PENGANTAR MEMAHAMI MITOLOGISASI TOKOH SEJARAH

Pada dasarnya, tiap zaman melahirkan tokohnya sebagai manusia besar. Individu yang memiliki pemikiran visioner, tindakan yang mempengaruhi masyarakatnya yang selalu dikenang sepanjang sejarah. Masyarakat setelahnya pun memujanya sebagai pelepas kerinduan akan sosok manusia sempurna pada konteks tertentu. Dalam artian bahwa, perlunya idola hadir pada masyarakat sebagai motivator yang terintegrasi dengan paradigma individu. Maka dengan adanya kondisi demikian, seorang tokoh sejarah yang telah meninggal puluhan,ratusan bahkan ribuan tahun lalu, akan tetap hidup dalam memori kolektif masyarakat.

Ketika masuk dalam kajian sejarah, maka terkadang terjadi kontroversi tentang seorang tokoh sejarah. Untuk memudahkan pemaparan, maka ada baiknya kita melihat skema berikut :



Tentu seorang individu (selain Tuhannya sendiri) lebih memahami dirinya dibanding orang lain, apalagi orang yang hidup ratusan atau ribuan tahun setelahnya. Aktivitas, perilaku, tutur kata dan tindak tanduk orang tersebut akan dicatat atau dituturkan. Secara umum, pencatatan sejarah (meski tidak terlepas dari subyektifitas penulis) dianggap lebih valid ketimbang tradisi tutur (yang lebih rawan terhinggapi subyektifitas penutur.

Seorang peminat atau penggali sejarah, (jika tokoh sejarah bersangkutan telah meninggal) maka akan menemukan skrip atau kisah tentang tokoh sejarah tersebut (yang sudah bercampur dengan subyektifitas penulis/penutur). Hal itu yang kemudian membentuk asumsi dasar terhadap tokoh sejarah tersebut. Biasanya sulit menemukan asumsi berimbang. Kalau tidak sekalian dipuja bak dewa, sekalian dicaci bak iblis. Kalau tidak sekalian ditutupi kekhilafannya (entah sengaja atau pura-pura tidak tahu), sekalian dihujat habis-habisan (seolah tak punya kebaikan sedikit pun).

Kita gunakan skema tersebut untuk menganalisis tokoh. Kita pinjam Kartini sebagai sampel.

1)Tentu Kartini yang lebih memahami dirinya ketimbang orang lain. Pada titik ini, Kartini sebagaimana adanya, tanpa ada tafsiran, tanpa ada asumsi. Asli Kartini.

2)Kita dapat gambaran melalui tulisan yang berisi gagasan atau perasaan Kartini yang terdokumentasikan. Kita juga bisa mendapat gambaran bagaimana ketokohan kartini melalui tradisi tutur saksi sejarah.Pada titik ini, terkadang bermain subyektifitas penulis/penutur. Bisa jadi penulis/penutur hanya menekankan atau mengulang sisi positif dan abai terhadap sisi negatif. Sebaliknya bisa jadi penulis/penutur yang mengangkat sisi negatifnya saja.

3)Melalui data yang terdokumentasi maupun tuturan tersebut (yang telah berat sebelah model penulisan atau penuturannya) diolah sedemikian rupa sehingga membentuk asumsi "Kartini" dalam benak seseorang. Tentu, akan berbeda Kartini sebagaimana dirinya, "Kartini" dalam dokumen, "Kartini" dalam kisah tutur, dan "Kartini" dalam benak seseorang.

4)Pada titik ini, ketika ditransformasikan pada ranah sosial, dimana ada proses hegemoni pemikiran sehingga membentuk mitologisasi. Hegemoni itu bekerja secara halus. Mulai dari bagaimana Mister Abendanon mengumpulkan surat Kartini (yang dianggap citra ideal perempuan hindia belanda) untuk dijadikan bacaan publik dalam bentuk buku. Lalu, melalui musik, Wr Supratman mengelola citra Kartini. Melalui rezim orba, lagu itu dipaksa untuk diajarkan disekolah untuk dihafal plus posternya dipasang didinding kelas (sampai sekarang kalau ada orang belajar memainkan alat musik, biasanya lagu pertama yang dimainkan adalah ibu kita kartini, do re mi fa sol mi do dst). Dilanjutkan dengan ritual tahunan tiap 21 April untuk bermode bak kartini dengan sanggul dan kebayanya. Dilanjutkan dengan cocologi Kartini, misalnya lomba lari maraton putri memperebutkan piala kartini (emang kartini suruh perempuan lari maraton?)

Pada titik ini, (kalau kita mau jujur dan obyektif) kita akan temukan ketimpangan antara KArtini selaku person, dan Kartini selaku mitos. Mitos ini bekerja dialam bawah sadar individu akibat proses hegemoni pemikiran. Sehingga memang perlu data-data historis yang cukup, analisa yang rasional, serta jiwa yang besar untuk menerima fakta apa adanya, untuk dapat terlepas dari belenggu mitos tersebut. Namun disisi lain, mitos itu mampu membangun kesadaran masyarakat untuk diarahkan sesuai kepentingan tertentu. Misalnya, pedagang konde dan kebaya akan mendapat keuntungan dari proses kebayaisasi dan kondeisasi tiap 21 April yang masyarakat digerakkan dengan mitologi kartini dalam alam bawah sadarnya.===>ARM<===


EmoticonEmoticon