anggota Arung PatappuloE dari limpo Talotenreng) untuk memanggil La Maddukkelleng, kemenakannya untuk menjadi Arung Matowa menggantikannya.

Makam La Salewangeng AMW30 (1715-1736)


EmoticonEmoticon