The Last Angkuru Bissu

Terhampar Widang Sao kain putih panjang. 
Bagai titian suci yang menyambut sang mempelai. 
Dituntun dengan Lawolo lalu dimelewati berbagai prosesi, 
seperti Ri pattudduq umpa sikati dan Ri pallejjaq tana menroja. 
Sementara Bissu lain menari diiringi tabuhan Genrang Tellu
Ditutup dengan sebuah dialog antar bissu yang menjelaskan bahwa sang mempelai bukanlah keturunan I La Bulisa. 
(Cuplikan Prosesi Pangadereng Bissu)


Cucubanna, berisi beras bertih. Salah satu perlengkapan ritual Bissu.
Sebagai simbol penyambutan (dok. pribadi)

Sedikit Tentang Bissu (1)
Demikian gambaran singkat sebuah prosesi adat yang melibatkan Bissu. Mallawolo membimbing mempelai menuju pelaminan. Dalam dialog yang berbahasa Bissu pada prosesi tersebut. Ada tanya jawab yang berisi tentang siapa sang mempelai, apakah keturunan Batara Guru atau I Labulisa (2).

Lawolu, kain yang dipilin. Ujungnya masing-masing dipegang oleh Bissu dan Mempelai (dok.pribadi)
Memang Bissu sangat terkait dengan Ilagaligo (3). Mulai dari episode diisinya dunia dunia tengah (ale kawa) dari keturunan dewa (PatotoE) yaitu Batara Guru yang ditemani oleh Bissu yang ditugaskan merawat pusakanya. Hingga We Tenriabeng. Saudara kembar La Maddukkelleng Opunna Ware Sawerigading, tokoh utama dalam epos Ilagaligo. Disebutkan, Sawerigading ingin menikahi saudara kembarnya, namun ditolak. Lalu ditawarkan sepupu mereka, We Cudai di negeri Cina. Lalu perjalanan melewati lautan dan perang laut pun dilakukan demi cinta. We Tenriabeng kemudian Mallajang. Naik ke Botinglangi atau kayangan. Di sana, ia menikah dengan La Remmang ri Langi. Kelak setelah pernikahannya, mereka berdua memberikan bantuan kesaktian pada Sawerigading saat kewalahan berperang.

cek : Mallawolo 

Bissu juga disebutkan hadir di era awal berdirinya kerajaan Bone. Saat kondisi Sianre Bale (4) atau saling memangsa laksana ikan, sangat dibutuhkan kehadiran seorang pemimpin yang adil dan mampu menciptakan ketentraman. Maka nampaklah seseorang yang dianggap To Manurung. Orang itu adalah pengawal To Manurung, dan dia adalah seorang Bissu.

Dalam perjalanannya, Bissu dipercaya memimpin ritual, menjaga arajang atau regalia kerajaan, dan mengelola pesta pernikahan. Pada kondisi perang, Bissu menjadi pengawal Raja. Melindungi jiwa dan raga Raja beserta keluarganya. Peran Bissu begitu dominan hingga Islam diterima secara resmi di Sulawesi Selatan. Parewa Saraq (5) diberi peran dibidang keagamaan sedang Bissu dibidang adat istiadat. 

Tidak semua daerah di Sulawesi Selatan memiliki Bissu. Selain Luwu (dahulu) dan Bone, Bissu juga ada di Soppeng dan Segeri Kabupaten Pangkep. Termasuk juga Pammana. Sebuah kerajaan kecil di wilayah Wajo. Dulunya disebut sebagai kerajaan Cina. Tersebut seorang Angkuru Bissu ia dikenal dengan nama Hj. Jannah. Ia bersama komunitas Bissu masih eksis hingga hari ini.

Hj. Jannah, The Last Angkuru
Menurut pengakuannya, hanya dua daerah yang memiliki Angkuru. Yaitu Pammana Wajo dan Barru Ketika ditanya apa itu "Angkuru", beliau menjawab singkat : "Natinroi bissue". Yang berarti yang mengikuti para Bissu.(6). Sebuah istilah yang sederhana untuk menjelaskan pemimpin Bissu Pammana Wajo.


Hj. Jannah, Angkuru Bissu Wajo (Dok.pribadi)
Sebelum menjadi Angkuru, terlebih dahulu ia menjadi Angkuru Lolo. Semacam wakil dari Angkuru. Hal itu berlaku pada Angkuru sebelumnya. Ia menyebut beberapa Angkuru yang mendahuluinya antara lain Angkuru Melleq, Angkuru Sakka, Angkuru Labacondong, Angkuru Palesangi, Angkuru Sawwaleng, Angkuru Indo Ringgi. (7). Saat ini, Angkuru Lolo adalah Hj. Fera. Disebutkan bahwa Angkuru tidak pernah terputus sejak awal adanya Bissu. Sayang sekali tidak ada catatan yang menuliskan Angkuru pertama hingga terakhir.

Anggota Bissu dengan Panampa dikepalanya (dok.pribadi)
Dilantik menjadi Angkuru sekitar tahun 2008, ia terpilih secara aklamasi oleh para Bissu. Meski ada Bissu yang lebih senior. Selama menjadi Angkuru, Hj Jannah selalu merawat Gau-gaukeng. Baik perawatan secara fisik, maupun ritual secara berkala. Gau-gaukeng itu kebanyakan diperoleh dari Angkuru sebelumnya yaitu Angkuru Melleq. Menurutnya (8), Angkuru Melleq rutin merawat gau-gaukeng tersebut di malam Senin, malam Rabu dan malam Jumat. Meski sibuk, Hj. Jannah tetap merawat gau-gaukeng tersebut meski tidak serutin pendahulunya, Angkuru Melleq.

Sebagai Angkuru yang membawahi sekitar 30-an Bissu. Hj. Jannah berkewajiban membimbing anggotanya. Namun ia membatasi diri hanya sekadar mengingatkan dan menyampaikan saja. Bukan menekan, tambahnya. Angkuru Hj. Jannah sangat fasih membaca naskah Ilagaligo yang beraksara lontara. Sebuah kemampuan yang makin langka di Sulawesi Selatan. Dalam hal membimbing Bissu anggotanya, sampai saat ini baru satu orang yang mengikuti jejaknya dalam kefasihan membaca Lontara.

Kehidupan Sosial dan Ekonomi 
Perubahan struktur sosial politik dalam kurun satu abad terakhir, berdampak pada kehidupan para Bissu. Dulu mereka dijamin keberlangsungannya oleh pihak kerajaan. Setelah kerajaan bubar dan melebur ke Republik Indonesia, mereka dituntut bisa bertahan hidup dengan berbagai tekanan.

Mungkin para Bissu di Sulawesi Selatan adalah komunitas yang paling merasakan dampak dari peristiwa DI/TII. Betapa tidak, sistem kepercayaan yang cenderung sinkretis ditambah peran sebagai gender ke-5, menjadikan Bissu sebagai salah satu target Operasi Toba. Operasi yang dilancarkan DI/TII tahun 1955 untuk menegakkan Islam.

Tutur yang terwariskan adalah "Wettunna ikellu bissue". Ketika para Bissu dipaksa bercukur. Memang dahulu para Bissu memiliki rambut panjang menyerupai perempuan. Para Bissu dipaksa bercukur agar berambut pendek kembali menjadi lelaki.

Namun dengan berbagai keterbatasan, komunitas Bissu yang tersebar termasuk di Wajo ini masih bisa bertahan. Para Bissu berprinsip "deq nabotting nabbija" yang berarti tidak menikah tetapi berkembang biak. Seolah ingin menjelaskan bahwa para Bissu akan terus eksis sepanjang zaman.

Untuk bertahan hidup, para Bissu kadang bertani. Mereka hidup dengan bertanam palawija. Seperti jagung dan kacang-kacangan. Sesekali saat acara pengantin, jasa para Bissu dibutuhkan. Baik sebagai Indo Botting (9), Jennang (10), maupun sebagai pelengkap Pangadereng (11). Sementara, event budaya di daerah juga sering melibatkan para Bissu.

Angkuru Hj. Jannah dalam sebuah acara Mappadendang (dok.pribadi)
Belakangan ini, jasa Bissu makin dibutuhkan dalam acara pernikahan. Beberapa pejabat yang menikahkan putra-putri mereka, melibatkan peran Bissu. Testimoni dari tokoh besar beragam, namun semuanya positif. Tentu hal ini membanggakan para Bissu, terutama sang Angkuru.

Tidak disebutkan berapa nilai jasa yang ditetapkan Bissu saat tampil. Terkadang besar maupun kecil, tergantung kemampuan yang dibayarkan oleh pengguna jasa. Biasanya ia diberi uang jasa setelah selesai penampilan. Akan tetapi ada juga yang sampai sekarang masih ngutang.

Diperhatikan pemerintah dan tokoh adat, tidak berseberangan dengan pihak lain. Sudah cukup membahagiakan Angkuru Hj. Jannah dalam memimpin Bissu Pammana Wajo. Nampaknya sejauh ini, sang Angkuru puas dengan apa yang ada. Tidak banyak harapannya. Salah satunya, agar timing yang diatur panitia saat tampil tidak bersamaan dengan waktu shalat.

Gender Bissu Pammana di Ruang Sosial
Pelras menulis : "Orang Bugis menerapkan prinsip kesetaraan gender dalam sistem kekerabatan bilateral mereka, di mana pihak ibu dan bapak memiliki peran setara guna menenutukan garis kekerabatan, sehingga mereka menganggap laki laki maupun perempuan mempunyai peran sejajar (walaupun berbeda) dalam kehidupan sosial.(12)

Di Sulawesi Selatan, khususnya orang Bugis. Perempuan ditempatkan pada posisi terhormat. Perempuan adalah Siriq (13) yang harus di jaga. Namun tidak berarti perempuan tidak mempunyai ruang sosial dan politik yang setara. Di beberapa kerajaan di Sulawesi Selatan di masa lalu, banyak Ratu yang memimpin. Bahkan tokoh pendiri kerajaan yang setengah mistis pun banyak yang perempuan.

Masih menurut Pelras, ia membagi 5 jenis gender di Sulawesi Selatan. Selain perempuan dan laki-laki, ada Calalai, Calabai dan Bissu. Calalai adalah perempuan yang berprilaku seperti laki-laki. Sebaliknya Calabai adalah laki laki yang berprilaku perempuan. Dari sini dapat dipahami bahwa Calabai berbeda dengan Bissu. 

Dalam hal pengorganisiran, komunitas Bissu di Wajo dipimpin oleh Angkuru Hj. Jannah. Sedang untuk Calabai atau waria punya lembaga sendiri yang dipimpin oleh Hj, Agung. Sesekali kedua lembaga ini saling mengundang. 

Ketika ditanyakan tentang bagaimana perlakuan masyarakat terhadap para Bissu, Hj Jannah menjelaskan bahwa selama ini tidak ada pelecehan maupun perlakuan yang kurang menyenangkan. Dibandingkan dengan Calabai atau Waria, Bissu diperlakukan lebih terhormat (14).

Sebagaimana Bissu lainnya. Terkadang mereka memiliki pasangan sementara. Seorang laki laki yang mereka jaga dan pelihara. Di istilahkan dengan To boto atau ane piara. Seorang Bissu yang memiliki ane piara bertanggung jawab memenuhi kebutuhan laki laki tersebut secara finansial. Hingga dinikahkan dengan perempuan. Ketika ditanyakan, bagaimana pendapat orang tua ane piara tentang "hubungan" dengan bissu. Sang Angkuru menyebut, justru orang tua senang karena si anak tidak kemana-mana lagi.

===<><><><>===

Catatan
(1) Didefinisikan secara umum sebagai pendeta agama Bugis kuno.
(2) I Labulisa, salah satu tokoh antagonis dalam ILaligo. Dikenal sebagai seorang pelayan yang haus kuasa yang mencuri simbol kebesaran Batara Guru demi menjadi raja.
(3) ILagaligo. Epos terpanjang didunia. Berisi tentang kosongnya dunia tengah (Ale Kawa) kemudian diisi oleh keturunan dewa dewa dari dunia atas (Botinglangi) dan dunia bawah (Uri liu). Dilanjutkan dengan cucu manusia pertama (La Tongelangi Batara Guru) yaitu Sawerigading berjuang untuk mendapatkan cinta We Cudai serta keturunan terakhirnya.
(4) Sianre Bale = saling memangsa laksana ikan, siapa kuat dia menang. Sebuah istilah dalam naskah Lontara untuk menyebut periode antara akhir Ilagaligo dan awal kedatangan Tomanurung pembentuk kerajaan Bugis akhir. Sebuah kondisi kacau tanpa pemimpin yang kuat
(5) Parewa Saraq = pejabat syariat. Terdiri dari Qadhi, Imam, Khatib, Bilal dan Doja. Berfungsi sebagai urusan keagamaan setelah kerajaan-kerajaan Bugis menerima Islam secara resmi sekitar awal abad ke-17
(6) Wawancara dengan Hj. Jannah, 7 Juli 2017
(7) Wawancara dengan Hj. Jannah, 7 Juli 2017
(8) Wawancara dengan Hj. Jannah, 7 Juli 2017
(9) Secara harfiah berarti ibunya pengantin. Orang yang bertanggung jawab mengurus calon mempelai.
(10) Secara harfiah berarti pemimpin bidang tertentu. Pada konteks ini adalah pemimpin yang mengurusi bidang konsumsi pesta pernikahan.
(11) Secara harfiah berarti aturan adat istiadat. Pada konteks ini adalah ritual adat yang melibatkan peran Bissu seperti yang dipaparkan diatas.
(12) Manusia Bugis, karya Christian Pelras (185:2006)
(13) Siriq berarti malu, harga diri, kehormatan, motivasi.
(14)Wawancara dengan Hj. Jannah, 7 Juli 2017

1 komentar so far

This comment has been removed by a blog administrator.


EmoticonEmoticon